Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Hidup bukan jalan yang selalu mudah. Perjuangan menuju keberhasilan hampir selalu memiliki hambatan. Ada kegagalan, keterbatasan, penolakan, ejekan, bahkan orang-orang yang meragukan kemampuan kita. Semua itu adalah kenyataan yang tidak perlu disangkal.
Karena itu, seorang Muslim tidak dibentuk untuk menjadi manusia yang rapuh ketika menghadapi kesulitan. Ia harus memiliki keteguhan iman, kejernihan berpikir, kesabaran dalam perjuangan, dan keberanian untuk terus melangkah.
Berpikir positif bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Berpikir positif berarti melihat kenyataan dengan jernih, menerima bahwa ada kesulitan, kemudian mencari jalan keluar dengan ikhtiar dan tawakal kepada Allah.
Ketika gagal, jangan mengatakan, “Aku tidak mampu.”
Katakan, “Aku belum berhasil, dan aku harus belajar.”
Ketika diremehkan, jangan menjadikan perkataan orang lain sebagai alasan untuk berhenti.
Jadikan ia sebagai dorongan untuk memperbaiki diri.
Ketika ditolak, jangan menganggap bahwa hidup telah berakhir.
Boleh jadi, Allah sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik.
Sebab kita tidak dapat mengendalikan apa yang dikatakan manusia tentang diri kita. Tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana hati kita menyikapinya.
Omongan manusia bukanlah hakikat diri kita.
Jika ada kritik yang benar, ambillah sebagai bahan perbaikan. Jika ada nasihat yang baik, terimalah dengan lapang dada. Tetapi jika ada perkataan yang hanya bertujuan menjatuhkan, jangan biarkan ia tinggal di dalam hati dan menjadi identitas diri.
Seorang Muslim tidak boleh hidup di bawah bayang-bayang penilaian manusia.
Ia harus hidup di bawah kesadaran bahwa Allah mengetahui siapa dirinya, apa perjuangannya, apa niatnya, dan apa yang dikerjakannya.
Karena itu, jangan habiskan energi untuk menjawab semua perkataan manusia.
Jawablah keraguan dengan kerja.
Jawablah ejekan dengan prestasi.
Jawablah kegagalan dengan perbaikan.
Jawablah kesulitan dengan kesabaran.
Dan jawablah kesempatan dengan amanah.
Namun jangan sampai perjuangan itu berubah menjadi dendam. Jangan bangkit hanya untuk membalas orang yang pernah merendahkan kita. Sebab jika seluruh keberhasilan kita hanya ditujukan untuk membungkam mereka, maka sebenarnya kita masih dikendalikan oleh mereka.
Bangkitlah karena Allah. Berkaryalah karena amanah. Berhasil-lah agar semakin banyak kebaikan yang dapat diberikan kepada umat.
Di sinilah seorang Muslim harus memahami bahwa Allah memberikan kepada setiap manusia potensi dan keistimewaan yang berbeda. Tidak semua orang harus menjadi seperti orang lain. Tidak semua orang harus menempuh jalan yang sama.
Ada yang diberi kemampuan berpikir.
Ada yang diberi kemampuan memimpin.
Ada yang diberi kemampuan mendidik.
Ada yang diberi kemampuan berdagang.
Ada yang diberi kemampuan berbicara.
Ada yang diberi ketekunan dalam bekerja.
Ada yang menemukan kekuatannya justru setelah melewati berbagai kesulitan.
Semua itu adalah potensi yang harus dikembangkan dan diarahkan untuk kemaslahatan.
Potensi adalah anugerah, tetapi mengembangkannya adalah amanah.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa kelebihanku?”
Tanyakan pula:
“Untuk apa Allah memberikan kelebihan itu kepadaku?”
Sebab kemampuan yang tidak dikembangkan akan menjadi potensi yang sia-sia. Ilmu yang tidak diamalkan tidak banyak memberikan perubahan. Kekuatan yang tidak digunakan untuk kebaikan hanya akan menjadi kemampuan yang tidak memiliki nilai pengabdian.
Maka perjuangan menjadi manusia terbaik bukanlah perlombaan untuk mengalahkan orang lain. Ia adalah perjuangan untuk mengalahkan kelemahan diri sendiri.
Hari ini harus lebih baik daripada kemarin.
Lebih berilmu.
Lebih disiplin.
Lebih sabar.
Lebih berani.
Lebih bertanggung jawab.
Lebih bermanfaat.
Dan yang paling penting, lebih dekat kepada Allah.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6).
Ayat ini bukan alasan untuk berpangku tangan. Justru ia adalah energi untuk terus berikhtiar.
Kesulitan bukan tanda bahwa perjuangan harus dihentikan.
Kegagalan bukan tanda bahwa cita-cita harus dikuburkan.
Hambatan bukan selalu tanda bahwa jalan itu salah.
Bisa jadi, hambatan adalah tempaan yang sedang mempersiapkan kita agar memiliki kapasitas untuk memikul keberhasilan yang lebih besar.
Bukankah besi harus ditempa untuk menjadi kuat?
Demikian pula manusia. Karakter tidak lahir dari kenyamanan yang terus-menerus. Ketangguhan lahir dari perjuangan. Kesabaran lahir dari ujian. Kematangan lahir dari pengalaman.
Karena itu, jangan membenci setiap kesulitan yang datang.
Boleh jadi, melalui kesulitan itulah Allah sedang mengajarkan sesuatu yang tidak akan kita pelajari melalui kenyamanan.
Jangan pula terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki jalan perjuangan yang berbeda. Kita tidak mengetahui berapa panjang jalan yang telah ditempuh seseorang sebelum sampai pada keberhasilannya.
Yang perlu kita lakukan adalah terus memperbaiki diri.
Jadilah lebih baik daripada diri kita sendiri yang kemarin.
Sebab umat ini tidak membutuhkan manusia yang hanya pandai mengeluhkan keadaan. Umat membutuhkan manusia yang mampu mengubah keadaan melalui ilmu, iman, kerja keras, disiplin, dan pengabdian.
Bangkitlah dari kegagalan.
Belajarlah dari kesalahan.
Jadikan ejekan sebagai tempaan, bukan luka yang dipelihara.
Jadikan hambatan sebagai latihan, bukan alasan untuk menyerah.
Jadikan keberhasilan sebagai amanah, bukan alasan untuk sombong.
Dan jadikan seluruh perjalanan hidup sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah.
Pada akhirnya, menjadi versi terbaik diri bukan berarti menjadi manusia tanpa kelemahan. Menjadi manusia terbaik berarti terus memperbaiki diri, mengembangkan potensi, memperkuat iman, memperluas manfaat, dan tidak berhenti berjuang di jalan kebaikan.
Sebab seorang Muslim tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Ia hidup untuk beribadah kepada Allah, membangun dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan memberikan kontribusi bagi umat.
Maka jangan takut pada tempaan kehidupan.
Takutlah jika tempaan itu datang, tetapi kita tidak menjadi lebih kuat.
Jangan takut menghadapi hambatan.
Takutlah jika hambatan membuat kita kehilangan iman dan berhenti berjuang.
Dan jangan takut pada perkataan manusia.
Selama kita berjalan dalam kebenaran, teruslah memperbaiki diri, teruslah berikhtiar, dan serahkan penilaian akhir kepada Allah.
Karena pada akhirnya, yang menentukan kemuliaan seorang manusia bukanlah seberapa tinggi ia dipuji oleh manusia, tetapi seberapa besar nilai dirinya di hadapan Allah dan seberapa luas manfaat yang ia berikan kepada sesama.
Teruslah bertumbuh. Teruslah berjuang. Teruslah memberi manfaat.
Sebab umat yang besar tidak dibangun oleh manusia yang takut terhadap hambatan, tetapi oleh manusia yang menjadikan setiap tempaan sebagai kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
