CINTA RASULULLAH MIN KULLI QOLBI

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Saya tidak mempersiapkan shalat yang banyak juga puasa yang banyak, tidak juga shadaqah yang banyak, akan tetapi saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.” (mendengar ini) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Al-Bukhâri)

Siapa yang tidak berbunga-bunga hatinya mendengar langsung sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan untaian kalimat, pastilah dirasakan oleh para Shahabat kala itu. Oleh karena itu, Anas Radhiyallahu anhu mengatakan:

فَأَنَا أُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلُ بِأَعْمَالِهِمْ

Saya mencintai Allâh dan Rasul-Nya juga Abu Bakr dan Umar! Saya berharap bisa bersama mereka meskipun saya tidak bisa berbuat sebagaimana mereka berbuat (HR. Muslim)

Cinta Allah, Realisasi cinta Allah adalah mencintai Rasulullah sebab Allah sangat cinta kepada Rasulullah. Jadi cinta Rasulullah wujud cinta Allah. Kurang sempurna iman kalian sebelum kalian mencintai Allah dan Rasulnya lebih daripada kepada yang lainnya.

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (hai Muhāmmad), ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allâh maka ikutilah aku, niscaya Allâh akan mencintai kalian dan Allâh akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allâh Māhapengampun lagi Mahapenyayang” (Al-‘Imrân/3:31)

Wujud cinta kepada Allah juga adalah mencintai ajaran Allah/Al Qur’an menurut sunnah rasulnya.

Dalam hadits Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ

“Tiga hal, yang apabila seorang memilikinya, maka akan mendapatkan manisnya; orang yang menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selainnya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci pada kekafiran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana benci dilemparkan ke Neraka“ An Nasai

Cinta membaca, belajar, mengkaji memahami, menghayati, melaksanakan ajaran Allah /Al Qur’an.

Orang yang mencintai al Quran, mestinya cinta kepada Allah Azza wa Jalla , karena sifat-sifat Allah terdapat di dalam al Quran. Dan semestinya, ia juga cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliaulah yang menyampaikan al Qur`an.

‘Abdullah bin Mas’ud berkata,”Barangsiapa yang mencintai al Qur`an, maka ia akan cinta kepada Allah dan RasulNya.” Ath.Tabrani

Cinta Rasulullah saw wujudnya mencintai dan meneladani serta melaksanakan sunnah Rasulullah.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)

Cinta Rasulullah harus juga mencintai perbuatan dan orang orang yang dicintai Rasulullah. Cinta Rasulullah berarti juga mencintai keluarga Rasulullah, Sahabat Rasulullah, keturunan Rasulullah.

Dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam r.a., ia berkata, “Kami mengiringi Nabi saw., dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin al-Khaththab r.a. Kemudian ‘Umar berkata kepada Nabi saw., ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’ Maka Nabi saw. menjawab, ‘Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau, ‘Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’ Maka Nabi saw. bersabda, ‘Sekarang (engkau benar), wahai ‘Umar.’” (H.R. Bukhari).

Cinta Rasulullah berarti siap hidup qana’ah, zuhud, Wara’, Istiqamah, kasih sayang sesama, tawadduk. karena itu karakter Rasulullah. Wujud cinta rasulullah adalah memperbanyak bershalawat kepadanya, menjawab ketika nama Rasul disebut, membela dan menjaga kehomatan Rasulullah.

Al-Ghazali dalam salah satu kitabnya yang terkenal, al-Munqidz min ad-Dalal. Dalam kitab ini, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa zuhud itu faqdu alaqat al-qalbi min ad-dunya la faqduha ‘menghilangkan keterikatan hati dengan dunia namun bukan berarti menghilangkannya’.

Rumusan al-Ghazali mengenai zuhud ini mengesankan bahwa seorang muslim sangat dianjurkan untuk menjadi kaya bahkan harus menjadi sekaya-kayanya orang. Namun kekayaan ini harus tetap dalam koridor nilai-nilai agama, yakni kekayaan yang tidak menjerumuskan pemiliknya ke dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Allah menanamkan rasa cinta yang tulus kepada Allah, Rasulnya, dan seluruh umatnya..
Aamiin yra.

Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *