Hukum Spiritual anrara Allah dan Manusia terkait Nikmat

Oleh Sudono Syueb, Pengurus DDII Jatim Bidang Kominfo

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada untaian hikmah mendalam tentang hukum spiritual antara Allah dan Manusia terkait nikmat dan kebahagiaan hidup yaitu:

ان النعمة موصولة بالشكر
والشكر موصول بالمزيد
ولن ينقطع المزيد من الله
حتى ينقطع الشكر من الانسان
فدوام النعمة بدوام الشكر

Sesungguhnya nikmat itu terhubung dengan rasa syukur, sedang rasa syukur terhubung dengan tambahnya (nikmat), dan tambahan nikmat dari Allah tidak akan terputus sampai manusia berhenti bersyukur, maka kekalnya nikmat itu tergantung pada kekalnya syukur.”

  1. Makna Filosofis Kedekatan Nikmat dan Syukur

Kalimat,
ان النعمة موصولة بالشكر
“Sesungguhnya nikmat itu tersambung dengan syukur”, menegaskan bahwa nikmat dan syukur adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan.

  • Nikmat adalah pemberian dari Allah.
  • Syukur adalah respons wajib dari manusia.
  • Ketika manusia menerima nikmat tanpa bersyukur, hubungan spiritual tersebut menjadi renggang, dan nikmat tersebut bisa berubah menjadi ujian atau malapetaka (istidraj).
  1. Hukum Sebab-Akibat: Syukur Mengundang Tambahan

Kalimat:
والشكر موصول بالمزيد
“Syukur tersambung dengan tambahan”, berakar kuat dari janji Allah dalam Al-Qur’an (Surah Ibrahim ayat 7).

Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan sebuah investasi. Setiap kali Anda mensyukuri apa yang ada, Anda sedang membuka pintu bagi datangnya hal-hal yang lebih besar. Tambahan ini bisa berupa kuantitas (jumlahnya bertambah) maupun kualitas (pemberian tersebut menjadi lebih berkah dan menenangkan hati).

  1. Bola Berada di Tangan Manusia

Poin paling krusial ada pada kalimat:
ولن ينقطع المزيد من الله
حتى ينقطع الشكر من الانسان
“Tambahan dari Allah tidak akan terputus sampai syukur dari manusia itu terputus.”

  • Sifat Allah: Sumber nikmat Allah itu tidak terbatas dan tidak akan pernah habis.
  • Sifat Manusia: Manusia sering kali bosan, lupa, atau merasa kurang, sehingga berhenti bersyukur.
  • Maka itu: Yang membatasi aliran rezeki dan kebahagiaan bukanlah kepelitan dari Sang Pencipta, melainkan kelalaian dari manusia itu sendiri. Aliran “bonus” dari langit hanya akan berhenti jika manusia menutup kerannya dengan sikap kufur (tidak bersyukur).
  1. Rumus Menjaga Keberlangsungan (Kekalnya Nikmat)

Kutipan diakhiri dengan rumus praktis kehidupan:
فدوام النعمة بدوام الشكر
“Maka kekalnya nikmat itu ada pada kekalnya syukur.”

Jika kita ingin kebahagiaan, kesehatan, keluarga yang harmonis, atau kesuksesan karier bertahan lama, kuncinya adalah merawat rasa syukur tersebut setiap hari. Syukur bertindak sebagai pengikat nikmat yang sudah ada sekaligus pemancing nikmat yang belum datang.

Asmin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *