Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
Seorang Muslim adalah bersaudara Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkan diganggu orang lain (bahkan ia wajib membantu dan membelanya) . Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allâh Azza wa Jalla akan selalu membantunya. Barangsiapa melapangkan kesulitan orang Muslim, maka Allâh akan melapangkan dia dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, maka Allâh menutupi (aib)nya pada hari Kiamat. HR. Muslim
“Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak. Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya” (HR. Muslim).
Menolong Allah
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari ujian, baik berupa kesulitan maupun kelapangan. Islam mengajarkan bahwa salah satu cara mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan menolong agama-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
“ Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka menegakkan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan .” [Al-Hajj/22: 40-41].
Menolong agama Allah tidak selalu dengan hal-hal besar. Kadang, dengan da’wah, zakat yang kita tunaikan, dengan infak kecil yang kita sisihkan, dengan sedekah tulus yang kita berikan—itu sudah menjadi bukti cinta kita pada agama Allah.
Dan ingatlah: kebaikan yang kita keluarkan tidak pernah sia-sia. Bisa jadi ia kembali dalam bentuk rezeki, kesehatan, kebahagiaan keluarga, atau pertolongan di saat kita sangat membutuhkannya.
Mari kita istiqamah menolong agama Allah dengan zakat, infak, dan sedekah. Karena ketika kita menolong agama Allah, sesungguhnya Allah sedang menolong kita.
Memudahkan Urusan Orang lain
Al – Kurbah (kesempitan) ialah beban berat yang mengakibatkan seseorang sangat menderita dan sedih. Meringankan ( at-tanfîs ) bertujuan untuk meringankan beban penderita tersebut. Sedangkan at-tafrîj (upaya melepaskan) dengan cara menghilangkan beban penderitaan dari penderita sehingga kesedihan dan kesusahannya sirna. Balasan bagi yang meringankan beban orang lain ialah Allah akan meringankan kesulitannya. Dan balasan menghilangkan kesulitannya adalah Allâh akan menghilangkan kesulitannya.
Seorang Muslim hendaknya berusaha membantu Muslim lainnya. Membantu bisa dengan ilmu, harta, bimbingan, nasehat, saran yang baik, dengan tenaga dan lainnya.
Seorang Muslim bermaksud untuk berupaya menghilangkan kesulitan atau penderitaan Muslim lainnya. Bila seorang Muslim membantu Muslim lainnya dengan ikhlas, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan balasan terbaik yaitu dilepaskan dari kesulitan terbesar dan terberat yaitu kesulitan pada hari Kiamat. Oleh karena itu, seorang Muslim seharusnya tidak bosan membantu sesama Muslim. Semoga Allâh Azza wa Jalla akan menghilangkan kesulitan kita di hari Kiamat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan menyelesaikan (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan dia menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenteraman akan turun ke atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat di sekitar mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi- Nya diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya. ” Muslim 2699,
Dari Abu Hurairah ra, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. HR. Muslim.
Menutup aib saudaranya
Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu suka menolong saudaranya.” (HR Muslim)
Menutup aib orang lain adalah hal sederhana, namun terkadang masih sulit diterapkan. Manusia adalah makhluk yang senang sekali bercerita tentang apa yang dirasakan. Mulai dari cerita sedih, senang, hingga marah. Namun terkadang dalam cerita-cerita tersebut, manusia juga tak luput dan kebablasan membuka aib orang lain.
Aib adalah suatu sifat buruk atau tidak menyenangkan yang ada pada diri seseorang. Bila disebarkan maka akan terasa memalukan. Aib adalah bagian dari masa lalu seseorang, harus kita tutup rapat, dan tidak menyebarkan dengan tujuan untuk menjelekkan.
Menutup aib orang lain dapat menyelamatkan kita dari petaka dan dosa. Membuka aib orang lain rentan menjerumuskan lisan pada dosa ghibah. Menggunjing orang lain ibarat memakan bangkai saudara sendiri. Membicarakan perbuatan yang tercela dan tidak terpuji.
Pergunjingan ini pernah terjadi pada salah satu Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Salman al Farisi. Ketika selesai makan, Salman langsung tidur dengan mendengkur. Orang lain mengetahui perilaku Salman dan menjadikannya bahan pergunjingan. Hingga akhirnya aib tersebut tersebar luas. Akibat terjadinya pergunjingan tersebut, Allah berfirman dalam Quran Surat Al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Dari Abu Barzah Al-Aslami, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai orang- orang yang beriman dengan lisannya, tapi keimanannya belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengumpat seorang muslim dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Sebab siapa saja yang mencari-cari kesalahan orang lain, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Maka siapa saja yang Allah telah mencari-cari kesalahannya, Allah tetap akan menampakan kesalahannya meskipun ia ada di dalam rumahnya”. (HR Abu Dawud)
Menolong saudaranya
Ketika seorang muslim menegakkan kebenaran karena Allah, niscaya Allah akan mencukupkan segala kebutuhannya, meski dimusuhi oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Adapun kegagalan dan musibah yang menimpa mereka bukan disebabkan oleh tidak terpenuhinya syarat-syaratnya. Siapa saja yang berjuang dalam kebatilan maka dia tidak akan ditolong, dan jika menang maka kemenangan itu tidak akan membawa kebaikan baginya, dia hanyalah kerendahan dan kehinaan.
اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ
“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
“Hadits ini, terdapat dorongan untuk memberikan pertolongan kepada saudara sesama muslim. Setiap pertolongan yang diberikan kepada saudaranya, niscaya dia akan mendapat balasan berupa pertolongan dari Allah. Kalimat dalam hadits ini adalah bagian dari jawāmi’ulkalim. “ (Fathu al-Qawiyyi al-Matīn)
Syekh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafiẓahullāh menjelaskan bahwa makna hadits ini bersifat umum. Jika Engkau memberi pertolongan kepada saudaramu dengan pertolongan apapun bentuknya yang dia butuhkan, maka sungguh Allah akan senantiasa memberi pertolongan kepadamu. Demikianlah, karena balasan akan sesuai dengan perbuatan. Jika Engkau ingin Allah menolongmu, maka hendaknya Engkau menolong saudaramu sesuai kadar kemampuan yang Engkau mampu berikan kepadanya, baik itu dengan harta, kedudukan, ataupun bantuan yang lainnya. (Al-Minhatu al-Rabbaniyyah fī Syarhi al-Arba’īn al-Nawawiyyah)
Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin raḥimahullāh memberi catatan penting tentang hadits ini. Beliau menjelaskan bahwa hadits ini merupakan motivasi untuk memberi pertolongan kepada sesama muslim. Akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa hal ini terbatas untuk perkara kebaikan dan takwa. Karena Allah taala berfirman,
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.“ (QS. Al-Mā’idah: 2)
Adapun jika memberi pertolongan dalam perbuatan dosa, maka hukumnya haram. Karena Allah berfirman,
وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“ Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. “ (QS. Al-Mā’idah: 2)
Wallahu a’lam bishowab.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
