Korupsi dan Fenomena Gunung Es

Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Pengurus Dewan Da’wah Bidang Pemikiran dan Ghazwul Fikri, Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Penangkapan Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof. Dr. Karomani (KRM) dalam Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK) telah mengagetkan banyak pihak. Karena pihak yang tertangkap seorang pimpinan suatu Perguruan Tinggi (PT). Umumnya, yang terkena OTT KPK biasanya mereka yang duduk di lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif, atau Partai Politik (Parpol). Namun kali ini pelakunya adalah seorang akademisi bergelar profesor. Merespon fenomena ini, pihak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) langsung meminta untuk menginvestigasi sistem PMB jalur Mandiri. Bahkan muncul tekanan publik untuk menghapus PMB Jalur Mandiri di semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) karena rawan penyimpangan. Kasus yang menimpa Unila ini jelas menggeser PT yang selama ini steril dari korupsi, dan kerap melakukan kritik atas penyimpangan kekuasaan. Namun saat ini PT justru menjadi bagian dari perilaku korupsi.

Sterilisasi Kampus dan Virus Korupsi

Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT-KPK) telah menggegerkan dunia kampus. Apalagi pelakunya seorang rektor bergelar akademik tertinggi, yakni Prof. Dr. Karomani (KRM). Bahkan tindak korupsi itu dilakukan secara berjamaah dengan melibatkan wakil rektor bidang akademik dan Ketua Senat Universitas. Hal ini bukan hanya melanggar etika kampus tetapi mencoreng dunia akademik.

Tidak salah bila korupsi yang melibatkan dunia kampus bisa dikategorikan sebagai darurat korupsi. Darurat karena selama ini kampus gigih memperjuangkan nilai-nilai moral, namun kali justru terlibat dalam pelanggaran moral. Apa yang terjadi di Unila telah meruntuhkan prinsip PT sebagai institusi yang steril dari penyimpangan. Kampus yang selama ini identik dengan intelektualitas dan anti-korupsi, justru ikut terlibat dalam pelanggaran tindak korupsi.

Kampus yang selama ini dikenal sebagai “menara gading” justru mengalami kegoncangan. Dikatakan kegoncangan karena kampus terkadang identik dengan gagasan-gagasan yang ideal yang sulit diterapkan di masyarakat. Misalnya dunia kampus menggagas adanya masyarakat yang bersih dari tindak kejahatan. Ini jelas impian besar. Dan masyarakat menilai bahwa gagasan ini sulit diaplikasikan sehingga masyarakat menilai kampus seperti menara gading.

Selaku civitas akademika rasanya sulit membayangkan adanya kejadian seorang rektor bisa menerima uang tunai Rp 414,5 juta, yang disertai dengan slip setoran deposito sebesar Rp 800 juta, dan dilengkapi dengan satu kunci safe deposit box yang berisi emas senilai Rp 1,4 miliar, serta uang senilai Rp 1 miliar. Dengan kata lain, bagi seorang birokrat kampus, selama ini sulit ditembus dengan suap, namun kali ini terjun.

Yang patut diperhatikan, apakah fenomena korupsi yang terjadi di Unila juga terjadi di universitas-universitas ternama lainnya. Artinya, ketika modus diri ini menjadi tren di-kampus terkemuka lainnya, tentu dengan cara yang berbeda, maka ini merupakan suatu prestasi gunung es. Oleh karena itu, logis bila ada tuntutan untuk menghapus penerimaan jalur mandiri.

Menggembalikan Fungsi Kampus

OTT KPK yang menimpa rektor Unila telah mencoreng dunia kampus. Maka untuk mengembalikan dan menjadikan kampus bersih dari noda korupsi membutuhkan sejumlah langkah. Di antaranya mempersempit gerak atau menghapus penerimaan jalur Mandiri dengan memberi porsi bagi mereka yang benar-benar memiliki kecerdasan dan moralitas akademik. Kampus harus disterilkan dari tindak melacurkan dunia intelektual dengan tujuan sesaat.

Bagi masyarakat umum bahwa kuliah di fakultas favorit merupakan kebanggaan. Oleh karena itu, bagi mereka yang berkemampuan akademik pas-pasan namun memiliki modalitas berupa kekayaan materi akan tergoda untuk memanfaatkan peluang itu. Gengsi menjadi mahasiswa fakultas favorit itu mendorongnya untuk menghalalkan segala cara. kepintaran dan kecerdasan tersingkirkan oleh kekayaannya.

Meraka inilah yang menjadi sumber malapetaka di dunia kampus. Awalnya, mereka tidak diterima dalam jalur prestasi, dan tak lolos dalam jalur tes tulis. Namun mereka tetap berharap bisa diterima menjadi mahasiswa fakultas favorit ini. Ketika ada peluang untuk masuk jalur Mandiri, dengan membayar biaya lebih mahal, maka mrereka rela tempuh dengan segala cara. Disinilah peluang dimanfaatkan oleh dua pihak. Orang tua merupakan pihak pertama yang merasa diuntungkan ketika anaknya berpeluang masuk. Di sisi lain, pihak universitas memanfaatkan peluang ini untuk mengeruk duit lebih mahal dengan janji akan menerimanya. Mereka rela menyisihkan uang dengan membayar di atas standar resmi.

Ketika dua kepentingan ini bertemu, maka terjadilah transaksi dua pihak, orang tua dengan pemegang otoritas kampus. Orang tua sanggup membayar lebih dari tarif yang tertulis, pihak rektor siap memenuhi keinginan orang tua dan menjanjikan kelulusan anaknya. Disinilah terjadi penyimpangan di dunia kampus.

Bilamana hal ini menjadi fenomena gunung es, maka praktek “Pelacuran” di dunia kampus layak dihentikan. Hal ini agar tidak lahir generasi yang menghalalkan segala cara untuk menempati posisi yang seharusnya menjadi hak mereka yang dengan kapasitas kecerdasan dan moralitas. Disinilah relevansi menghapus PMB Jalur Mandiri di semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ketika menjadikannya sebagai sarang transaksional sehingga merusak marwah kampus yang melahirkan generasi yang bersih dan terjaga intelektualitasnya.

Mungkin benar apa yang difirmankan Allah bahwa praktek membayar uang lebih sebagai suap yang berujung merugikan orang lain. Jalur Mandiri yang hanya mengandalkan uang, dengan menyingkirkan kapasitas intelektual, merupakan transaksi terselubung. Mereka rela mengeluarkan uang lebih untuk mengambil hak orang lain. Menari menyimak firman Allah berikut :

وَلَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ وَتُدْلُوْا بِهَاۤ اِلَى الْحُـکَّامِ لِتَأْکُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَا لِ النَّا سِ بِا لْاِ ثْمِ وَاَ نْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 188)(Sudono Syueb/ed)

Surabaya, 26 Agustus 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *