Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
AKTIVITAS / AMAL
Awali dengan Bismillah
Jalani dengan Lillah
Akhiri dengan Alhamdulillah
Insyaa Allah Barokah
Aamiin Ya Robbal’alamin
Dalam ajaran Islam, setiap amal memiliki nilai di sisi Allah bukan hanya karena besarnya perbuatan, tetapi karena keikhlasan di dalamnya. Banyak orang berbuat baik, tetapi tidak semua mendapat pahala sempurna karena niatnya tercampur dengan riya atau pamrih duniawi. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami makna ikhlas beramal dalam kehidupan sehari-hari. Ikhlas berarti beramal semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan balasan atau pujian dari manusia.
Konsep ikhlas beramal dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya diterapkan dalam ibadah ritual seperti shalat dan puasa, tetapi juga dalam aktivitas harian seperti bekerja, membantu orang lain, hingga bersikap jujur. Setiap amal yang dilakukan dengan hati bersih dan niat yang lurus akan menjadi ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah. Dalam tulisan ini, akan membahas tiga tingkatan ikhlas syekh Nawawi Al Bantani contoh nyata bagaimana seorang muslim bisa menerapkan ikhlas beramal dalam keseharian.
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2)
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menafsirkan makna ‘yang terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah, tuntunan Rasulullah (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’ [8/95] sebagaimana dinukil dalam Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 50. Lihat pula Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Bekerja adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Dalam Islam, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga sarana untuk beribadah. Ketika seseorang bekerja dengan niat mencari rezeki yang halal demi keluarga dan menghindari perbuatan haram, maka ia sedang mempraktikkan ikhlas beramal dalam kehidupan sehari-hari.
Ikhlas dalam bekerja berarti tidak menipu, tidak mengambil hak orang lain, serta menjalankan tugas sebaik mungkin meskipun tidak selalu mendapat pengakuan. Seorang karyawan yang tetap bekerja dengan disiplin meski tidak diawasi atasan, sebenarnya sedang menunjukkan ikhlas beramal dalam kehidupan sehari-hari.
TIGA TINGKATAN IKHLAS.
Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan ikhlas dalam 3 tingkatan dalam kitab Nurudh Dholam dan kitab Nashâihul ‘Ibâd. Menurut beliau, nilai ibadah seseorang sangat bergantung pada kadar ikhlas di hatinya.
- Ikhlas karena Allah tingkatan tertinggi.
Ini ikhlas murni. Seorang mukmin beribadah dan beramal shalih hanya mengharap ridha Allah. Sama sekali tidak mengharapkan pahala surga atau takut neraka, apalagi pujian manusia, harta, atau cinta makhluk. Tujuannya hanya menaati perintah Allah dan menunaikan hak ubudiyah sebagai hamba.
Syekh Nawawi menyebutnya: “membersihkan amal dari perhatian makhluk, tidak menginginkan apapun kecuali menuruti perintah Allah”.
Jadi Ikhlas itu, menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. Tidak ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau karena mencari harta rampasan perang, atau agar dikatakan sebagai pertarungan ketika perang, karena syahwat, kedudukan, harta benda, istimewa, agar mendapat tempat di hati orang banyak, mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena alasan-alasan lain yang tidak terpuji; yang intinya bukan karena Allah, tetapi karena sesuatu; maka semua ini merupakan noda yang mengotori keikhlasan.
- Ikhlas karena Akhirat tingkatan menengah.
Beribadah karena mengharapkan balasan ukhrawi: pahala, masuk surga, dan selamat dari siksa neraka. Niatnya tetap untuk Allah, tapi ada harapan imbalan di akhirat. - Ikhlas karena Dunia tingkatan paling rendah.
Beribadah dengan tujuan mendapat keuntungan dunia. Misalnya membaca Surat Al-Waqi’ah agar kaya, bersedekah agar rezeki berlipat, atau ibadah lain demi terhindar dari musibah dunia. Syekh Nawawi menegaskan selain 3 tingkatan di atas, masuk kategori riya yang tercela.
Beliau juga mengingatkan, ikhlas itu seperti kaca bening yang terus kena debu. Perlu mujahadah terus-menerus membersihkan niat dari godaan pujian manusia, dengan mengingat kefanaan dunia dan kekalnya akhirat.
Jadi kalau mau menguji diri: tanya niatmu saat beramal – masih terselip harapan pujian, pahala, atau duniawi? Semakin bersih dari itu, semakin tinggi tingkatan ikhlasnya.
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)
Keutamaan beramal secara ikhlas memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah, karena keikhlasan menjadi penentu diterima atau tidaknya suatu amal. Amal yang disertai niat ikhlas akan bernilai ibadah, sedangkan amal yang dilakukan demi pujian manusia tidak akan memiliki nilai di akhirat.
Ibadah secara ikhlas bukan hanya berpengaruh terhadap pahala ukhrawi, tetapi juga berdampak pada ketenangan hati dan keberkahan hidup di dunia. Allah SWT menjanjikan banyak kebaikan bagi hamba-Nya yang senantiasa menata niat agar amalnya murni karena Allah semata. Rasulullah SAW pun menegaskan dalam hadis yang masyhur, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan beramal secara ikhlas juga mencerminkan kesempurnaan iman seseorang. Orang yang beramal tanpa pamrih dunia akan mendapatkan ganjaran berlipat dari Allah SWT. Bahkan, banyak ulama mengatakan bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal saleh. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apa pun menjadi sia-sia.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Edutor: Sudono Syueb
