IMAN KEPADA YANG GHAIB: HORIZON BATAS AGAR AKAL TIDAK TERSERET ILUSI

Menentukan Mana yang Layak Diimani dan Mana yang Harus Ditolak

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.cim, Surabaya – Akal memang mampu menjangkau banyak hal—tetapi tidak semua hal. Ada wilayah yang melampaui jangkauan indera dan logika, yang disebut sebagai ghaib. Di titik inilah muncul persoalan mendasar: jika akal tidak mampu menjangkau sepenuhnya, lalu bagaimana manusia menentukan apa yang boleh diyakini dan apa yang harus ditolak?

Di sinilah iman kepada yang ghaib bukan sekadar kepercayaan, tetapi horizon epistemologis—batas yang menjaga akal agar tidak terseret ke dua jurang sekaligus: penolakan total atau penerimaan tanpa dasar.

Tanpa horizon ini, manusia mudah tersesat. Ia bisa menolak seluruh yang ghaib karena tidak bisa dibuktikan secara empiris, lalu terjebak dalam kekeringan makna. Atau sebaliknya, ia bisa menerima segala yang tidak terlihat—mitos, tahayul, spekulasi—tanpa verifikasi, lalu terjatuh dalam keyakinan yang salah.

Maka iman kepada yang ghaib dalam Al-Qur’an bukan bersifat bebas, tetapi terbimbing:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Artinya, yang diimani bukan semua yang ghaib, tetapi yang ditetapkan oleh wahyu sebagai ghaib yang benar.

Di sinilah akal menemukan batasnya—bukan untuk dimatikan, tetapi untuk diarahkan. Ia tetap bekerja, tetap berpikir, tetap menguji—tetapi tidak melampaui wilayah yang tidak memiliki dasar wahyu. Ia tahu bahwa tidak semua yang tidak terlihat layak dipercaya, dan tidak semua yang tidak bisa dibuktikan harus ditolak.

Dalam perspektif Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, membaca tidak hanya berlaku pada yang tampak, tetapi juga pada yang tidak tampak—namun dengan satu syarat: harus berdasarkan petunjuk wahyu. Di sinilah keseimbangan itu terjaga:

Wahyu menentukan apa yang benar dalam wilayah ghaib

Akal memahami dan meneguhkan keyakinan itu

Realitas menjadi penguat, bukan penentu utama

Maka iman kepada yang ghaib bukan sekadar percaya, tetapi percaya dengan batas yang jelas.

Ia menjaga manusia dari dua kesalahan besar:
menolak kebenaran karena tidak terlihat,
atau menerima kesalahan hanya karena tidak terlihat.

Di titik ini, akal tidak kehilangan fungsinya—
justru menemukan kedewasaannya.

Karena ia tahu:
tidak semua yang ghaib harus ditolak, dan tidak semua yang ghaib boleh diterima.

Dan di situlah manusia benar-benar berpikir dengan benar— bukan karena ia menjangkau segalanya,
tetapi karena ia tahu batas dari apa yang boleh ia yakini.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *