Dari Pesisir Menjadi Pusat Dakwah: Perjalanan Ustadz Khoirul Roziqin di Sedayulawas

Laporan : Syayid Ghozali Bid. Kominfo

Dewandakwahjatim.com, Brondong, Lamongan — Di tengah debur ombak dan kerasnya kehidupan nelayan, dakwah tumbuh perlahan, mengetuk hati demi hati. Sejak 2002, Ustadz Khoirul Roziqin Da’i Dewan Da’wah merintis dakwah di kawasan pesisir Pantura, tepatnya di Sedayulawas, Brondong, Lamongan.

Saat itu, kondisi masyarakat di kawasan utara jalan Sedayulawas dikenal berbeda dengan wilayah selatan jalan yang banyak dihuni tokoh-tokoh agama. Kehidupan masyarakat pesisir lebih banyak berpusat pada aktivitas melaut. Kesibukan mencari nafkah membuat perhatian terhadap pendidikan dan ibadah masih terbatas. Bahkan, tidak sedikit anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan untuk bersekolah.

Di tengah kondisi tersebut, Ustadz Khoirul Roziqin memilih untuk tetap hadir dan istiqamah. Dakwah dilakukan secara perlahan, membangun kedekatan dengan masyarakat, menghidupkan kajian, serta menanamkan kesadaran beragama dari lingkungan keluarga dan masyarakat.

Dua dekade kemudian, benih dakwah itu mulai tumbuh menjadi perubahan yang nyata.

Memasuki tahun 2026, dakwah di kawasan tersebut berkembang pesat. Wilayah yang dahulu merupakan laut dan kini telah direklamasi, berdiri sebuah mushala yang menjadi tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan keagamaan masyarakat.

Menariknya, pembangunan mushala tersebut bermula dari sebuah proposal sederhana untuk pengadaan speaker. Ketika rencana pembangunan disampaikan kepada masyarakat, respons positif pun mengalir. Warga berbondong-bondong memberikan dukungan, mulai dari menyumbangkan bahan bangunan hingga turut membantu proses pembangunan.

Dari sebuah speaker, lahirlah sebuah mushala. Dari mushala itu, tumbuh ruang-ruang baru untuk belajar, berkumpul, dan menguatkan iman.

Alhamdulillah, melalui ketekunan dakwah Ustadz Khoirul Roziqin, masyarakat kini mulai aktif mengikuti kajian rutin. Bahkan, saat ini telah terbentuk enam binaan kajian rutin yang menjadi bagian dari ikhtiar pembinaan umat di kawasan pesisir tersebut.

Perjalanan ini menjadi bukti bahwa dakwah tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia bisa berawal dari satu suara, satu langkah, dan satu keteguhan hati untuk terus mengajak kepada kebaikan.

Dua puluh empat tahun perjalanan telah berlalu. Pesisir yang dahulu menjadi medan perjuangan, kini perlahan menjadi ladang tumbuhnya generasi dan kehidupan keagamaan.

Dakwah yang dirintis dengan kesabaran, pada akhirnya akan menemukan jalannya untuk berbuah menjadi keberkahan.

Majlis Ta’lim yang di mulai dari 7 Jama’ah kini tumbuh Majlis – Majlis Ta’lim lain yang di hadiri ibu-ibu hingga pemudi. Selain itu Ustadz Khoirul Roziqin juga membuat tabungan Qurban dan tabungan fitri yang sekarang menjadi percontohan desa-desa tetangga.

Dari pesisir Sedayulawas, kisah Ustadz Khoirul Roziqin mengajarkan satu hal penting: dakwah yang ditanam dengan keikhlasan, dirawat dengan kesabaran, dan dijalankan dengan istiqamah, insya Allah akan tumbuh dan meluaskan kebermanfaatan untuk umat.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *