Pesta Babi, Papua, dan Luka Peradaban Modern

Sebuah Narasi Kritis dalam Cahaya Worldview Wahyu

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita telah membuka ruang diskusi yang luas tentang Papua, pembangunan, negara, dan masa depan kemanusiaan. Sebagian melihatnya sebagai suara kritik terhadap ketidakadilan. Sebagian lain memandangnya terlalu tendensius dan berpotensi membangun stigma terhadap negara. Namun di tengah pertarungan narasi itu, ada satu hal yang sering terlupakan: bagaimana cara kita membaca realitas secara adil dan bermartabat.

Dalam perspektif worldview wahyu, persoalan terbesar dunia modern bukan hanya konflik politik atau perebutan sumber daya, tetapi hilangnya hikmah dalam memandang manusia. Kita hidup di zaman ketika pembangunan sering diukur dengan beton, angka investasi, dan percepatan industri, sementara luka sosial manusia kerap tersembunyi di balik statistik pertumbuhan ekonomi.

Papua adalah contoh bagaimana modernitas menghadirkan paradoks besar. Di satu sisi, negara ingin membangun infrastruktur, membuka akses ekonomi, dan menghadirkan kemajuan nasional. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat merasa tercerabut dari ruang hidup, identitas budaya, dan rasa keadilan sosialnya. Akibatnya pembangunan tidak selalu dirasakan sebagai harapan, tetapi kadang dipersepsikan sebagai tekanan.

Di sinilah pentingnya epistemologi Qurani dalam membaca persoalan sosial. Al-Qur’an mengajarkan bahwa keadilan bukan hanya soal hukum, tetapi juga cara memahami manusia.

Allah berfirman:

“Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaan.” “Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan dan pembangunan harus selalu berdiri di atas keadilan dan ihsan, bukan semata logika kekuatan dan keuntungan.

Namun worldview wahyu juga mengingatkan bahwa kritik sosial tidak boleh dibangun di atas kebencian dan simplifikasi. Sebab realitas sosial tidak pernah sesederhana hitam-putih. Tidak semua pembangunan adalah penjajahan. Tetapi juga tidak semua proyek pembangunan otomatis menghadirkan keadilan.

Karena itu membaca Papua membutuhkan kedewasaan intelektual dan spiritual. Kita tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan masyarakat kecil, tetapi juga tidak boleh membangun narasi yang memelihara permusuhan dan polarisasi tanpa solusi peradaban.

Dalam banyak kasus, problem terbesar modernitas adalah manusia terlalu sibuk membangun sistem, tetapi lupa membangun hati. Negara bisa memiliki teknologi tinggi, proyek besar, dan kekuatan ekonomi, tetapi jika kehilangan empati sosial maka pembangunan berubah menjadi mesin yang dingin.

Sebaliknya, kritik yang kehilangan objektivitas juga dapat berubah menjadi propaganda emosional yang memperkeruh keadaan. Maka worldview wahyu hadir bukan untuk membela satu kepentingan politik, tetapi untuk menjaga manusia tetap berada di jalan keadilan.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Walaa yajrimannakum syana-anu qawmin ‘alaa allaa ta’diluu.” “Janganlah kebencian kepada suatu kaum membuat kalian berlaku tidak adil.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini sangat penting dalam era perang narasi digital hari ini. Sebab media sosial telah membuat manusia mudah marah, mudah menghakimi, tetapi sulit memahami secara mendalam. Potongan video, potongan opini, dan propaganda visual sering lebih cepat membentuk emosi daripada ilmu.

Karena itu Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia menjadi sangat relevan. Wahyu pertama turun dengan perintah membaca karena kehancuran manusia sering dimulai dari kesalahan membaca realitas. Ketika manusia membaca dunia hanya dengan prasangka politik, maka hilanglah kejernihan hati dan keadilan berpikir.

Papua tidak cukup dibangun hanya dengan proyek ekonomi. Papua juga tidak cukup dibela hanya dengan slogan perlawanan. Yang dibutuhkan adalah hadirnya manusia-manusia amanah:

pemimpin yang mendengar rakyat,

intelektual yang jujur,

aktivis yang adil,

media yang bertanggung jawab,

dan masyarakat yang mampu berdialog tanpa kebencian.

Sebab dalam worldview wahyu, tujuan akhir pembangunan bukan hanya pertumbuhan negara, tetapi terjaganya martabat manusia.

Karena peradaban besar bukan dibangun oleh kekuatan yang paling keras, melainkan oleh manusia yang paling mampu menjaga keadilan dan amanah di tengah perbedaan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *