Oleh: Suharsono, Ketua PD KB-PII Kota Pasuruan
Dewandakwahjatim.com, SURABAYA – Suasana khidmat sekaligus hangat menyelimuti Masjid Al-Hilal, Purwodadi, Bubutan, Surabaya pada Ahad pagi, 24 Mei 2026. Ratusan pasang mata hadir dalam acara “Refleksi dan Peringatan Hari Bangkit ke-79 Pelajar Islam Indonesia (PII)”. Di tengah momentum sejarah tersebut, Prof. Dr. Zainuddin Maliki, Penasihat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, hadir memberikan orasi yang memantik nalar dan menyentuh kesadaran kolektif para kader.
Membuka sambutannya sekitar pukul 10.00 WIB, Prof. Zainuddin menggemakan salam, untaian hamdalah, syahadat, serta selawat yang menyejukkan ruangan. Kehadiran beliau bukan sekadar sebagai pejabat negara, melainkan sebagai seorang kader yang pulang ke rumah spiritualnya.
Suasana seketika berubah penuh kehangatan saat Prof. Zainuddin menyapa para tokoh senior yang membentuk karakter masa mudanya.
”Yang saya hormati senior kita, Kanda Mardi Jarso, instruktur saya pada basic training di SMA Muhammadiyah Nganjuk tahun 1972 silam. Dan juga ada Mbak Djum, mentor saya yang luar biasa,” kenang beliau, disambut senyum takzim hadirin.
Menyentil Kekakuan dengan Pantun
Menyadari bahwa dinamika organisasi pergerakan Islam sering kali terjebak dalam ruang diskusi yang kaku, Prof. Zainuddin memilih mencairkan suasana. Beliau berseloroh bahwa PII tidak boleh terlalu tegang agar tidak membuat generasi muda menjauh karena pola komunikasi yang melulu doktriner.
”Agar PII tidak terlalu serius terus—mungkin ini yang kadang dijauhi anak-anak muda kita, kalau berdebat isinya langsung Qur’an-Hadits, Qur’an-Hadits,” selorohnya yang disambut tawa renyah seisi masjid.
Sebuah pantun penuh makna pun meluncur dari lisan beliau:
Pergi ke pasar membeli kurma,
Jangan lupa singgah di tugu.
Bangkitlah wahai Pelajar Islam Indonesia,
Masa depan bangsa kita sedang menunggu.
Pantun tersebut bukan sekadar pemanis retorika, melainkan sebuah maklumat penting. Prof. Zainuddin menegaskan bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia hari ini sedang berada dalam fase krusial yang sangat menantikan lahirnya kader-kader militan dan berintegritas dari rahim PII.
Ironi Negeri Kaya yang Terbengkalai
Sebagai Penasihat Menteri Desa yang kerap berkeliling ke pelosok Nusantara, Prof. Zainuddin membagikan kesaksian empirisnya mengenai potret Indonesia hari ini. Beliau menceritakan pengalamannya saat mengunjungi tanah Papua.
”Hutannya sangat lebat, rimbun, dan begitu suburnya. Seharusnya rakyat kita bisa hidup makmur dan sesubur alamnya, namun realitasnya mereka justru miskin,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Beliau kemudian menyitir sebuah otokritik tajam yang sempat dilontarkan oleh tokoh PII, Mas Ainurrafiq. Kritik itu menjadi tamparan keras bagi eksistensi organisasi. “Ada KB PII-nya (Keluarga Besar PII), tetapi PII-nya sendiri tidak ada. Ada bupatinya alumni PII, tetapi ruh PII-nya justru tidak nampak,” sitir Prof. Zainuddin, mengingatkan akan pentingnya dampak nyata seorang kader di ruang publik, bukan sekadar simbolisme jabatan.
Menggugat Paradoks Ibu Pertiwi
Menjelang akhir orasinya, Prof. Zainuddin membawa ingatan hadirin pada lirik legendaris Koes Plus yang menyebut bumi Indonesia sebagai tanah surga, tempat di mana “tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Keindahan lirik itu nyatanya kontras dengan realitas geopolitik ekonomi saat ini.
”Kita punya tambang emas terbesar di dunia, dan berbagai kekayaan tambang lainnya yang melimpah ruah,” tegasnya.
Sebuah pertanyaan retoris namun menohok kemudian dilemparkan Prof. Zainuddin sebagai penutup refleksi, sekaligus menjadi tantangan besar bagi generasi penerus PII yang kini menginjak usia 79 tahun:
”Pertanyaannya, kenapa dengan seluruh modalitas itu, Indonesia sampai hari ini masih menjadi negeri yang miskin?”, sebuah gugatan moral yang ditinggalkan di mimbar Masjid Al-Hilal, menuntut jawaban nyata dari aksi dan pengabdian para kader Pelajar Islam Indonesia di masa depan.
Admin: KOMINFO DDII JATIM
Editor: Sudono Syueb
