Oleh M. Anwar Djaelani
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Puasa Ramadhan bisa diibaratkan sebagai sebuah sekolah. Ini, karena di dalamnya ada pendidikan dan pelatihan. Lewat puasa Ramadhan, kita dididik untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Melalui puasa Ramadhan, kita dilatih untuk lebih peduli kepada aneka masalah kemasyarakatan.
Puasa Ramadhan, pada ujungnya, menjadikan kita bertakwa. Sikap takwa, yaitu hanya untuk menaati semua perintah Allah dan meningggalkan segala larangan-Nya, bisa membuat jiwa kita merdeka (dalam artian luas). Kita merdeka dari pengaruh nafsu buruk yang bersemayam di diri sendiri. Kita merdeka dari rayuan setan karena lebih memilih untuk hanya tunduk kepada Allah.
Manifestasi Takwa
Setelah berpuasa di Ramadhan, kita optimis menjadi insan takwa seperti dijanjikan Allah pada QS Al-Baqarah [2]: 183. Apa ciri-ciri takwa? Tanda orang bertakwa, banyak, di antaranya disebut di QS Ali-’Imran [3]: 133-135. Mereka yang bertakwa adalah yang suka berinfak (baik di waktu lapang maupun sempit), bisa menahan amarah, suka memaafkan, dan bersegera memohon ampun kepada Allah saat berbuat kesalahan.
Di QS Ali ’Imran 172-173 juga ada kriteria takwa, yaitu orang-orang yang menaati Allah dan Rasul dan punya keyakinan “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. Mereka yang punya prinsip “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”, akan berani menegakkan kebenaran seperti sikap Nabi Ibrahim As kepada Raja Namrudz.
Mereka, yang bertakwa, akan berani mengamalkan amar makruf nahi munkar, sebagaimana amanat di ayat ini: ” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. …… ” (QS Ali ’Imran [3]: 110).
Selanjutnya, mari rasakan adanya jiwa merdeka pada sejumlah teladan. Kita hayati tentang sikap berani lewat profil dari banyak teladan. Adapun di tulisan ini, cukup kita belajar kepada empat teladan berikut ini.
Tidak Tergantung
HOS Tjokroaminoto (1882-1934) adalah Pahlawan Nasional. Maka, menarik saat membaca bagaimana dia tumbuh-kembang. Bahwa, saat anak-anak, dia diasuh di lingkungan pesantren. Kemudian bersekolah ke “Sekolah Belanda” yang memakai sistim Barat.
Tjokroaminoto tumbuh sebagai pribadi pemberani. Dia juga pembicara ulung dan cakap menulis. Pun, dia kharismatik dan populer.
Belakangan dia aktif di Syarikat Dagang Islam, organisasi yang berdiri pada 1905. Lalu, dalam perkembangannya, di tangan Tjokroaminoto Syarikat Dagang Islam mengubah namanya menjadi Syarikat Islam pada 10 September 1912.
Syarikat Islam adalah kumpulan umat Islam yang hendak mengilmui Islam sekaligus menegakkan Islam. Terutama lewat Syarikat Islam, Tjokroaminoto aktif berjuang untuk Islam dan Indonesia. Perjuangannya bernilai sangat tinggi. “HOS Tjokroaminoto adalah Peletak Dasar Perubahan Sosial Politik di Indonesia,” kata sejarawan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara (Menemukan Sejarah, 1998: h. 190). Apa di antara keseharian Tjokroaminoto yang menonjol?
Alkisah, untuk kali pertama, Mohammad Natsir (1908-1993) bertemu dengan Tjokroaminoto di stasiun kereta api Bandung. Kala itu, Tjokroaminoto sang “Raja tanpa Mahkota” sedang dalam rangkaian kegiatan silaturrahim ke daerah-daerah. Cabang-cabang Syarikat Islam di Bandung dan sekitarnya termasuk yang dikunjunginya.
Sebagai aktivis Syarikat Islam, Natsir turut menjemput kedatangan Tjokroaminoto. Di stasiun, begitu bertemu, Natsir segera menangkap pemandangan istimewa karena tergolong tidak biasa. Terlihat, Tjokroaminoto turun dari kereta api sambil menenteng velbed (tempat tidur yang bisa dilipat).
“Mengapa Tuan membawa velbed,” tanya Natsir dengan lugas segera sesudah berkenalan.
“Saya tidak mau menjadi beban orang yang saya datangi. Dengan velbed ini saya bisa menginap di manapun, di masjid atau di manapun,” jelas Tjokroamninoto sambil tersenyum dan menatap wajah Natsir (A.W. Pratiknya – Ed.), Pesan Perjuangan Seorang Bapak, 2019: h. xiii-xv).
Dengan sikapnya itu, Tjokroaminoto telah memperagakan bahwa dirinya adalah manusia merdeka. Dia berani untuk “tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu”. Insya Allah, seperti itulah performa lulusan Sekolah Ramadhan.
Terukur Bergerak
KH Ahmad Dahlan (1868-1923), seorang Pahlawan Nasional. Dia pemuka agama. Dia leluasa berdakwah termasuk kepada seorang Raja.
Suatu saat, ada masalah di Yogyakarta. Di sebuah tahun, acara Grebeg Keraton Yogyakarta menurut hitungan tahun Jawa jatuh satu hari sesudah Hari Raya menurut hisab.
Atas hal itu, KH Ahmad Dahlan yang seorang khatib di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, meminta menghadap Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Tujuannya, untuk menyampaikan usulan tentang perlunya memajukan acara Grebeg tersebut, agar sama dengan tradisi tahun-tahun sebelumnya.
Di tengah malam, dengan diantar Kanjeng Kiai Penghulu, Ahmad Dahlan diterima Sang Raja. Beliau diterima di sebuah ruangan, tanpa diterangi lampu. Sang Raja, dengan seksama lalu mendengarkan penjelasan atas apa yang menjadi gagasan Ahmad Dahlan.
Setelah Ahmad Dahlan selesai menguraikan gagasannya, Sang Raja lalu berkata bahwa acara Grebeg tetap dilaksanakan sesuai tradisi Jawa dan Ahmad Dahlan dipersilakan menyelenggarakan shalat Hari Raya sehari lebih dahulu sesuai dengan Islam.
Sesaat setelah Sang Raja selesai memutuskan hal penting itu, lampu di ruangan tempat mereka berbicara, lalu dinyalakan. Ahmad Dahlan terkejut, karena ternyata sedari tadi Sang Raja didampingi para pangeran dan pejabat kerajaan lainnya.
Melihat gelagat bahwa Ahmad Dahlan terkejut dengan situasi yang tak diduganya, Sang Raja lalu menjelaskan. Dikatakan oleh beliau, bahwa pemadaman lampu sengaja dilakukan agar Ahmad Dahlan sebagai tamu tidak merasa kikuk ketika menyampaikan pandangannya kepada raja. Masalah berakhir indah.
Indah, sebab Ahmad Dahlan bersikap merdeka karena benar. Indah, karena Ahmad Dahlan leluasa berpendapat dalam bingkai dakwah. Insya Allah, seperti itulah profil lulusan Sekolah Ramadhan.
Kukuh Berpendapat
Kita perhatikan sosok KH Hasyim Asy’ari (1871-1947). Dia seorang Pahlawan Nasional. Dia leluasa berdakwah, termasuk bersikap berani di masa penjajahan.
Ketokohan Hasyim Asy’ari di kalangan masyarakat bukan saja sangat sentral tetapi juga menjadi teladan utama seorang pemimpin. Selain mengembangkan Islam melalui lembaga pesantren dan organisasi sosial-keagamaan, KH Hasyim Asy’ari pun aktif mengorganisasi perjuangan politik melawan penjajah. Untuk menggerakkan massa, dalam upaya menentang dominasi politik Belanda, dia mengemukakan fatwa politik keagamaan.
Menurut KH Hasyim Asy’ari, umat Islam haram berkompromi dan menerima bantuan apapun dari Belanda. Bahkan, perjuangan menentang Belanda adalah jihad, perang suci. Selain itu dia pun melarang kaum muslimin Indonesia menumpang kapal Belanda dalam melakukan perjalanan ibadah hajinya (Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992: h. 310).
Dengan sikapnya itu KH Hasyim Asy’ari telah menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia merdeka. Tampak, dia berani karena benar. Dengan dasar itu, dia leluasa berpendapat. Insya Allah, seperti itulah potret lulusan Sekolah Ramadhan.
Tegas Bersikap
Abdul Karim Amrullah (1879-1945) adalah ulama terkemuka. Dia pembaharu yang masyhur. Dia ayah dari Buya Hamka.
Abdul Karim Amrullah seorang yang berjiwa merdeka. Dia pemberani. Bahwa, selain kepada Allah kita tak boleh takut. Kepada penjajah Belanda, di berbagai kesempatan, dia selalu melontarkan kecaman terhadap hukum dan peraturannya yang zalim.
Sikap tegas yang serupa ditunjukkannya pula kepada penjajah Jepang. Lihatlah, Abdul Karim Amrullah tegas menolak keharusan membungkukkan badan ke arah timur laut untuk menghormati Tenno Haika. Menurut dia, bagi pemeluk Islam tidak ada yang harus disembah selain Allah.
Dengan sikapnya yang berani, Abdul Karim Amrullah telah menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia merdeka. Dia adalah pribadi yang leluasa beraktivitas. Insya Allah, seperti itulah gambaran lulusan Sekolah Ramadhan.
Merdeka, Merdekalah!
Lewat puasa Ramadhan, milikilah jiwa yang merdeka! Punyailah sikap berani di atas prinsip kebenaran. Teladanilah, antara lain, beberapa tokoh panutan di atas yang sebagian kisah hidupnya telah diuraikan secara singkat. Mereka berani beramar makruf nahi munkar.
Para teladan itu sudah mempraktikkan sikap nyata. Sebagai manusia takwa, jiwa mereka merdeka. Mereka hanya patuh kepada Allah. Adapun di antara wujudnya: Pertama, tidak terikat (apalagi bergantung) kepada yang selain Allah. Kedua, berani melakukan amar makruf nahi munkar.
Di samping empat teladan di atas, masih sangat banyak yang lain. Teruslah ambil pelajaran dari sumber mana saja. Senantiasa respons-lah ayat ini: “.… Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” (QS Al-Hasyr [59]: 2).
Jadi, sebagai alumni Sekolah Ramadhan, selalulah rawat jiwa merdeka kita untuk hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Senantiasalah bersikap berani dalam menegakkan amar makruf nahi munkar. Allahu Akbar! []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
