Oleh Sudono Syueb, Pengurus DDII Jatim Bidang Kominfo
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Rasulullah SAW sejak umur 8 tahun sudah belajar bekerja dengan ikut menggembala kambing milik oligarki Quraisy.
Lalu ikut berdagang antar negara sampai umur 25 tahun. Dari berdagang ini Rasulullah SAW bisa menabung. Lalu beliau dipertemukan Allah dengan saudagar wanita Quraisy yang sangat mandiri, bernama Khadijah binti Khuwailid, dan menikahinya. Konon mas kawinnya 100 unta pilihan.
Maka itu Rasulullah SAW sangat menghargai kerja keras dan melarang meminta minta. Perhatikan hadis berikut ini:
قال رسول الله صل الله عليه وسلم: لا فتح رجل علي نفسه باب مساءلة يساءل الناس الا فتح الله باب فقر. صاحيح الخامع ٣٠٢٥
Rasulullah ﷺ bersabda: Tidaklah seseorang membuka bagi dirinya pintu meminta-minta (kepada orang lain), melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kemiskinan.” (Shahih Al Jami’ 3025)
Hadis ini merupakan peringatan bagi umat Islam agar memiliki sifat ‘iffah (menjaga kehormatan diri) dan sebisa mungkin menghindari meminta-minta kepada orang lain jika tidak dalam keadaan darurat.
Secara maknawi, orang yang membiasakan diri meminta-minta meskipun ia mampu bekerja, maka Allah akan mencabut rasa cukup dari hatinya atau menghilangkan keberkahan hartanya, sehingga ia selalu merasa kurang dan miskin.
Islam Memulyakan Kerja Keras
Islam sangat memuliakan kerja keras dan mengajarkan umatnya untuk menjaga kehormatan diri dengan tidak bergantung pada pemberian orang lain. Berikut adalah beberapa hadis yang berkaitan dengan kemuliaan bekerja dan menjaga harga diri:
1). Keutamaan Bekerja dengan Tangan Sendiri
Nabi ﷺ menegaskan bahwa penghasilan terbaik adalah yang didapatkan dari usaha sendiri, sebagaimana dilakukan oleh para Nabi terdahulu.
Hadis: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri. Sungguh Nabi Allah Daud AS dahulu juga makan dari hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari).
2). Memikul Kayu Bakar Lebih Baik daripada Meminta
Islam memandang setiap pekerjaan halal sebagai sesuatu yang mulia, meskipun secara fisik berat atau dianggap remeh oleh sebagian orang.
Hadis: “Seseorang yang memikul seikat kayu bakar di punggungnya (untuk dijual) itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik orang itu memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari & Muslim).
3). Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah
Hadis ini sangat populer dalam mendorong kemandirian dan semangat memberi kepada sesama.
Hadis: “Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima/peminta).” (HR. Bukhari & Muslim).
4). Janji Allah bagi Orang yang Menjaga Kehormatan
Bagi mereka yang bersungguh-sungguh menjaga diri agar tidak meminta-minta, Allah menjanjikan kecukupan dan perlindungan.
Hadis: “Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya (tidak meminta-minta), maka Allah akan menjaganya. Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. Bukhari & Muslim).
5). Larangan Meminta-minta untuk Memperkaya Diri
Meminta-minta tanpa kebutuhan mendesak diibaratkan seperti mengumpulkan bara api neraka.
Hadis: “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya.” (HR. Muslim).
Doa Kemandirian Ekonomi
Beberapa doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ agar kita diberikan kemandirian ekonomi, semangat bekerja, dan perlindungan dari beban utang:
1) Doa Berlindung dari Sifat Malas dan Utang
Doa ini sangat masyhur untuk mengusir rasa malas (yang sering menjadi sebab kemiskinan) dan lilitan utang yang menjatuhkan martabat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan, wal ‘ajzi wal kasal, wal bukhli wal jubni, wa dhala’id daini wa ghalabatir rijal.”
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan rasa malas, sifat kikir dan pengecut, serta dari lilitan utang dan penindasan orang lain.” (HR. Bukhari).
2). Doa Memohon Kecukupan dan Harga Diri (‘Iffah)
Doa singkat ini memohon empat hal utama: petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri (tidak meminta-minta), dan kecukupan harta.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqa wal ‘afafa wal ghina.”
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga kehormatan diri dari meminta-minta), dan kekayaan (merasa cukup).” (HR. Muslim).
3). Doa Agar Terbebas dari Utang meskipun Sebesar Gunung
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini agar Allah memudahkan kita melunasi utang dengan cara-cara yang halal.
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Allahummakfinii bihalalika ‘an haramika, wa aghninii bifadhlika ‘amman siwaka.”
Artinya: “Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku terhindar dari yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi).
Admin: Kominfo DDII Jatim
