Tauhid dan Ibadah; Tempat Bertolak Dakwah

Oleh M. Anwar Djaelani, Pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – lbadah yang ikhlas dan tertib itulah sumber kekuatan bagi jiwa seseorang, untuk mengendalikan diri agar jangan sampai terbawa hanyut oleh hawa nafsu dalam bermacam bentuknya
(Natsir, Fiqhud Da’wah, 1983: 38).

Dakwah tidak lahir dari kehampaan. Dakwah bukan sekadar kepandaian berbicara atau kemampuan memengaruhi orang lain. Dakwah yang benar tumbuh dari jiwa yang bertauhid dan hati yang akrab dengan ibadah. Oleh karena itu, Natsir dalam buku Fiqhud Da’wah menempatkan tauhid dan ibadah sebagai tempat bertolak perjuangan seorang Muslim.

Rasulullah Saw datang membawa risalah untuk seluruh manusia. Sebuah risalah yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah (Natsir, 1983: 37). Itulah jiwa tauhid.


Tanpa tauhid, dakwah kehilangan arah. Tanpa ibadah, dakwah kehilangan tenaga ruhani. Orang mungkin masih bisa berceramah, menulis, atau menggerakkan masyarakat, tetapi dakwahnya kering dari cahaya ketulusan.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu …..” (QS Al-Anfal [8]: 24).

Ayat tersebut mengandung spirit besar dakwah Islam. Bahwa, seruan Nabi Muhammad Saw sesungguhnya adalah panggilan menuju kehidupan yang hakiki. Bukan sekadar hidup secara fisik, tetapi berupa hidupnya hati, hidupnya akal, dan hidupnya jiwa.


Banyak manusia berjalan, bekerja, dan beraktivitas yang lain, tetapi sering sesungguhnya batinnya mati. Hidup tanpa iman membuat manusia kehilangan arah. Oleh karena itu, Rasulullah Saw datang membawa risalah untuk seluruh manusia. Sebuah risalah yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.

Di masa jahiliyah, manusia bertuhan kepada berhala, kekuasaan, tradisi, dan sesama manusia. Hari ini pun penghambaan seperti itu masih ada, hanya bentuknya berbeda. Ada yang takut kehilangan jabatan hingga menggadaikan prinsip. Ada yang takut miskin lalu menghalalkan segala cara. Ada yang takut kepada manusia melebihi takut kepada Allah.


Di sinilah tauhid menjadi fondasi kemerdekaan jiwa. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak ditakuti, dicintai, dan disembah secara mutlak. Ketika tauhid mengakar kuat, manusia menjadi merdeka. Dia tidak mudah tunduk kepada tekanan manusia. Dia berani berkata benar meski berat. Dia tidak menjual iman demi keuntungan sesaat.


Oleh karena itu, kemerdekaan sejati tidak mungkin berdiri tanpa tauhid. Orang yang masih diperbudak hawa nafsu, pujian manusia, atau ketakutan duniawi sesungguhnya belum merdeka.

Natsir melihat bahwa dakwah Islam harus dimulai dari pembinaan tauhid, sebab tauhid adalah sumber keberanian, keteguhan, dan kemuliaan manusia. Namun, tauhid tidak cukup berhenti pada pengakuan lisan. Tauhid harus mewujud lewat ibadah. Orang yang mengaku beriman kepada Allah dipanggil untuk menyembah-Nya. Dari sinilah lahir kedekatan ruhani seorang Muslim dengan Rabb-nya, terutama lewat ibadah.

Shalat, puasa, tilawah Al-Qur’an, dzikir, dan doa bukan sekadar ritual rutin. Semua itu adalah sarana menjaga nyala iman. Ibadah adalah makanan ruhani manusia. Tanpa ibadah, hati akan mengeras. Jiwa menjadi kering. Semangat dakwah pun mudah padam.

Oleh karena itu, Natsir menegaskan bahwa ibadah yang ikhlas dan tertib adalah sumber kekuatan. Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (QS Al-Ankabut [29]: 45).

Shalat yang benar bukan hanya menggerakkan tubuh, tetapi juga membentuk akhlak. Ia menjaga manusia dari kerusakan moral. Ia melatih disiplin, kekhusyukan, dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.

Demikian pula puasa. Allah berfirman: “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Tampak, puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia mendidik jiwa agar mampu mengendalikan hawa nafsu. Orang yang terbiasa mengendalikan dirinya akan lebih siap memikul amanah dakwah. Sebab, dakwah bukan jalan yang ringan. Di dalamnya ada ujian, penolakan termasuk cemoohan. Oleh karena itu, seorang pendakwah memerlukan kekuatan batin. Kekuatan itu lahir dari tauhid yang kokoh serta ibadah yang istiqomah.
Tauhid yang kuat dan ibadah yang terjaga juga melahirkan ketenangan jiwa. Allah berfirman: “…… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS Ar-Ra’d [13]: 28).

Tak jarang, banyak manusia memiliki harta melimpah tetapi hatinya gelisah. Ada yang terkenal tetapi kesepian. Ada yang berkuasa tetapi hidup dalam kecemasan. Mengapa? Hal itu karena ketenangan sejati tidak bersumber dari hal yang sifatnya duniawi. Ia lahir dari kedekatan dengan Allah.

Oleh karena itu pula, Allah mempersilakan hamba-Nya berdoa: “….. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku …..” (QS Al-Baqarah [2]: 186). Ayat ini menghadirkan kedamaian bagi hamba-Nya. Bahwa, seorang mukmin tidak pernah sendirian. Ada Allah yang mendengar, melihat, dan menolong.

Dari sinilah dakwah memperoleh tenaga sejatinya. Bukan semata dari strategi, organisasi, atau retorika. Daya dakwah, timbul dari hubungan si pendakwah yang kuat dengan Allah.

Jika Dekat

Dengan demikan, tauhid dan ibadah memang menjadi tempat bertolak dakwah. Tauhid melahirkan keberanian dan kemerdekaan jiwa. Ibadah melahirkan kekuatan dan ketenangan hati. Lalu, dari keduanya lahir dakwah yang tulus, sabar, dan istiqomah.

Alhasil, sesungguhnya, dakwah yang paling kuat bukan hanya yang terdengar menarik di mimbar. Dakwah akan sukses, jika memancar dari hati yang dekat dengan Allah. Allahu Akbar! []

Admin: Kominfo DDII Iatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *