Perspektif The Real Enemy is Within karya Cak Muhid dalam geprek series
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakeahjatim.com, Surabaya – Dalam perspektif buku The Real Enemy is Within karya Cak Muhid, peperangan paling menentukan dalam hidup manusia bukanlah perang yang terjadi di medan laga, melainkan perang yang berlangsung di ruang paling sunyi: di dalam dirinya sendiri. Sebab banyak orang berhasil menaklukkan dunia, tetapi gagal menaklukkan ego, ketakutan, kesombongan, keluhan, dan kegelisahan yang bersembunyi di dalam dadanya.
Manusia sering mengira musuhnya berada di luar.
Ia menunjuk keadaan.
Ia menunjuk orang lain.
Ia menunjuk lingkungan.
Ia menunjuk takdir.
Padahal sering kali yang merusak hidupnya bukanlah badai di luar kapal, melainkan kebocoran kecil yang terjadi di dalam kapal itu sendiri.
Laut yang luas tidak pernah mampu menenggelamkan kapal.
Yang menenggelamkan kapal adalah air yang berhasil masuk ke dalamnya.
Begitu pula dunia.
Dunia tidak pernah mampu menghancurkan manusia selama manusia tidak membiarkan dunia masuk dan menguasai dirinya.
Karena itu Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan bagaimana menghadapi dunia, tetapi juga bagaimana menaklukkan diri sendiri.
Ada lima ayat yang dapat dipandang sebagai lima senjata Qur’ani untuk menghancurkan lima musuh utama yang bersemayam di dalam jiwa manusia.
Pertama: Menggeprek Ego
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Ego adalah tiran yang bersembunyi di dalam istana diri.
Ia tidak memakai mahkota.
Tidak duduk di singgasana.
Tetapi diam-diam mengendalikan seluruh kerajaan jiwa.
Ego selalu memiliki satu kebiasaan:
Mencari kesalahan di luar dirinya.
Saat gagal, ia menyalahkan keadaan.
Saat jatuh, ia menyalahkan orang lain.
Saat tersesat, ia menyalahkan jalan.
Doa Nabi Yunus menghancurkan seluruh mekanisme pertahanan ego itu.
Beliau tidak menyalahkan laut.
Tidak menyalahkan ikan.
Tidak menyalahkan umatnya.
Beliau berkata:
“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya ia adalah revolusi kesadaran.
Karena perubahan tidak pernah lahir dari menyalahkan dunia.
Perubahan lahir dari keberanian untuk bercermin.
Dan cermin yang paling jujur adalah hati yang berani mengakui kekurangannya sendiri.
Maka ayat ini adalah palu pertama.
Palu untuk menghancurkan berhala bernama “aku selalu benar.”
Kedua: Menggeprek Ketakutan
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Jika ego hidup di masa lalu, maka ketakutan hidup di masa depan.
Ia membuat manusia menderita karena sesuatu yang belum terjadi.
Ia menciptakan ribuan kemungkinan buruk lalu memaksa manusia mempercayainya.
Ketakutan adalah pelukis ilusi.
Ia menggambar monster di dinding lalu membuat kita takut pada bayangan sendiri.
Padahal sebagian besar ketakutan manusia tidak pernah benar-benar terjadi.
Kalimat:
Hasbunallahu wa ni’mal wakil
adalah deklarasi kemerdekaan jiwa.
Seolah seorang hamba berkata:
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tetapi aku tahu siapa yang menguasai hari esok.”
Dan itu sudah cukup.
Burung tidak pernah membawa peta.
Tidak pernah membawa rekening.
Tidak pernah membawa proposal kehidupan.
Tetapi setiap pagi ia meninggalkan sarangnya dengan penuh keyakinan.
Karena ia memahami sesuatu yang sering dilupakan manusia:
Bahwa langit yang menciptakan dirinya juga menjamin rezekinya.
Ketiga: Menggeprek Kesombongan
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Kesombongan adalah kabut yang membuat manusia lupa asal-usulnya.
Ia membuat setetes air merasa dirinya samudera.
Ia membuat debu merasa dirinya gunung.
Ia membuat manusia lupa bahwa seluruh kemampuan yang dimilikinya hanyalah pinjaman sementara.
Kita sering kagum pada buah.
Tetapi lupa pada akar.
Kita kagum pada cahaya lampu.
Tetapi lupa pada sumber energinya.
Kita kagum pada keberhasilan.
Tetapi lupa kepada Allah yang memungkinkan keberhasilan itu terjadi.
Maa syaa Allah laa quwwata illa billah adalah ayat yang memulangkan manusia kepada posisi aslinya.
Bahwa kita bukan pemilik.
Kita hanyalah penerima amanah.
Bahwa kita bukan sumber kekuatan.
Kita hanyalah saluran yang diberi kekuatan.
Saat seseorang memahami hal ini, kesombongan kehilangan tanah tempat berpijak.
Keempat: Menggeprek Keluhan
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Ada manusia yang setiap luka menjadi alasan untuk marah kepada kehidupan.
Ada pula manusia yang menjadikan luka sebagai jalan menuju kedewasaan.
Nabi Ayyub mengajarkan kategori kedua.
Beliau kehilangan banyak hal.
Tetapi tidak kehilangan satu hal yang paling penting:
kepercayaan kepada Allah.
Beliau tidak berteriak kepada langit.
Tidak menggugat takdir.
Tidak mempertanyakan keadilan Tuhan.
Beliau hanya berkata:
“Aku ditimpa kesusahan dan Engkau Maha Penyayang.”
Betapa indahnya kalimat ini.
Di tengah penderitaan, yang dilihat bukan hanya luka.
Tetapi juga rahmat.
Di tengah gelap, yang dilihat bukan hanya malam.
Tetapi juga kemungkinan datangnya fajar.
Karena sejatinya keluhan lahir ketika manusia hanya melihat apa yang diambil Allah.
Sedangkan kesabaran lahir ketika manusia masih mampu melihat apa yang Allah sisakan.
Kelima: Menggeprek Ilusi Kontrol
وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Inilah musuh terakhir.
Dan sering kali musuh yang paling sulit dikalahkan.
Keinginan untuk mengendalikan segalanya.
Manusia ingin mengatur cuaca hidupnya.
Ingin menentukan seluruh hasil.
Ingin memastikan semua berjalan sesuai rencana.
Padahal hidup bukan mesin.
Hidup adalah samudera.
Dan samudera tidak pernah tunduk pada kehendak pelaut.
Pelaut yang bijak bukan yang mengendalikan angin.
Melainkan yang belajar menyesuaikan layar.
Ayat ini mengajarkan puncak kematangan spiritual:
“Aku menyerahkan urusanku kepada Allah.”
Bukan menyerah dari ikhtiar.
Tetapi menyerahkan hasil setelah ikhtiar.
Bukan berhenti bekerja.
Tetapi berhenti memaksa takdir mengikuti kehendak diri.
Karena ada banyak hal yang berada di luar wilayah kekuasaan manusia.
Dan ketenangan lahir ketika manusia berhenti mencoba menjadi Tuhan atas hidupnya sendiri.
Dari Musuh Menjadi Sahabat
Dalam perspektif The Real Enemy is Within, musuh terbesar manusia bukanlah orang lain. Musuh terbesar adalah versi buruk dari dirinya sendiri yang belum berhasil ditaklukkan.
Ego yang selalu merasa benar.
Ketakutan yang selalu membesar-besarkan ancaman.
Kesombongan yang lupa asal-usul.
Keluhan yang menolak hikmah.
Dan obsesi mengendalikan hidup yang melampaui batas kemampuannya.
Kelima ayat ini hadir bukan sekadar untuk dibaca.
Tetapi untuk mengubah struktur jiwa.
Karena manusia tidak akan pernah menemukan kedamaian hanya dengan mengubah dunia di luar dirinya.
Kedamaian lahir ketika ia berhasil menaklukkan dunia yang ada di dalam dirinya.
Dan mungkin, kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah ketika kita berhasil menguasai dunia.
Melainkan ketika kita berhasil menguasai diri sendiri, lalu dengan penuh kerendahan hati berkata:
“Ya Allah, aku telah berusaha semampuku. Selebihnya, aku serahkan seluruh urusanku kepada-Mu.”
Admin: Kominfo DDII Jatim
