Dunia Baru, Kesedihan Lama
Oleh Sudono Syueb, Bidang Kominfo DDII Jatim
Dewandskwahjatim.com, Surabaya –
Muqaddimah
Kita hidup di tatanan dunia baru pasca-pandemi, perang narasi digital, krisis iklim, AI menggantikan kerja manusia, polarisasi politik, dan kecemasan kolektif. Survei Gallup 2025 menyebut 4 dari 10 orang dunia merasa “tidak bahagia” meski materi cukup. Di titik ini, Islam datang bukan dengan utopia, tapi dengan resolusi — jalan keluar yang membumi dan menenangkan.
Islam mendefinisikan damai & bahagia bukan sebagai “tidak ada masalah”, tapi “ada ketenangan saat menghadapi masalah”. Inilah as-sakinah dan as-sa’adah.
1. Fondasi: Apa Arti Damai & Bahagia dalam Islam?
Dalam fondasi ini meliputi Konsep , Makna, dan Dalil.
Konsep *Damai: yaitu *As-Salam & As-Sakinah**
Maknanya: As-Salam = selamat dari permusuhan, lahir & batin. As-Sakinah = ketenangan yang Allah turunkan ke hati.
Dalilnya:“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin…”
Konsep: *Bahagia: meliputi *As-Sa’adah & Al-Falah**
Maknanya: As-Sa’adah = kebahagiaan hakiki dunia-akhirat. Al-Falah = menang, beruntung, hidup berbuah.
Dalilnya:“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya”
Jadi resolusinya bukan “kejar healing”, tapi “benahi being”. Bukan lari dari dunia, tapi hadir di dunia dengan hati yang tersambung ke Allah.
2. 5 Resolusi Profetik untuk Hidup Damai & Bahagia di Era Disrupsi
Resolusi 1: Tauhid Digital — Damai dengan Realitas, Bukan Algoritma
Masalah dunia baru: Doomscrolling, FOMO, compare & despair, identitas dibentuk likes.
Solusi Islam: Tauhid = hanya Allah yang Maha Besar. Maka validasi manusia, tren, dan pasar jadi kecil.
Dalil: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”.
Praktik:
- Digital detox 1 jam setelah Subuh & sebelum tidur. Ganti dengan zikir La ilaha illallah.
- Unfollow akun yang bikin hasad. Follow ilmu & inspirasi.
- Tanya sebelum posting: “Ini cari ridha Allah atau ridha algoritma?”
Resolusi 2: Mizan — Hidup Seimbang di Tengah Ekstrem
Masalah dunia baru: Kerja rodi vs rebahan, hustle culture vs doomer, kapitalisme vs sosialisme.
Solusi Islam: Ummatan wasathan — umat pertengahan. Dunia dikejar, akhirat tidak dilupa.
Dalil: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari dunia…”
Praktik:
- Rumus 8-8-8: 8 jam kerja/ibadah produktif, 8 jam keluarga & sosial, 8 jam istirahat & tidur.
- Sedekah rutin: 2,5% harta = zakat, sisanya investasi akhirat. Harta jadi penenang, bukan pemicu cemas.
- Olahraga & puasa sunnah: jaga jasadiyah agar ruhaniyah kuat.
Resolusi 3: Silaturahim & ‘Afiyah — Bahagia Itu Berjamaah
Masalah dunia baru: Epide mi kesepian. 1 dari 3 Gen Z merasa “tidak punya teman dekat”. AI tidak bisa gantikan pelukan.
Solusi Islam: Kebahagiaan terbesar ada di hubungan: dengan Allah, keluarga, tetangga, umat manusia.
Hadis: “Barangsiapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.”
Praktik:
- Family time wajib: makan malam tanpa HP, minimal 4x seminggu.
- Tetangga First: Kenal nama 10 tetangga kanan-kiri. Titip kunci, bagi makanan. Ini social security terbaik.
- Maafkan sebelum diminta maaf. Dendam = penjara yang kuncinya kita pegang sendiri.
Resolusi 4: Ridha & Ikhtiar — Damai dengan Takdir, Agresif dalam Usaha
Masalah dunia baru: Climate anxiety, PHK massal karena AI, perang, harga naik. Hidup terasa di luar kendali.
Solusi Islam: Bedakan wilayah kuasa. Ikhtiar = 100% usaha. Hasil = 100% ridha.
Dalil: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab…”
Hadis: “Ikatlah untamu, lalu bertawakkal.”
Praktik:
- Bikin 2 daftar tiap malam: “Yang bisa aku kontrol besok” vs “Yang aku serahkan ke Allah”.
- Doa anti-cemas Nabi: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gelisah dan sedih, lemah dan malas…”
- Krisis = peluang amal. PHK? Buka usaha. Perang? Galang donasi. Fathonah = ubah musibah jadi ma’rifah.
Resolusi 5: Rahmatan lil ‘Alamin — Bahagia Itu Memberi, Bukan Mengambil
Masalah dunia baru: Dunia individualis. Self-love kebablasan jadi selfish.
Solusi Islam: Nabi diutus bukan untuk bahagia sendiri, tapi jadi rahmat untuk semesta.
Dalil: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Praktik:
- One day one good deed: senyum, bereskan sampah, ajari 1 ilmu, traktir teman. Dopamin alami.
- Green Jihad: Tanam pohon, kurangi plastik, hemat air. Damai dengan bumi = damai dengan Allah.
- Jadi solusi, bukan komentator. Di grup WA ribut politik? Kirim info lowongan kerja atau beasiswa.
3. Studi Kasus: Muslim di Tengah Tatanan Dunia Baru
Tantangan Respon Profetik Hasil
Gen Z: Mental health crisis Komunitas “One Day One Juz” + healing dengan tahajud. Lapor ke Allah sebelum lapor ke psikolog Kecemasan turun, ibadah naik, circle positif terbentuk
Pekerja: Diganti AI Hadis “Tangan di atas lebih baik”. Reskill ke bidang yang AI belum kuasai: empati, kepemimpinan, dakwah kreatif Banyak eks-karyawan jadi AI trainer + ustadz digital
Negara: Polarisasi Pemilu QS Al-Hujurat: 13 — beda suku/bangsa untuk saling kenal, bukan saling benci. Gerakan “Rukun Setelah Coblos” Konflik horizontal turun, masjid & gereja bikin baksos bareng
4. Checklist Harian: Resolusi Jadi Aksi
- Subuh: Bangun + syukur + rencana hari. “Hari ini mau bahagia dengan cara apa?”
- Dhuha: Sedekah + afirmasi tauhid. “Rezeki dari Allah, bukan dari atasan.
- Siang: Kerja = ibadah. Niat: “Nafkahi keluarga & bantu umat”.
- Ashar: Cek hati. Ada hasad? Istighfar. Ada dendam? Maafkan.
- Maghrib: Family time. HP mode pesawat.
- Isya: Muhasabah 3 hal: syukur hari ini, dosa yang mau ditobati, 1 orang yang mau dibahagiakan besok.
- Tidur: Wudhu + doa + ridha. “Ya Allah, aku titipkan nyawaku pada-Mu.”
Khatimah: Dunia Boleh Baru, Rumus Bahagia Tetap Sama
Tatanan dunia boleh berubah tiap dekade. Tapi resep Islam sejak 1400 tahun lalu tidak kedaluwarsa: Tersambung ke Allah = tenang. Bermanfaat ke manusia = bahagia.
Rasulullah SAW sudah jamin: “Sungguh menakjubkan urusan mukmin. Semua urusannya baik. Jika dapat nikmat bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa musibah bersabar, itu pun baik baginya.”
Jadi resolusi kita di tahun ini sederhana: *Jangan kejar bahagia. Kejar Allah. Bahagia akan ikut sendiri.
Admin: Kominfo DDIIBJatim
