Dari Buniya al-Islam hingga Epistemologi Kemudahan
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah musim perawatan bangunan iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ
“Islam dibangun atas lima perkara…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kata yang digunakan adalah بُنِيَ (buniya) — dibangun.
Islam bukan kumpulan ritual acak, tetapi struktur yang kokoh. Ia memiliki pondasi (syahadat), tiang (shalat), atap pelindung (puasa), pintu sosial (zakat), dan penyempurna (haji).
Dalam arsitektur ini, puasa Ramadhan bukan sekadar tambahan. Ia adalah pelindung bangunan dari kerusakan hawa nafsu.
Ramadhan: Kebutuhan, Bukan Beban
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
(QS. Al-Baqarah: 183)
Kata “kutiba” menunjukkan kewajiban yang tegas. Namun kewajiban ini bukan untuk membebani, melainkan mendidik.
Manusia memiliki dua dimensi:
Jasmani
Ruhani
Tubuh diberi makan setiap hari. Jiwa sering dibiarkan lapar.
Ramadhan hadir sebagai nutrisi ruhani. Kita bukan hanya menjalankan puasa karena diperintah, tetapi karena membutuhkannya.
Puasa sebagai Kebutuhan Universal
Allah melanjutkan:
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
“Sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kalian.”
Puasa bukan ritual eksklusif umat Islam. Ia adalah kebutuhan universal manusia.
Karena sepanjang sejarah, manusia selalu bergulat dengan:
Nafsu
Konsumsi
Ego
Ambisi
Puasa adalah mekanisme pengendalian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ia melindungi manusia dari dirinya sendiri.
Tujuan Besar: Takwa
Allah menutup ayat dengan:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertakwa.”
Takwa adalah kesadaran bahwa hidup berada dalam pengawasan Allah.
Puasa melatih:
Kejujuran dalam kesunyian
Pengendalian emosi
Disiplin waktu
Kepatuhan pada batas
Takwa bukan sekadar konsep. Ia hasil latihan.
Ayyāman Ma’dūdāt: Beberapa Hari yang Terhitung
Allah menyebut puasa sebagai:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ
“Beberapa hari yang tertentu.”
Ini bahasa yang menenangkan.
Ramadhan terbatas. Terhitung. Tidak selamanya.
Beberapa hari latihan, untuk membentuk kesadaran sepanjang tahun.
Epistemologi Kemudahan
Allah juga berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian.”
Sakit dan safar diberi keringanan. Yang tidak mampu diberi fidyah.
Syariat bukan untuk menyiksa, tetapi membimbing.
Agama ini dibangun atas rahmat.
Penutup: Ramadhan sebagai Momentum Perawatan
Selama tiga hari pertama, kita telah diingatkan bahwa:
Islam adalah bangunan
Puasa adalah pelindungnya
Ramadhan adalah kebutuhan
Tujuannya adalah takwa. Waktunya terbatas. Jalannya penuh kemudahan
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar.
Ia adalah sekolah pengendalian diri.
Ia adalah laboratorium takwa. Ia adalah perawatan tahunan bangunan iman.
Pertanyaannya kini bukan berapa hari lagi menuju Idul Fitri, tetapi sejauh mana bangunan iman kita diperbaiki.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
