Oleh : Suharsono
Ketua PD KB PII KOTA PASURUAN
Dewandakwahjatim.com, SURABAYA – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Hilal, Purwodadi, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya pada Ahad pagi, 24 Mei 2026. Di tempat bersejarah ini, keluarga besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Timur berkumpul untuk satu tujuan mulia: menggelar Refleksi dan Peringatan Hari Bangkit ke-79 PII.
Acara yang sarat emosi dan nostalgia ini menjadi momentum penting untuk menengok kembali khitah perjuangan organisasi pelajar tertua di Indonesia tersebut.
Setelah mengumandangkan bakda salam, memanjatkan puji syukur yang mendalam, serta melantunkan shalawat kepada Rasulullah SAW, Wakil Ketua Keluarga Besar (KB) PII Jawa Timur, Ainur Rafiq Sophiaan SE.M.Si, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para tokoh kunci yang hadir:
Ketua Takmir Masjid Al Hilal, yang telah menyediakan tempat yang penuh berkah demi terselenggaranya acara ini.
Prof. Zainuddin Maliki, selaku Ketua Umum KB PII Jawa Timur yang terus konsisten mengawal arah gerakan organisasi.
Kanda Sumardi Jarso, sosok paling senior yang hadir dengan semangat menyala-nyala, membuktikan bahwa usia hanyalah angka dalam berjuang.
Kanda Djumilah, yang dengan nada kelakar namun penuh hormat disebut sebagai “sang provokator”—provokator kebaikan yang selalu membakar semangat para kader.
Ironi Angka: KB PII Tumbuh, PII Menyusut
Masuk ke inti pidato, nada bicara Ainur berubah menjadi lebih reflektif dan menggugah. Ia menyoroti sebuah realitas pahit yang saat ini sedang dihadapi oleh organisasi di wilayah Jawa Timur. Tantangan nyata ini sebelumnya juga sempat diulas oleh Ketua Umum PII Jawa Timur.
”Kita di Jawa Timur saat ini menghadapi ironi yang nyata. Pengurus KB PII (alumni) kita ada di 20 daerah, namun struktur aktif PII (pelajar) justru hanya ada di 10 daerah,” ungkap Ainur di hadapan para hadirin.
Ketimpangan ini mengingatkan Ainur pada sebuah sentilan keras namun faktual yang pernah dilontarkan oleh tokoh nasional sekaligus senior PII, Prof. Muhadjir Effendy.
”Gak onok gunane KB PII-ne onok, tapi PII-ne gak onok (Tidak ada gunanya organisasi alumninya ada dan besar, kalau organisasi pelajarnya justru tidak ada).”
Kalimat profetik tersebut diputar kembali sebagai alarm keras bagi seluruh keluarga besar. Eksistensi sebuah organisasi alumni kehilangan legitimasi moral dan fungsionalnya jika rahim yang melahirkannya—yaitu ikatan pelajarnya—justru mati suri. Itulah tantangan terbesar, sebuah pekerjaan rumah (PR) kolektif yang mendesak untuk diselesaikan.
Angin Segar dari Besuki dan Gugatan Regenerasi
Di tengah otokritik tersebut, Ainur menyelipkan secercah harapan. Beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kabar gembira dari tapal kuda. Kanda Rifai, Ketua KB PII Se-Karesidenan Besuki, baru-baru ini berhasil menginisiasi dan membentuk kepengurusan KB PII di Kabupaten Bondowoso. Langkah ini dinilai sebagai pematik api gerakan yang patut dicontoh oleh daerah lain.
Namun, momentum baik ini tidak akan berarti apa-apa tanpa tindakan nyata dari kepengurusan aktif saat ini. Ainur memberikan catatan kritis dan desakan langsung kepada Pengurus Wilayah PII Jawa Timur agar segera mengambil langkah taktis di lapangan.
”Masak yang sudah sepuh-sepuh ini yang disuruh turun ke sekolah-sekolah untuk mencari anggota PII? Jelas sudah beda generasi, pendekatannya pun sudah berbeda. Ini tugas kalian yang muda,” tegasnya.
Mengakhiri pidatonya, Ainur mengajak seluruh hadirin yang memadati Masjid Al Hilal untuk menjadikan peringatan Hari Bangkit ke-79 ini bukan sekadar seremonial belaka. Angka 79 tahun harus menjadi momentum permenungan yang mendalam: apakah PII Jatim akan terus melahirkan pemimpin bangsa, atau justru perlahan tergerus zaman karena kelalaian dalam merawat regenerasi?
Tantangan telah dilemparkan, kini bola panas ada di tangan para pengurus aktif untuk membuktikannya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
