Oleh: Dra. Nanis Sudarmisih, Simpatisan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di tengah tantangan krisis moral dan disrupsi digital tahun 2026, pola asuh (parenting) menjadi kunci utama ketahanan keluarga.
Mengacu pada sejarah kenabian dan data demografi umat Muslim global yang mencapai lebih dari 1,8 miliar jiwa, keteladanan Nabi Ibrahim AS muncul sebagai standar emas kepemimpinan ayah.
Nabi Ibrahim bukan sekadar figur sejarah, melainkan prototipe ayah ideal yang berhasil memadukan visi tauhid, komunikasi dialogis, dan keteguhan prinsip yang relevan melintasi zaman.
Visi Besar: Membangun Generasi di Atas Tauhid
Bagi seorang ayah Muslim, tugas utama bukan sekadar mencukupi nafkah materi, melainkan menanamkan fondasi ideologi yang kokoh.
Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa prioritas utama seorang kepala keluarga adalah keselamatan spiritual keturunannya.
Hal ini diabadikan dalam Al-Qur’an, di mana beliau berdoa:
”Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.'” (QS. Ibrahim: 35)
Data sosiologis menunjukkan bahwa anak yang memiliki kedekatan spiritual dengan ayahnya cenderung memiliki kecerdasan emosional (EQ) 15% lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengalami fatherless atau ketiadaan peran ayah secara psikologis.
Komunikasi Dialogis: Kunci Keberhasilan Parenting
Salah satu kesalahan umum ayah modern adalah pola komunikasi satu arah yang bersifat instruktif.
Nabi Ibrahim mengajarkan metode komunikasi dialogis.
Saat menerima perintah berat dari Allah untuk menyembelih putranya, Isma’il, beliau tidak langsung memaksakan kehendak.
Dalam QS. Ash-Shaffat: 102, Ibrahim bertanya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”
Pola ini menunjukkan bahwa:
Menghargai Pendapat Anak: Ibrahim melibatkan Isma’il dalam pengambilan keputusan besar.
Membangun Kepercayaan: Dialog menciptakan rasa aman sehingga anak merespons dengan ketaatan yang lahir dari pemahaman, bukan ketakutan.
Menyeimbangkan Kasih Sayang dan Ketegasan
Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya peran ayah sebagai pemimpin:
”Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” (HR. Bukhari & Muslim)
Nabi Ibrahim mencontohkan bahwa menjadi pemimpin berarti siap melakukan pengorbanan besar (etik kerja) demi visi jangka panjang.
Beliau rela meninggalkan istri dan anaknya di lembah yang tandus demi perintah Allah, namun tetap memastikan perlindungan melalui doa dan pengawasan jarak jauh yang intens.
Dampak Nyata: Mengatasi Fenomena “Father Hunger”
Di era modern, fenomena father hunger atau kerinduan akan sosok ayah menjadi pemicu utama kenakalan remaja dan depresi.
Meneladani Nabi Ibrahim berarti:
Hadir secara Kualitas: Bukan sekadar ada di rumah, tapi hadir secara mental dan spiritual
Menjadi Role Model: Anak tidak mendengar apa yang ayah katakan, tapi melihat apa yang ayah lakukan.
Visi Masa Depan: Mempersiapkan anak agar siap menghadapi tantangan zaman dengan integritas moral.
Kesimpulan
Meneladani Nabi Ibrahim AS adalah solusi konkret bagi para ayah Muslim untuk mencetak generasi tangguh.
Dengan mengintegrasikan nilai tauhid, mengedepankan dialog, dan menunjukkan tanggung jawab penuh, seorang ayah tidak hanya membangun rumah tangga di dunia, tetapi juga investasi abadi di akhirat.
Kepemimpinan Ibrahim adalah bukti bahwa ketegasan prinsip yang dibalut dengan kasih sayang adalah kurikulum terbaik bagi masa depan peradaban Islam.
Sumber Literatur & Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir (Surah Ibrahim & Ash-Shaffat).
Hadits Shahih Bukhari & Muslim (Kitab Al-Imarah).
Journal of Family Psychology (Data pengaruh peran ayah terhadap EQ anak).
Buku “Positive Parenting” oleh Fauzil Adhim.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: SudonSyueb
