Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di Indonesia, Idul Fitri ditandai dengan Mudik (Pulang Kampung) yang membuat ledakan arus kendaraan padat merayap H – 3 sampai H + 3. Tradisi tahunan di mana jutaan orang kembali ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar, sangat khas dengan nuansa kebersamaan, yang ditandai oleh mudik (pulang kampung), takbiran, salat Id berjamaah, sungkeman, halal bihalal, serta berbagi THR dan makanan khas seperti ketupat. Tradisi ini memperkuat silaturahmi, memaafkan kesalahan, dan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Ucapan Lebaran di berbagai daerah di Indonesia kaya akan bahasa lokal, biasanya menggabungkan permohonan maaf lahir batin dengan doa keberkahan. Contoh utamanya adalah bahasa Jawa (“Sugeng Riyadi”), khusus Jawa Timuran dengan berjabat tangat mengucapkan ( sepurone Yo, Podo Podo Yo, kosong kosong Yo ) arting kita minta dima’afkan dari seluruh kesalahan yang terjadi baik disengaja maupun tidak, Sunda (“Wilujeng Boboran”), Aceh (“Meuah Lahee Bathen”), hingga Banjar (“Salamat Bahari Raya”), yang mencerminkan keragaman budaya dalam menyambut Idulfitri.
Sejarah Mudik.
Fenomena ini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, dikenal sebagai kerajaan yang memiliki daerah kekuasaan yang luas hingga wilayah Sri Langka dan Semenanjung Malaya, pada saat itu para pejabat yang ditugaskan bekerja di berbagai wilayah teresebut dapat pulang ke kampungnya pada hari – hari tertentu.
Hal yang sama juga dilakukan para pejabat kerajan Mataram Islam yang juga kembali ke kampung halaman dan menghadap Raja. Selain para pejabat, orang – orang yang hidup pada masa itu pun juga melakukan perjalanan pulang ke kampung halamannya dengan tujuan untuk membersihkan makam leluhur dan meminta keselamatan serta perlindungan.
Seiring dengan perkembangannya, istilah mudik mengalami perubahan dan populer pada tahun 1970 an, dimana kota kota besar mulai menjadi magnet urbanisasi Indonesia bagi mereka yang mencari pekerjaan, sehingga mudik kemudian juga diasosiasikan dengan istilah jawa “Mulih Dhisik” yang memiliki arti pulang dahulu.
Namun, pada lebaran tahun 2026 ini Kementerian Perhubungan memperkirakan akan sedikit menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Secara numerik, arus pemudik diproyeksikan menyusut tipis sekitar 1,7% menjadi 143,9 juta orang.
Kajian Lalin 2026
Kajian Data Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri Sandhi Wiedyanoe dalam konferensi pers persiapan mudik di Jakarta, Senin (9/3/2026).
“Berdasarkan dari hasil analisis, daerah paling tinggi kecelakaannya yang sudah terjadi tiga tahun terakhir (2023, 2024, dan 2025) serta prediksi di 2026 adalah Jawa Tengah,” jelasnya, seperti dikutip Antara.
“Seperti kita ketahui, tol Trans Jawa itu terdiri dari tol Cikampek, tol Jawa Barat, Cipularang, dan tol Jawa Tengah, serta Jawa Timur. Nah, Jawa Tengah ini sudah titik fatigue, titik lelah atau titik capek,” tambah Sandhi.
Secara statistik, lanjut dia, potensi korban jiwa per kejadian kecelakaan berkisar antara 15,72 hingga 23,77 persen. Artinya, dari 10 kecelakaan yang terjadi saat mudik, dua di antaranya hampir pasti menimbulkan korban meninggal dunia.
Dari sudut pandang ekonomi, Mohammad Nur Rianto Al Arif (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Asisten Utusan Khusus Presiden Bid. Ketahanan Pangan, mudik merupakan momentum perputaran uang yang sangat besar. Pada musim Lebaran 2024, perputaran uang selama Ramadan dan Idulfitri diperkirakan mencapai Rp157,3 triliun. Sementara itu, pada tahun 2025 nilai perputaran uang berada pada kisaran Rp137 triliun hingga Rp145 triliun. Perputaran uang pada musim mudik lebaran 2026 ini diproyeksikan mencapai Rp 190 triliun
Lebaran di negara yang ada muslimnya
Singapura, Lebaran atau Hari Raya Aidul fitri mirip dengan Indonesia, ditandai dengan shalat Id di masjid, mengenakan baju baru, bagi-bagi angpau, dan bersilaturahmi. Perayaan berpusat di kawasan Geylang Serai dengan hiasan lampu indah, tanpa tradisi mudik karena wilayahnya kecil, serta menyajikan kuliner khas seperti rendang dan ketupat.
Malaysia, yang dikenal sebagai Hari Raya Aidil Fitri atau Hari Raya Puasa, sangat mirip dengan Indonesia, ditandai dengan tradisi “Balik Kampung” (mudik), Open House (rumah rumah terbuka), dan berbagi “Duit Raya”. Perayaan berlangsung meriah selama satu bulan penuh, dengan fokus utama pada silaturahmi, kuliner khas seperti lemang dan rendang, serta mengenakan pakaian adat (baju kurung/melayu).
Thailand, Idul Fitri khususnya di wilayah Selatan seperti Patani, Satun, dan Yala, identik dengan shalat berjamaah di masjid, mengenakan pakaian Melayu, serta tradisi unik membangun “pintu gerbang” hiasan di depan perkampungan. Suasananya religius dengan ziarah kubur, silaturahmi ke tetangga, dan hidangan khas.
Arab Saudi, Idul Fitri umumnya lebih sederhana tidak ada tradisi mudik, dalam hal jenis makanan (tidak ada makanan khusus yang seragam di seluruh negeri seperti ketupat di Indonesia), namun sangat kental dengan kekeluargaan dan nuansa ibadah
Ketika bertemu saudaranya atau sesama umat Islam mereka Mengucapkan Eid Mubarak atau Kullu Aam wa Antum Bikhair: Ucapan khas yang berarti doa agar senantiasa diberkahi setiap tahunnya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
