Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Bila kita mencermati dan menganalisa keberkahan Ramadhan, maka akan kita tenemukan keberkahan tersebut mencakup segala aspek kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.
Puasa merupakan perbuatan yang amat sangat agung, baik dilihat dari segi pahala. Syahrul Mubarok (bulan keberkahan), Syahrul Maghfiroh (bulan pengampunan) disa dan pembebasan api Neraka.
Dengan keagungan pahala ramadhan, siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR Bukhari Muslim)
عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”
Namun, terkadang, sisi lain, ada orang merasa dirinya lebih mulia, karena bisa menahan diri, lalu memandang rendah orang lain yang dianggap kurang taat, kurang pantas, kurang mampu, Padahal, Allah melarang merendahkan orang lain karena bisa jadi mereka lebih baik dari yang mengolok-olok. Al Hujurot 12
Memandang rendah orang lain saat berpuasa, seperti meremehkan mereka yang tidak berpuasa atau menganggap diri lebih suci, merupakan perilaku yang bertentangan dengan esensi puasa itu sendiri. Dasar dari perilaku ini umumnya berakar pada kesombongan terselubung (merasa lebih baik) dan ketidak pahaman akan hakikat puasa yang sesungguhnya
Jika kita memiliki pangkat, jabatan atau kelebihan harta terkadang kita sering memandang remeh dan rendah orang -orang miskin dan lemah, padahal bisa jadi kedudukan mereka lebih mulia disisi Allah dari pada kita.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. Al Hujurat 13
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ
Mungkin saja orang yang berpenampilan kusut, senantiasa diusir dari pintu rumah orang, akan tetapi bila bersumpah memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah mengabulkannya.[HR. Muslim]
Kita tidak pernah tahu kedudukan seseorang disisi Allah, maka tak semestinya kita mudah meremehkan dan memandang rendah orang lain.
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيم
“Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” QS. Al Anfal 28.
Firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 28 tersebut, dengan sangat tegas mengingatkan bahwa apa yang kita miliki di dunia ini adalah ujian. Sesungguhnya pakaian bagus yang kita kenakan, kendaraan yang kita naiki, dan rumah yang kita tinggali, adalah kekayaan yang diamanatkan oleh Allah kepada kita. Semua itu adalah titipan dan amanah yang diberikan oleh Allah sebagai ujian, agar dengan ujian tampak jelas siapakah di antara kita yang terbaik amalnya, agar jelas pula siapa di antara kita yang bersyukur dan siapa yang mengingkarinya.
Sebab di mewahkan bukan berarti di muliakan, dan di sempitkan bukan berarti di hinakan,
Maka jangan sombong ketika ketika mendapat lebih, dan jangan berkecil hati ketika mendapat yang sedikit.
Karena terkadang apa yang kita anggap kekurangan bisa jadi kelak menjadi Rahmat.
Dan apa yang kita anggap sebagai nikmat bisa jadi kelak menjadi adzab.
Dan ingatlah bahwa sesungguhnya ukuran kemuliaan seseorang itu bukan karena harta dan rupanya, tapi karena taqwanya.
Disyahrul Mubarak ini, mari kita isi dengan amalan penunjang yang mengalir pahala yang baik seperti tadarus, sedekah dan lain sebahiiannya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
