Laporan: Djuwari Syaifudin, Ketua Biro Pemberdayaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim com, Kediri – Di Gunung Wilis merupakan gabungan dari banyak puncak gunung, yang salah satunya tertinggi yaitu Puncak Trogati dengan ketinggian 2.563 meter di atas permukaan laut (mdpl),, bagian timur di Dusun Kalibago Desa Kalipang kecamatan Grogol M. Mansur berda’wah, dibawah mandat Dewan Da’wah Kabupaten Kediri. Dakwah tumbuh perlahan, mengetuk hati. Sejak 2002.
Saat itu, kondisi masyarakat di Gunung Wilis timur bagian Utara yang berdekatan dengan wilayah Nganjuk kondisi cuaca dingin yang terkadang dalam satu tahun musim penghujan lebih panjang dari kemaraunya. Masyarakatnya mayoritas dibawah garis tidak mampu, banyak masyarakat dulu Islam murtad demi seduap nasi, bakti sosial orang orang Katholik setiap Minggu di Gereja menjadikan harapan mereka. Kerasnya alam membuat masyarakat enggan menyekolahkan anaknya. Bahkan, motto mereka gawe mangan AE angel kok sekolah (buat makan saja susah kok sekolah)
Di tengah kondisi tersebut, Ustadz Mansur panggilan akrabnya memilih untuk tetap hadir dan istiqamah. Dakwah dilakukan secara perlahan, membangun kedekatan dengan masyarakat, menghidupkan kajian, serta menanamkan kesadaran beragama dari lingkungan keluarga dan masyarakat.
Gunung Wilis bagian timur memang menjadi basis Krestenesasi para Yesuit, di Kalipang ada Seminari yang dihuni oleh Pastur dan Biarawati. Mereka menguasai seluruh pendidikan dan kesehatan.
Demografi daerah Kalipang Muslim 12 % atau 9 keluarga, Hindu 25 % dan Katholik 63 %.
Pada tahun 2003 ustadz Mansur yang ditemani oleh Ketua Dewan Da’wah Kabupaten Kediri silaturrahmi ke Tokoh umat Islam di Kalipang, basa basinya minta ijin pembinaan umat Islam, Alhamdulillah diperkenankan, ada syarat bawa surat mandat Dari Dewan Da’wah kabupaten Kediri.
Da’wah dimulai dengan 9 orang dimasjid Sunan Kalijogo, aneh pada saat kajian atau taklim pesertanya bukan hanya ibu ibu dan bapak bapak tetapi juga 4 anjing ikut mendengar kajian di shof paling belakang. Setelah tiga bulan jamaah menjadi 39 orang. Dengan bertambahnya umat Islam dan menurun umat Katholik yang Apostasi / keluar dari Katholik menjadi Mualaf, para Yusuit rupanya gerah / marah, disinilah akhirnya mereka mengadakan bakti sosial besar besaran dengan membawa umat Katholik dari Surabaya yang di titip ke rumah orang orang Apostasi tersebut.
Dari sini, jamaah kajian ustadz Mansur kembali lagi jadi 9 orang. Ustadz Mansur bilang ada tidak orang kita yang mempunyai pengaruh bisa dimintai tolong untuk meminta pulang orang orang yang bakti sosial untuk kembali ke Surabaya.
Putra KH Misbach, yang bernama Dr. H. Hanafi, Sp Kj menjadi tumpuan penyelamatan umat, dengan kata yang sangat santun minta tolong pada beliau, jawab beliau saya ini dokter gak boleh ikut campur di lahan itu. Begini bapak, bapak tidak usah ikut masuk cukup ke balai Desa minta pada Bapak Lurah bilang kalau ijin tinggalnya habis. Sedang Lurahnya juga Katholik, obat yang manjur disuntikan dr. Hanafi pada bapak Lurah berhasil. Sampai sekarang tenang tidak banyak aral melintang.
Dua dekade kemudian, benih da’wah itu mulai tumbuh menjadi perubahan yang nyata.
Memasuki tahun 2026, da’wah ustadz Mansur berkembang bak jamur di musim penghujan, taklim taklim yang diampun beliau bukan hanya satu dua tetapi sudah belasan.
Majelis Ta’lim yang diasuh
- Nur Arafah di lingkungan Kota Kediri
- Al Hadi Jl. Monginsidi Kota Kediri
- Al Auliya’ Jl. Dhoho Kota Kediri
- Istiqomah Qolbun Wahid Kota Kediri
- Manaqib Muslimat Setonogedong
- Majelis Ta’lim Al Fattah Kemasan
- Muhajirin Ngronggo
- Masjid Agung Kota Kediri
- Sunan Kalijaga Dusun Kalibago
- Al Hikmah Kalinanas
- At Taqwa Parang
- Al Irsyad Kota Kediri
- Hidayatullah Bandar Lor
- Ash Shiddiq Katang
- Roudhotul Jannah Balowerti
Menariknya, ustadz Mansur juga Mengajar di lembaga formal :
Tahun 2001 hingga 2003 mulai ikut membantu mengajar di MI Al Irsyad Kota Kediri di waktu yang bersamaan mengajar paket B di Yayasan Ar Risalah Pesantren Hidayatullah (Ormas/ BMH) Bandar Lor.
2003 sampai 2007 mengajar di Pondok Pesantren Ar Risalah Lirboyo (Afiliasi Pondok Lirboyo) SMP/ SMA ngajar Fisika, Diniyah ngajar Nahwu shorof (ilmu alat).
2004 – 2011 Dosen tetap Fakultas Teknik Elektro UNISKA Kediri . Dan mendapat amanah baru Dekan Fakultas Tehnik Elektro
2007 – 2009 Mengajar di Pondok Pesantren As Salaam Solo/ Surakarta Jawa Tengah tingkat MA dan SMK, mata pelajaran Fisika, Nahwu, Shorof, Ulumul Qur’an, Mustholah Hadits, Fiqh, non formal kajian kitab kuning.
Apa ini yang disebutkan dalam Al Qur’an surat Muhammad · Ayat 7
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Perjalanan ini menjadi bukti bahwa da’wah tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia bisa berawal dari satu suara kecil, satu langkah pasti, dan satu keteguhan hati untuk terus mengajak kepada kebaikan.
Da’wah yang dirintis dengan kesabaran, pada akhirnya akan menemukan jalannya untuk berbuah menjadi keberkahan.
Perjalanan ini menjadi bukti bahwa da’wah tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia bisa berawal dari satu suara, satu langkah, dan satu keteguhan hati untuk terus mengajak kepada kebaikan.
Dua puluh empat tahun perjalanan telah berlalu. Gunung Wilis yang sejuk membuahkan deretan panjang medan perjuangan da’wah, kini perlahan menjadi ladang tumbuhnya generasi dan kehidupan keagamaan.
Da’wah yang dirintis dengan kesabaran, pada akhirnya akan menemukan jalannya untuk berbuah menjadi keberkahan.
Dr. Muhammad Mansur, ST. MT. lahir di jember tahun 1974, tumbuh di lingkungan pesantren, sejak kecil sudah menerima pendidikan agama dari orang tua dan keluarga besar di pesantren, untuk pendidikan formal dari SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi; semuanya negeri dan jurusan exact. Sedang pendidikan agama di keluarga dan pesantren hingga penguasaan ilmu alat, tafsir, hadits, ilmu fiqih, dan lain lainnya.
Sejak SMA sudah berkecimpung di dunia da’wah khususnya di lingkungan sekolah hingga sampa menjadi ketua takmir musholla sekolah di lingkungan SMA Negeri 2 Jember dan menginisiasi adanya sholat Jum’at pertama dan mengajar ekstrakurikuler baca tulis Al-Qur’an dan tajwid di lingkungan sekolah, selain dari itu mengajar di lingkungan rumah atau pesantren.
Setelah kuliah di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, semakin aktif di dunia da’wah di lingkungan kampus dengan bergabung di senat mahasiswa di seksi kerohanian Islam, dan menginisiasi pembangunan musholla yang kemudian diberi nama Al Hadid di lingkungan FTUB (sekarang menjadi masjid Al Hadid) sekaligus mengisi halaqoh-halaqoh awal di musholla tersebut dengan berbagai macam kitab-kitab agama dan diskusi-diskusi ilmiah, sehingga nantinya terbentuk FORSITEK (Forum Studi Islam dan Teknologi).
Dalam rembuk calon Pengurus Dewan Da’wah Kota Kediri sepekan yang lalu yang di inisiasi Dewan Da’wah Kabupaten Kediri terbentuklah dewan suro, Ketua Abdul Karim Hasan, sekretaris M.Agil Sulaiman , SH.
Dalam Liqo’ Rabu 12 Agustus 2026 terbentuklah Formatur sebagai berikut :
Susunan Pengurus Dewan Da’wah Kota Kediri
Majlis pertimbangan :
Ketua : Ust. Yusuf
Sekretaris : Ust.Ali Arrahman
Anggota : M. Agil Sulaiman
Anggota : Ust. Abdul Karim Hasan
Anggota : Ust. Soni Tataq
Anggota: Kholifi Yunon
Anggota: Dawud Syamsuri
Pengurus
Ketua : ust. Dr. M. Mansur, ST.MT
Sekretaris : ust. Suwanto
Bendahara : Gatot Sutrisno
Kediri, 12 Agustus 2026
Sekretariat.
Jl. Raya Banaran no. 16 RT. 01.RW 01. Banaran Pesantren Kota Kediri
Foto: Kiri, Dr. Muhammad Mansur, ST. MT
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
