Membaca Nasihat Ibn Taymiyyah dalam Horizon Epistemologi Qurani
Ada satu kekeliruan besar dalam memahami epistemologi.
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kita sering mengira epistemologi hanya berbicara tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan.
Dari mana pengetahuan datang?
Apa sumbernya?
Bagaimana kebenaran dibuktikan?
Apa batas-batas pengetahuan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting.
Tetapi Epistemologi Qurani tidak berhenti di sana.
Sebab dalam horizon Al-Qur’an, pengetahuan bukan sekadar sesuatu yang memenuhi akal.
Pengetahuan harus mengubah manusia.
Ia harus mengubah cara manusia melihat realitas, menentukan orientasi hidup, memilih jalan, membentuk akhlak, dan akhirnya menentukan kepada siapa seluruh kehidupannya dipersembahkan.
Di sinilah beberapa nasihat yang dinisbatkan kepada Syekh al-Islam Ibn Taymiyyah رحمه الله menjadi menarik.
Bila dibaca secara terpisah, kita menemukan nasihat tentang cinta kepada Allah, ilmu, kesabaran, hati, amal, dan kehidupan.
Tetapi bila dibaca dalam perspektif Epistemologi Qurani, semuanya seperti potongan-potongan yang membentuk satu bangunan besar:
«Pengetahuan yang benar melahirkan pandangan hidup yang benar; pandangan hidup yang benar melahirkan orientasi yang benar; orientasi yang benar melahirkan transformasi manusia.»
1. IQRA’: EPISTEMOLOGI DIMULAI DARI MEMBACA
Wahyu pertama dimulai dengan:
«اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ»
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Ini bukan sekadar perintah membaca teks.
Ini adalah deklarasi epistemologis.
Manusia diperintahkan membaca realitas, tetapi tidak boleh membaca realitas secara terputus dari Rabb yang menciptakannya.
Maka dalam Epistemologi Qurani:
membaca bukan sekadar aktivitas intelektual.
Membaca adalah awal perjalanan manusia menuju kesadaran.
Ia membaca wahyu.
Ia membaca alam.
Ia membaca sejarah.
Ia membaca dirinya sendiri.
Ia membaca kehidupan.
Tetapi seluruh pembacaan itu dilakukan:
«بِاسْمِ رَبِّكَ»
dengan nama Rabb-mu.
Di sinilah letak perbedaan fundamental antara sekadar epistemologi dan Epistemologi Qurani.
Yang satu bertanya:
«Bagaimana aku mengetahui?»
Yang lain membawa pertanyaan itu lebih jauh:
«Bagaimana aku mengetahui dengan benar, agar aku dapat hidup dengan benar di hadapan Tuhan yang benar?»
2. DARI IQRA’ MENUJU MA’RIFAH
Nasihat yang dinisbatkan kepada Ibn Taymiyyah mengatakan:
«مَنْ عَرَفَ اللهَ أَحَبَّهُ، وَمَنْ أَحَبَّهُ أَطَاعَهُ»
Siapa yang mengenal Allah, ia akan mencintai-Nya; dan siapa yang mencintai-Nya, ia akan menaati-Nya.
Perhatikan kata pertama:
«عَرَفَ — mengenal.»
Di sinilah epistemologi bertemu dengan transformasi.
Pengetahuan tentang Allah bukan pengetahuan yang netral.
Ma’rifah mengubah orientasi manusia.
Ketika manusia mengenal Allah sebagai Rabb, Pencipta, Pemilik, dan tujuan akhir kehidupan, maka worldview-nya berubah.
Dunia tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
Manusia tidak lagi menjadi pusat segala sesuatu.
Harta bukan tujuan akhir.
Kekuasaan bukan tujuan akhir.
Ilmu bukan tujuan akhir.
Bahkan diri sendiri bukan tujuan akhir.
Semuanya ditempatkan dalam sebuah horizon yang lebih tinggi:
«Allah adalah pusat realitas dan orientasi kehidupan.»
Maka rantainya menjadi:
IQRA’ → MA’RIFAH → MAHABBAH → THA’AH
Membaca → mengenal → mencintai → menaati.
Inilah epistemologi yang telah berubah menjadi kehidupan.
3. TAUHID: MENGUBAH PUSAT KEHIDUPAN
Di sinilah Tauhid menjadi konsekuensi epistemologis.
Jika Allah benar-benar dipahami sebagai Rabb yang menciptakan, mengatur, dan menjadi tujuan akhir kehidupan, maka tidak mungkin manusia terus menjadikan selain Allah sebagai pusat mutlak hidupnya.
Inilah transformasi worldview.
Sebelum tauhid:
dunia menjadi pusat.
Setelah tauhid:
Allah menjadi pusat.
Sebelum tauhid:
«“Apa yang bisa aku dapat?”»
Setelah tauhid:
«“Apa yang Allah kehendaki dariku?”»
Sebelum tauhid:
«“Bagaimana aku menjadi besar?”»
Setelah tauhid:
«“Bagaimana aku menjadi hamba yang benar?”»
Karena itu:
«الْعِبَادَةُ غَايَةُ الْحُبِّ لِلَّهِ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ لَهُ»
Ibadah adalah puncak cinta kepada Allah sekaligus puncak ketundukan kepada-Nya.
Ini bukan sekadar fiqh ibadah.
Ini adalah konsekuensi worldview tauhidik.
Jika Allah menjadi pusat realitas, maka penghambaan kepada-Nya menjadi pusat kehidupan.
4. ILMU: DARI “TAHU” MENUJU “BENAR”
Nasihat berikutnya semakin dekat dengan inti epistemologi:
«الْعِلْمُ مَا قَامَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ، وَالنَّافِعُ مِنْهُ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ»
Ilmu adalah apa yang berdiri di atas dalil; dan ilmu yang bermanfaat adalah apa yang dibawa Rasul.
Di sini terdapat dua pertanyaan fundamental:
Apa dasar pengetahuan?
dan
Apa nilai pengetahuan itu bagi kehidupan?
Inilah salah satu perbedaan penting antara pengetahuan yang sekadar informatif dan pengetahuan yang transformatif.
Epistemologi Qurani tidak anti-akal.
Tidak anti-penalaran.
Tidak anti-dalil.
Justru ia menempatkan dalil, akal, wahyu, dan realitas dalam struktur yang terarah.
Tetapi pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai koleksi informasi.
Sebab:
«Pengetahuan yang tidak mengubah orientasi hidup belum mencapai fungsi tertingginya.»
Karena itu ilmu harus bergerak:
DALIL → ILMU → PEMAHAMAN → KESADARAN → AMAL
Dan ketika amal terus dilakukan, ia mulai membentuk:
KARAKTER.
5. BURHĀN: MENGENALI FITNAH SEBELUM TERLAMBAT
Kemudian:
«الْفِتْنَةُ إِذَا أَقْبَلَتْ عَرَفَهَا الْعُلَمَاءُ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ عَرَفَهَا الْجُهَّالُ»
Ketika fitnah datang, orang berilmu mengenalinya; ketika fitnah telah berlalu, orang jahil baru mengenalinya.
Ini sangat dekat dengan dimensi Burhāni dalam bangunan epistemologi.
Orang yang berpikir secara mendalam tidak hanya melihat fenomena.
Ia mencari:
sebab → hubungan → konsekuensi → kebenaran.
Ia tidak mudah terpesona oleh sesuatu hanya karena sesuatu itu populer.
Ia tidak menerima sesuatu hanya karena banyak orang mengatakannya.
Ia tidak menolak sesuatu hanya karena tidak sesuai dengan seleranya.
Ia bertanya:
«Apa dalilnya? Apa hakikatnya? Ke mana akibatnya?»
Karena itu manusia yang memiliki epistemologi yang sehat tidak hanya mampu melihat apa yang terjadi, tetapi mampu membaca apa yang sedang menuju terjadi.
6. IRFĀN: KETIKA ILMU TURUN KE DALAM HATI
Tetapi Epistemologi Qurani juga tidak berhenti pada Burhān.
Sebab mengetahui kebenaran belum tentu membuat manusia mencintai kebenaran.
Di sinilah dimensi hati menjadi penting.
«الطَّرِيقُ إِلَى اللهِ لَا تُقْطَعُ إِلَّا بِالْقُلُوبِ»
Jalan menuju Allah tidak ditempuh kecuali dengan hati.
Dan:
«الْقَلْبُ الْمُعَلَّقُ بِاللهِ لَا تَضُرُّهُ مَا فَقَدَ مِنَ الدُّنْيَا»
Hati yang bergantung kepada Allah tidak dirugikan oleh apa yang hilang dari dunia.
Ini membawa epistemologi dari sekadar mengetahui kebenaran menuju menghayati kebenaran.
Di sinilah kita dapat membaca kembali hubungan:
Bayānī → Burhānī → Irfānī
Tetapi dalam horizon Epistemologi Qurani, ketiganya tidak perlu dipertentangkan.
Wahyu memberikan petunjuk.
Akal mengolah dan memahami.
Hati menghayati dan menginternalisasi.
Lalu seluruhnya bermuara pada:
«amal yang benar.»
7. YAQIN → SABAR → ZHAFAR
Nasihat berikutnya:
الْيَقِينُ أَصْلُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ أَصْلُ الظَّفَرِ
Keyakinan adalah dasar kesabaran, dan kesabaran adalah dasar kemenangan.
Di sini kita melihat hubungan antara epistemologi dan daya tahan manusia.
Manusia bertahan karena ia yakin.
Ia yakin karena memiliki dasar pengetahuan dan kepercayaan.
Maka krisis epistemologi pada akhirnya dapat berubah menjadi krisis eksistensial.
Ketika manusia tidak lagi tahu apa yang benar, ia tidak tahu untuk apa bertahan.
Ketika tidak tahu untuk apa bertahan, ia mudah menyerah kepada yang paling dekat, paling mudah, dan paling menyenangkan.
Sebaliknya, yaqin memberikan horizon.
Horizon melahirkan kesabaran.
Dan kesabaran memungkinkan manusia mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai secara instan.
Maka:
Epistemologi yang benar bukan hanya membuat manusia mampu berpikir; ia membuat manusia mampu bertahan di jalan kebenaran.
8. DARI PENGETAHUAN MENUJU TRANSFORMASI INDIVIDU
Di sinilah kerangka Transformasi Individu menemukan fondasinya.
Manusia tidak cukup direkonstruksi pikirannya.
Ia juga harus direkonstruksi:
orientasinya,
hatinya,
keinginannya,
kebiasaannya,
dan akhlaknya.
Karena itu:
الْحَسَنَاتُ تَزِيدُ فِي الْقَلْبِ نُورًا، وَالسَّيِّئَاتُ تَزِيدُ فِيهِ ظُلْمَة
Kebaikan menambah cahaya hati.
Keburukan menambah kegelapan hati.
Maka manusia adalah makhluk yang sedang menjadi.
Ia dibentuk oleh apa yang terus-menerus dipikirkan, dicintai, dilakukan, dan diulang.
Inilah titik pertemuan antara Rekonstruksi Epistemologi dan Transformasi Individu.
Epistemologi membenahi:
cara manusia mengetahui.
Transformasi individu membenahi:
manusia yang menggunakan pengetahuan itu.
9. DARI TRANSFORMASI MENUJU IKHLAS
Lalu kita sampai pada ujung perjalanan.
مَنْ أَرَادَ السَّعَادَةَ الْأَبَدِيَّةَ فَلْيَلْزَمْ عَتَبَةَ الْعُبُودِيَّةِ
Siapa yang menginginkan kebahagiaan abadi, hendaknya ia menetapi pintu penghambaan kepada Allah.
Inilah paradoks terbesar dalam kehidupan manusia:
«Manusia mencari kebebasan, tetapi sering mencari kebebasan dengan membebaskan dirinya dari Tuhan.»
Padahal dalam perspektif tauhidik:
kemerdekaan tertinggi bukan bebas dari Allah, tetapi bebas dari segala sesuatu selain Allah.
Bebas dari perbudakan ego.
Bebas dari pengakuan manusia.
Bebas dari keserakahan.
Bebas dari ketakutan terhadap kehilangan.
Bebas dari kebutuhan untuk selalu dipuji.
Bebas dari dunia sebagai pusat orientasi.
Dan akhirnya sampai pada:
IKHLAS.
10. DARI IQRA’ KE IKHLAS
Maka kalau seluruh bangunan ini kita tarik kembali kepada buku induk Iqra’ ke Ikhlas, kita mendapatkan sebuah garis perjalanan yang sangat kuat:
«اِقْرَأْ → اِعْرِفْ → وَحِّدْ → أَحْبِبْ → أَطِعْ → اِصْبِرْ → اِعْمَلْ → أَخْلِصْ»
Bacalah.
Kenalilah.
Tauhidkanlah.
Cintailah.
Taatilah.
Bersabarlah.
Beramallah.
Ikhlaskanlah.
Dan inilah yang membedakan Epistemologi Qurani dari sekadar teori tentang pengetahuan.
Ia bukan hanya bertanya:
“Bagaimana manusia mengetahui kebenaran?”
Tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih menentukan:
“Setelah manusia mengetahui kebenaran, menjadi manusia seperti apakah ia?”
Sebab kebenaran yang hanya tinggal di kepala belum selesai.
Ia harus turun ke hati.
Dari hati turun menjadi orientasi.
Dari orientasi menjadi pilihan.
Dari pilihan menjadi amal.
Dari amal menjadi karakter.
Dari karakter menjadi kehidupan.
Dan dari kehidupan itulah lahir manusia tauhidik.
EPILOG: DARI MANUSIA YANG TAHU MENJADI MANUSIA YANG MENJADI
Maka nasihat-nasihat tersebut sesungguhnya dapat dibaca sebagai sebuah peta transformasi epistemologis.
Iqra’ membuka pintu pengetahuan.
Tauhid menentukan pusat realitas.
Worldview menentukan cara melihat kehidupan.
Ilmu memberikan dasar.
Burhān menguji dan menalar.
Irfān menghidupkan kebenaran dalam hati.
Yaqin memberikan keteguhan.
Sabar menjaga perjalanan.
Amal membentuk manusia.
Ikhlas memurnikan orientasi.
Dan akhirnya:
lahirlah manusia yang tidak sekadar mengetahui kebenaran, tetapi hidup di dalam kebenaran.
Inilah yang sesungguhnya ingin dicapai oleh Epistemologi Qurani.
Bukan manusia yang paling banyak mengetahui.
Bukan manusia yang paling pandai berbicara.
Bukan manusia yang paling banyak mengumpulkan teori.
Tetapi manusia yang ketika membaca ayat, berubah;
ketika mengetahui kebenaran, tunduk;
ketika memahami kehidupan, bertanggung jawab;
ketika diuji, bersabar;
ketika memperoleh nikmat, bersyukur;
ketika kehilangan dunia, tidak kehilangan Allah;
dan ketika seluruh perjalanan hidupnya sampai pada penghujungnya, ia mampu kembali kepada Allah dengan hati yang telah dibebaskan dari segala sesuatu selain-Nya.
Inilah perjalanan epistemologis manusia:
Dari Iqra’ menuju Tauhid.
Dari Tauhid menuju Worldview.
Dari Worldview menuju Transformasi.
Dari Transformasi menuju Ikhlas.
Dari Ikhlas menuju Allah
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari sebuah perjalanan membaca:
Kita membaca agar mengetahui.
Kita mengetahui agar mengenal.
Kita mengenal agar mencintai.
Kita mencintai agar menaati.
Kita menaati agar berubah.
Kita berubah agar seluruh hidup menjadi pengabdian.
Dan pada akhirnya, kita belajar membaca bukan agar menjadi orang yang paling tahu, tetapi agar menjadi manusia yang paling benar dalam menjalani apa yang telah diketahuinya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
