Panduan Keluar dari Kekacauan Kepemimpinan

Oleh Kemas Adil Mastjik (Wakil Ketua Dewan Dakwah Jatim Bidang Pendidikan)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Keluhan terhadap kepemimpinan bukanlah fenomena baru. Dari masa ke masa, masyarakat kerap mempertanyakan mengapa pada suatu zaman kehidupan terasa tenteram, adil, dan penuh keberkahan, sementara pada masa lain dipenuhi kekacauan, konflik, dan bencana sosial.

Dalam khazanah hikmah Islam, terdapat sebuah kisah reflektif yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib Ra. Kisah ini memberi jawaban mendalam atas persoalan seperti yang tergambar pada paragraf di atas.

Dua Senada

Dikisahkan, Ali bin Abi Thalib Ra pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa pada masa Rasulullah ﷺ dan para khalifah awal keadaan umat relatif damai dan penuh keberkahan, sedangkan pada masa sekarang banyak terjadi kekacauan dan bencana?”

Ali Ra menjawab dengan lugas namun menggugah, “Karena pada masa Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar Ra serta Umar Ra, yang menjadi pemimpin adalah orang-orang seperti kami, sementara rakyatnya orang-orang seperti kalian. Adapun hari ini, pemimpinnya adalah orang-orang seperti kalian, dan rakyatnya pun orang-orang seperti kalian.”

Jawaban ini bukan sekadar kritik politik, melainkan kritik moral yang bersifat kolektif. Ali Ra tidak melempar kesalahan sepenuhnya kepada pemimpin, tetapi mengajak umat bercermin bahwa kualitas kepemimpinan sangat erat dengan kualitas masyarakat yang melahirkannya.

Berikut ini, bisa untuk melengkapi. Ada pelajaran dari kalimat Natsir ini: “… Memimpin adalah untuk dapat melepaskan. Bukan kemegahan yang hakiki bagi pemimpin… tetapi tatkala dia tidak ada lagi, segala sesuatunya menjadi berantakan dan kacau balau…” (Capita Selecta 2, 2008, h. 447).

Menurut Natsir, problem kepemimpinan bukan semata soal sistem politik, melainkan soal rusaknya orientasi hidup dan melemahnya fondasi tauhid dalam masyarakat.

Lahir dari Lingkungan

Dalam pandangan Islam, pemimpin bukan sosok yang hadir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari sistem nilai, budaya, dan kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat. Ketika kejujuran dijunjung tinggi, amanah menjadi prinsip hidup, dan kebenaran diperjuangkan meski pahit, maka pemimpin yang muncul pun cenderung berkarakter sama.

Sebaliknya, ketika kebohongan dianggap lumrah, pelanggaran kecil ditoleransi, dan kepentingan pribadi mengalahkan nilai moral, maka pemimpin yang lahir tak jauh berbeda dari masyarakatnya—hanya memiliki kuasa yang lebih besar.

Al-Qur’an menegaskan relasi ini melalui firman Allah, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan” (QS Al-An‘am: 129). Ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang bermasalah sering kali merupakan buah dari kerusakan nilai yang telah mengakar di tingkat sosial.

Bencana yang Bertalian

Ali bin Abi Thalib Ra juga mengingatkan bahwa kekacauan dan bencana tidak selalu bermula dari kesalahan kebijakan semata. Ia kerap didahului oleh kerusakan moral kolektif: ketika amanah diabaikan, hukum dipermainkan, dan kebenaran diperdagangkan demi keuntungan sesaat. Dalam konteks ini, bencana bukan hanya fenomena alam, tetapi juga peringatan sosial. Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS Ar-Rum: 41). Ayat ini menuntun manusia untuk melakukan muhasabah, bahwa perubahan keadaan tidak cukup hanya dengan mengganti pemimpin, tetapi harus disertai perubahan perilaku dan nilai hidup masyarakat.

Dalam konteks Indonesia kini, kritik terhadap pemimpin kerap mengemuka terutama ketika kasus korupsi, konflik elite, dan ketidakadilan sosial terus berulang. Namun kisah Ali bin Abi Thalib Ra mengajak kita untuk bertanya lebih jujur: sudahkah masyarakat membangun budaya kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama? Sudahkah pendidikan—baik di keluarga, sekolah, maupun ruang publik—menempatkan akhlak sebagai fondasi utama, bukan sekadar pelengkap?

Tanpa perbaikan karakter umat, pergantian pemimpin berisiko hanya menjadi rutinitas demokratis tanpa perubahan substansial. Sistem boleh berganti, regulasi bisa diperbaiki, tetapi tanpa manusia yang berintegritas, kepemimpinan yang adil akan sulit terwujud.

Ibrah Sejarah

Kisah Ali bin Abi Thalib Ra adalah cermin yang jujur bagi umat. Ia menegaskan bahwa krisis kepemimpinan pada hakikatnya adalah krisis moral bersama. Jika masyarakat menginginkan pemimpin yang amanah, adil, dan takut kepada Allah, maka perbaikan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sosial.

Lihat, sejarah Islam mengajarkan, pemimpin yang besar lahir dari umat yang besar dalam iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Wallahua’lam. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *