Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat wal Afiat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput . Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian pasti mengunjungi, itu sudah cukup sebagai pengingat, yang menyadarkan dari kelalaian. Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan ditinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam Akhiratlah tempat akhir.
Sungguh kematian banyak menyadarkan untuk kita. Oleh karenanya, peringatan ini sebagai pertanda kapan pulang ke rumah abadi. Dan faedahnya amat banyak. Rasulullah bersabda :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).
Kematian merupakan hal yang pasti, meski tak seorang pun tahu kapan datangnya. Nabi Muhammad saw menyebut orang yang mempersiapkan dirinya untuk bekal kehidupan setelah mati sebagai orang cerdas. Sebaliknya, orang yang tenggelam dalam nafsu duniawi, disebut Nabi sebagai orang yang lemah.
Dunia sesungguhnya hanyalah tempat menanam bekal menuju kehidupan yang kekal nan abadi. Apa yang akan diterima di akhirat merupakan hasil dari apa yang ditanam di dunia.
Selalu persiapkan diri menghadapi kematian
Kematian merupakan hal yang pasti, meski tak seorang pun tahu kapan datangnya. Nabi Muhammad saw menyebut orang yang mempersiapkan dirinya untuk bekal kehidupan setelah mati sebagai orang cerdas. Sebaliknya, orang yang tenggelam dalam nafsu duniawi, disebut Nabi sebagai orang yang lemah.
Dunia sesungguhnya hanyalah tempat menanam bekal menuju kehidupan yang kekal nan abadi. Apa yang akan kita terima di akhirat merupakan hasil dari apa yang ditanam di dunia.
Sedangkan sabda Nabi saw yang menganjurkan mempersiapkan menghadapi kematian adalah:
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
Artinya: Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah,(HR al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya).
Kepastian akan adanya kematian itu seperti dalam firman Allah:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Artinya: Setiap jiwa pasti merasakan mati (QS Ali ‘Imran ayat 185)
Menyiapkan bekal
Menyiapkan bekal kematian adalah prioritas utama setiap muslim agar meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” ( QS.Al-Juma’ah :8)
Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya.” (Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 196)).
Dalam sebuah hadits yang shohih, dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : Rosululloh saw. bersabda :
مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ
Barang siapa merasa takut, dia akan berangkat lebih awal. Dan barang siapa berangkat lebih awal, dia akan sampai ke tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga. [HR. At-Tirmidzi, no. 2450; hasan lighoirihi kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly hafidzohulloh, dalam kitab Bahjatun Nadhirin Syarh Riyadhus Sholihin].
Sabda Nabi :
مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ
Barang siapa merasa takut, dia akan berangkat lebih awal. Dan barang siapa berangkat lebih awal, dia akan sampai ke tujuan.
Ini adalah perumpamaan yang sangat indah. Pada zaman dahulu, seorang musafir yang khawatir terhadap bahaya yang akan di hadapi di jalan, seperti : adanya perampok, atau dia akan kehilangan arah (tersesat jalan) maka dia akan berangkat pada akhir malam (yakni lebih awal), agar selamat dan lebih cepat sampai ke tujuan.
Maksudnya adalah, orang yang takut kepada Allah, takut terhadap adzab-Nya, takut su’ul khotimah, dan takut kehilangan surga, maka dia akan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih, bertaubat, dan menjaga agamanya.
Maka dengan izin Allah, jika Istiqomah seperti itu, akan segera sampai kepada tujuan yang diharapkan, yaitu surga.
Kemudian Nabi saw bersabda :
أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ
Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal.
Yakni surga, itu tidak dapat diraih hanya dengan angan-angan kosong atau kemalasan, tetapi harus dengan iman, dengan kesungguhan beramal sholih, dengan kesabaran, dengan jihad melawan hawa nafsu, dan dengan istiqomah.
Lalu beliau menjelaskan :
أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ
Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.
Artinya, balasan yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman adalah surga.
Dan karena surga itu nilainya sangat agung, mahal, maka usaha untuk meraihnya juga harus lebih besar lagi.
- Takut kepada Allah adalah sebab adanya kesungguhan dalam beramal.
Artinya, adanya rasa takut yang terpuji pada seseorang, akan mendorongnya, memotivasinya untuk memperbanyak melakukan amal-amal ketaatan dan menjauhi dosa-dosa maksiat.
عَنِ اْلأَغَرِّ بْنِ يَسَارٍ الْمُزَنِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَآايُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.
Dari Agharr bin Yasar Al Muzani, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Hai sekalian manusia! Taubatlah kalian kepada Allah dan mohon ampun kepadaNya, sesungguhnya karena aku bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali”
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang benar benar (ikhlas) … (At Tahrim/66 : 8).
Dan hendaknya kamu meminta ampun kepada Rabb-mu dan bertaubat kepada Nya, (jika kamu membantu yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) padamu, hingga pada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu bertobat, maka sungguh aku takut, kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat .[Hud : 3]
Allah Ta’ala berfirman :
وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ
Dan hanya kepadaKu-lah hendaknya kalian merasa takut. (QS. Al-Baqarah: 40)
- Kesungguhan dan persiapan sejak dini, akan membantu seseorang untuk mencapai tujuan.
Sebagaimana musafir yang berangkat lebih awal dengan persiapan yang matang, maka dia akan lebih dekat kepada keselamatan.
Demikian pula seorang mukmin yang memanfaatkan masa mudanya, kesehatannya, dan waktunya, untuk bersungguh-sungguh dalam beramal sholih.
Insya Alloh, dia akan lebih dekat dan lebih cepat mencapai cita-cita dan tujuannya …
- Surga itu memiliki harga yang sangat mahal.
Harga surga itu bukanlah dengan harta benda yang kita bayarkan untuk mendapatkannya, tetapi hanyalah dengan iman, dengan tauhid, dengan amal shalih, dengan kesabaran, dan juga dengan keikhlasan.
Allah ta’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang yang beriman diri dan harta benda mereka, dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At-Taubah: 111)
- Surga itu tidak diraih dengan angan-angan kosong.
Untuk bisa meraih surga yang mulia itu, tidak cukup hanya mengaku beriman, tetapi juga harus dibuktikan dengan kesungguhan dalam beramal sholih dan istiqomah dengannya.
Allah Ta’ala berfirman :
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
Dan bahwa manusia tidak memperoleh, selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An-Najm: 39)
- Mendorong untuk segera bertaubat dan tidak menunda
Hal itu karenakan diantara kita tidak ada yang mengetahui kapan ajal kita akan datang.
Maka seorang mukmin itu hendaknya bersegera memperbaiki dirinya dan memperbanyak bekal untuk kehidupannya di akhirat nanti.
Dalam sebuah hadits dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا.
“ Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membuka tanganNya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tanganNya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah, hingga matahari terbit dari barat. HR.Muslim 2759.
Hadits ini mengajarkan, bahwa rasa takut kepada Alloh yang benar itu, akan melahirkan kesungguhan dalam beribadah dan beramal sholih.
Barang siapa bersungguh-sungguh menempuh jalan menuju Allah dengan iman, amal sholih, dan istiqomah, maka dia akan sampai kepada tujuan yang paling mulia, yaitu surga.
Dan karena surga itu adalah sesuatu yang sangat mahal dan agung, maka dia tidak bisa diraih, kecuali dengan usaha yang sungguh-sungguh, juga pengorbanan, kesabaran, dan ketaatan kepada Alloh ta’ala.
Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, agar dijadikan oleh Alloh sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu semangat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah dan beramal sholih, dan istiqomah di atasnya sampai akhir hayat kita nanti …..
Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
