Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا . رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : حَدِيثٌ حَسَنٌ
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]
Hadits diatas, menunjuk pentingnya sholat, karena sholat satu amalan yang pertama kali di hisab. Bila sholatnya baik dan memenuhi persyaratan bagi Allah, maka amalan yang lain tidak diperhitungkan, tetapi bila sholatnya jelek maka amalan yang baru diperhitungkan.
Perbaikilah sholatmu, bacaan do’anya, panjang pendek hurufnya, makhrojnya, tajwitnya sehingga memenuhi kriteriak amalan yang perlu diperhitungkan /diterima oleh Allah. Berupayalah sebaik mungkin dan sesempurna mungkin jangan asal asalan memenuhi syarat dan rukunnya tetapi kondisi batin tidak sambung dengan Allah.
Rasûlullâh telah mengabarkan kelak dikemudian hari (yaumul mahsyar) banyak orang menyesal karena sholatnya tidak diterima Allah, lantaran menganggap bahwa sholat hanya sebagai pelengkap amalan ibadah saja.
Yaumul Hisab adalah hari perhitungan seluruh amal perbuatan manusia selama hidup di dunia, yang terjadi di padang Mahsyar setelah kebangkitan. Setiap amal sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan, di mana anggota tubuh menjadi saksi dan kitab catatan amal dibagikan. Allah SWT berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
Artinya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, Al Ma’un 4.
ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya,” Al Ma’un 5
Lalai dalam ayat tersebut bukanlah orang yang tidak mengerjakan sholat. Melainkan mereka yang sholat namun tidak dengan sepenuh hati. Bahkan, sholat mereka tidak disertai dengan tindak amal saleh.
“Dan aku memerintahkan kamu untuk shalat, jika kamu shalat maka janganlah kamu berpaling (menoleh) karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kewajah hamba tersebut dalam shalat selama dia tidak diubah”. HR. Bukhari.
Abdullah bin Umar – Radiyallahu ‘anhuma – berkata :
ما من مؤمن يتم الوضوء إلى أماكنه، ثم يقوم إلى الصلاة في وقتها فيؤديها لله عز وجل لم ينقص من وقتها، وركوعها وسجودها ومعالمها يستضيء بنورها ما بين الخافقين حتى ينتهى بها إلى الرحمن عز وجل، ومن قام إلى الصلاة فلم يكمل وضوءها وأخرها عن وقتها، واسترق ركوعها وسجودها ومعالمها، رفعت عنه سوداء مظلمة، ثم لا تجاوز شعر رأسه تقول: “ضيعك الله كما ضيعتني، ضيعك الله كما ضيعتني” (والحديث ضعيف).
Tidaklah seorang mukmin menyempurnakan wudhu’nya kemudian dia melaksanakan shalat pada waktunya, dia laksanakan dengan ikhlas kepada Allah, tanpa ada kekurangan pada waktunya, rukuknya, sujudnya dan sunnah-sunnahnya melainkan dia akan mendapatkan cahanya antara barat dan timur sampai akhirnya berakhir di sisi Allah ‘azza wa jalla. Dan siapa saja yang melaksanakan shalat, dia tidak menyempurnakan wudhu’nya, mengakhirkan waktunya, tidak menyempurnakan rukuk, sujud dan sunnah – sunnahnya maka diangkatkan darinya benda hitam gelap dan langsung mengatakan kepadanya : Allah akan menyia-nyiakan sebagaimana kamu menyia-nyiakanku… Allah akan menyia – nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakan.
Mencuri Shalat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.أَوْ قَالَ : لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَ السُّجُودِ
“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalatnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” Atau beliau bersabda, “Ia tidak menegakkan punggungnya ketika rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad, 22:569.) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:12, bahwa sanad hadits ini sahih).
hadis Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan Ibnu Majah:
لاَ نَرْفَعُ صَلاَتَهُمْ فَوْقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْراً
“Kami tidak mengangkat shalat mereka ke atas kepala mereka walau satu jengkal.”
Kuntowijoyo menyebut ajaran ini dengan inter-connectedness, yaitu keterkaitan ibadah secara vertikal (ibadah manusia kepada Tuhan) dan horisontal (kepedulian antar manusia). Dia memberikan contoh keterkaitan di atas dengan puasa dan zakat serta antara salat dan solidaritas sosial.
Salat, misalnya, telah disebutkan dalam al-Qur’an bahwa ibadah ini seharusnya mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar (QS. al-‘Ankabut[29]: 45).
Begitu pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 6008)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى صَلَاةِ عَبْدٍ لَا يُقِيمُ فِيهَا صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهَا وَسُجُودِهَا
“Allah tidak akan melihat seorang hamba yang tidak meluruskan tulang punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (HR Ahmad 16283, Al Albani menganggap sanadnya baik dalam Ash Shahihah 2536)
Apabila seseorang menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla sementara antara dia dan Allah terdapat penghalang berupa hawa nafsu dan was-was (godaan), jiwa sibuk dan penuh dengan hawa nafsu dan was-was tersebut, bagaimana mungkin itu dikatakan menghadap (Allah) padahal dia dipermainkan oleh godaan dan berbagai fikiran yang membawa kesana kemari.
Seorang hamba apabila sudah berdiri untuk shalat, maka syetan akan gelisah karena dia berdiri di tempat yang paling mulia dan paling dekat (kepada Allah) yang sangat tidak disukai syetan. Makanya syetan berusaha semaksimal mungkin untuk menghalanginya, dia selalu menggoda hamba tersebut, membuatnya berangan-angan, dan lupa. Syetan akan berusaha mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya untuk menjadikan hamba tadi menganggap enteng shalat tersebut, sehingga akhirnya tidak fokus dalam sholatnya dan bahkan meninggalkan.
Tertolak Shalatnya
Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas RA melalui hadits yang dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykat Al-Mashobiih, dikatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda terkait tiga kelompok yang tidak diterima sholatnya, yaitu:
ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ
Artinya: “Terdapat tiga kelompok yang sholatnya tidak terangkat meskipun hanya sejengkal dari atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah SWT). Ketiga golongan tersebut pertama, orang yang mengimami sebuah kamu akan tetapi kaum itu membencinya. Kedua, istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya. Ketiga, dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan),” (HR Ibnu Majah)
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
