BELUM TIBAKAH WAKTUNYA HATI KITA KEMBALI?

Oleh: Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.l., Ketua Dewan Da’wah Jawa Timur dan Direktur PPIC eLKISI, Mojokerto

Dewanfakwahjayim.com, Mojokerto –
Allah berfirman:
أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…”
(QS. Al-Hadid: 16)

Ayat ini bukan sekadar teguran kepada orang lain. Ia adalah panggilan lembut sekaligus peringatan keras untuk diri kita sendiri: sudahkah hati kita benar-benar tunduk kepada Allah?

Kita telah lama mengenal Islam. Kita telah mendengar Al-Qur’an berkali-kali. Nasihat tentang kematian, akhirat, dosa, pahala, surga dan neraka pun bukan sesuatu yang asing. Namun, mengapa begitu banyak nasihat yang masuk ke telinga tetapi tidak sampai menggetarkan hati?

Mungkin bukan karena kita tidak tahu. Mungkin hati kita yang mulai terbiasa.
Kita terbiasa mendengar ayat, tetapi tidak menangis.

Terbiasa mendengar azan, tetapi masih menunda shalat. Terbiasa membaca Al-Qur’an, tetapi tidak berusaha mengamalkannya. Terbiasa mengetahui dosa, tetapi masih mengulanginya. Bahkan terkadang kita lebih cepat tersentuh oleh berita dunia daripada peringatan Allah.

Allah mengingatkan agar kita jangan seperti umat terdahulu yang telah menerima kitab. Mereka melewati masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras.

Hati yang keras adalah ketika kemaksiatan tidak lagi membuat kita gelisah. Ketika dosa terasa biasa. Ketika meninggalkan kebaikan tidak lagi membuat kita menyesal. Ketika nasihat dianggap sebagai gangguan, sementara pujian justru menjadi sesuatu yang kita sukai.

Padahal, hidup ini terus berjalan menuju satu kepastian: kematian.
Maka jangan menunggu tua untuk berubah. Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur. Jangan menunggu musibah untuk kembali bersujud.

Belum tibakah waktunya kita kembali?
Kembali kepada Al-Qur’an.
Kembali kepada shalat.
Kembali kepada dzikir.
Kembali kepada taubat.
Kembali menjadi hamba yang rendah hati di hadapan Allah.

Jika hari ini hati kita masih bisa tersentuh oleh ayat ini, bersyukurlah. Itu tanda bahwa pintu untuk kembali masih terbuka.

Jangan biarkan hati menjadi keras karena terlalu lama menunda.

Ya Allah, lembutkan hati kami. Hidupkan hati kami dengan mengingat-Mu. Jadikan Al-Qur’an cahaya dalam kehidupan kami dan tuntunlah kami untuk senantiasa tunduk kepada kebenaran-Mu.

Belum tibakah waktunya?
Mungkin jawabannya: sekaranglah waktunya.(Fathur Rohman)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *