Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1-5, dimulai dengan perintah “Iqra’ bismi Rabbikalladzi khalaq” Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Penggunaan frasa “bismi Rabbika” (dengan sistem/nama Rabbmu) memiliki makna mendalam yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan ketuhanan.
Perintah “Iqra'” tidak berdiri sendiri, melainkan harus terikat dengan bismi Rabbika (nama/sistem Rabbmu). Ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan, penelitian, dan literasi yang dikembangkan manusia tidak boleh menjauhkan diri dari Pencipta, melainkan justru semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Pengertian “Rabb” (Pendidik dan Pemelihara): Rabb bukan sekadar Pencipta (Khaliq), tetapi juga berarti Tuhan yang mendidik, memelihara, mengatur, dan memberikan nikmat. Membaca dengan nama Rabb berarti menyadari bahwa aktivitas belajar adalah bagian dari proses pendidikan Allah kepada manusia agar mengenal-Nya dan alam semesta.
Objek bacaannya yang Luas, Allah tidak menyebutkan objek spesifik setelah kata Iqra’ (Bacalah), yang berarti perintah ini berlaku umum ya membaca ayat-ayat Qur’aniyah (Al-Qur’an) dan ayat-ayat Kauniyah (alam semesta, fenomena sosial, dan diri manusia sendiri).
Bacalah dengan nama Rabb-mu
Sebuah kata yang mendapat penekanan, dan yang pertama menghujam di hati Rasulullah saw. Allah Swt. memilih kata ini dalam bentuk motivasi pada satu hal, yaitu ilmu. Dan Dia memilih satu metode kajian ilmu, yaitu membaca. Metode belajar Rabbani.
Metode Rabbani adalah pendekatan komprehensif untuk memahami proses penciptaan, pemeliharaan, perenungan. Pendidikan karakter yang berbasis Al-Qur’an dan Sunnah, seringkali mengintegrasikan mind mapping, visualisasi, dan pendekatan holistik. Metode ini fokus pada penanaman nilai spiritual (afektif), pemahaman mufradat, dan penguatan aqidah, serta membentuk generasi cerdas, mandiri, dan berakhlaq.
Rabb berarti:
Pendidik
Pembina sistem
Pengatur pertumbuhan
Artinya Membaca harus terhubung dengan sistem pendidikan ilahi. Ini adalah model pembentukan peradaban berbasis ilmu terarah.
Urutan Strategis Setelah Iqra’
Perhatikan tahapannya:
- Al-‘Alaq → sumber ilmu membungkar semua kejahiliyahan, kejumudan dan pemikiran yang tidak rasionalistik.
- Al-Qalam → legitimasi pena dan ilmu artinya dimulainya tahapan belajar ilmu pengetahuan, penelitian, dan literasi yang dikembangkan manusia tidak boleh menjauhkan diri dari Pencipta.
- Al-Muzzammil → pembinaan internal.
Berisikan keterangan tentang bekal rohani untuk para manusia dalam menghadapi kesulitan dan kesusahan hidup, sebagai peneguhan untuk Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dan ancaman bagi orang-orang yang mendustakannya. - Al-Muddatstsir → bangun sistem sosial sebagai salah satu wahyu awal yang menjadi fondasi pembangunan sosial (pemberdayaan masyarakat) dalam Islam. Ayat-ayat ini tidak hanya berisi perintah ibadah ritual, tetapi juga seruan untuk keluar dari “zona nyaman” (berselimut) untuk melakukan perubahan sosial, perbaikan karakter, dan dakwah aktif.
- Al-Fatihah → bukan sekadar bacaan shalat, melainkan kompas hidup utama (Ummul Kitab) yang mengarahkan seorang Muslim menuju tauhid murni, ketaatan ibadah, dan akhlak mulia. Ia menuntun hidup melalui pengakuan kasih sayang Allah, kesadaran akan hari pembalasan, pengabdian total (Iyyaka na’budu), dan permohonan petunjuk jalan yang lurus (Ihdinash shiratal mustaqim).
Pribadi rabbani akan sangat dekat dengan Allah dalam kondisi apapun baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun dalam keadaan berbaring. Generasi rannabi akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai cinta kepada rosul nya dalam tataran amal yang konkrit (Al-Qur’an berjalan).
Dalam prakteknya, kegiatan seorang islam, terpadu, hendaklah mengacu pada nilai-nilai rabbani. Aktivitas Rabbaniyah hendaknya berlangsung terus menerus selama proses. kehidupan. Bentuk aktivitas rabbaniyah meliputi aplikasi dzikir, fikir, tadabbur, dan aplikasi amal. Sebagai contoh ketika melihat fenomena alam seperti hujan, banjir, gempa bumi, energi dan sebagainya dikaitkan dengan keagungan, kebesaran Allah dan isyarat-isyarat dalam Al-qur’an dan hadist.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
