Islamofobia Pasca San Diego 2026 dalam Perspektif Worldview Wahyu

Membaca Akar Kebencian, Krisis Peradaban, dan Pertarungan Narasi Global

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Tragedi penembakan di Islamic Center San Diego, California, Amerika Serikat pada 18 Mei 2026 sesungguhnya tidak dapat dibaca hanya sebagai tindakan kriminal individual. Dalam perspektif worldview wahyu, peristiwa seperti ini merupakan gejala dari krisis epistemologi modern dalam memandang manusia, agama, identitas, dan kebenaran. Kekerasan berbasis kebencian lahir bukan sekadar dari emosi sesaat, tetapi dari cara pandang yang dibangun perlahan melalui narasi sosial, propaganda politik, manipulasi media, dan konstruksi ketakutan kolektif.

Modernitas sering mengklaim dirinya sebagai peradaban rasional, toleran, dan menjunjung HAM. Namun pada saat yang sama, dunia modern juga melahirkan paradoks besar: teknologi komunikasi berkembang pesat, tetapi kebencian menyebar lebih cepat daripada kebijaksanaan. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang dialog berubah menjadi arena perang identitas. Algoritma digital tidak selalu memproduksi kebenaran, tetapi sering memperkuat fanatisme, prasangka, dan polarisasi sosial.

Dalam perspektif epistemologi Qurani, problem terbesar manusia modern bukan sekadar kurangnya informasi, tetapi rusaknya cara membaca realitas. Manusia modern sangat kaya data, tetapi miskin hikmah. Sangat cepat menyimpulkan, tetapi dangkal dalam memahami manusia lain. Akibatnya identitas agama direduksi menjadi stereotip politik, lalu lahirlah dehumanisasi terhadap kelompok tertentu.

Al-Qur’an telah memberi peringatan:

“Walaa yajrimannakum syana-anu qawmin ‘alaa allaa ta’diluu. I’diluu huwa aqrabu lit-taqwaa.” “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa kebencian adalah problem epistemologis dan spiritual sekaligus. Ketika manusia kehilangan keadilan dalam memandang orang lain, maka identitas berubah menjadi alat permusuhan. Di sinilah Islamofobia bekerja: Islam tidak lagi dipahami secara objektif, tetapi dipersepsikan melalui ketakutan yang diproduksi terus-menerus.

Dalam worldview wahyu, kebencian kolektif tidak lahir dari ruang kosong. Ia dibentuk oleh narasi. Ketika media, politik global, film, opini publik, dan propaganda digital terus-menerus mengasosiasikan Islam dengan kekerasan, radikalisme, dan ancaman keamanan, maka perlahan lahir konstruksi bawah sadar bahwa Muslim adalah “the other”, pihak asing yang harus dicurigai.

Inilah yang dalam epistemologi Qurani disebut sebagai kerusakan cara baca terhadap manusia. Padahal Al-Qur’an justru membangun paradigma ta’aruf, bukan konflik identitas.

Allah berfirman:

“Waja’alnakum syu’uuban wa qabaa-ila lita’aarafuu.” “Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman bukan ancaman, tetapi bagian dari sunnatullah sosial. Namun ketika manusia membaca perbedaan dengan paradigma superioritas identitas, maka lahirlah rasisme, xenofobia, ekstremisme, dan hate crime.

Peristiwa San Diego juga memperlihatkan bahwa ekstremisme tidak selalu lahir atas nama agama tertentu. Dalam banyak kasus, ekstremisme justru tumbuh dari rasa takut, krisis identitas, fanatisme ideologi, dan propaganda politik yang terus dipelihara. Karena itu worldview wahyu tidak melihat problem ini secara simplistik sebagai benturan agama semata, tetapi sebagai krisis kemanusiaan modern yang kehilangan fondasi moral-transendental.

Di sinilah pentingnya konsep Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia. Wahyu pertama turun dengan perintah membaca, sebab akar kehancuran manusia sering dimulai dari kesalahan membaca realitas. Ketika manusia membaca dunia hanya dengan prasangka, maka lahirlah demonisasi terhadap kelompok lain. Ketika informasi dipisahkan dari nilai ketuhanan, maka kecerdasan berubah menjadi alat propaganda.

Maka Islamofobia hari ini bukan hanya problem politik global, tetapi problem worldview. Dunia modern gagal membangun peradaban yang benar-benar melihat manusia sebagai makhluk bermartabat di hadapan Tuhan. Yang terjadi justru sebaliknya: manusia dinilai berdasarkan identitas politik, agama, warna kulit, dan kepentingan geopolitik.

Lebih berbahaya lagi, dunia digital mempercepat normalisasi kebencian. Narasi yang terus diulang akan berubah menjadi “kebenaran sosial”, meskipun sebenarnya penuh manipulasi. Dalam konteks ini, media sosial bukan sekadar alat komunikasi, tetapi medan perang epistemologi. Siapa yang menguasai narasi, ia menguasai persepsi publik.

Karena itu tragedi San Diego 18 Mei 2026 harus dibaca secara lebih mendalam oleh masyarakat Muslim Indonesia. Bukan sekadar dengan kemarahan emosional, tetapi dengan kesadaran intelektual dan spiritual. Sebab tantangan terbesar umat hari ini bukan hanya serangan fisik, tetapi perang cara pandang terhadap Islam itu sendiri.

Worldview wahyu mengajarkan bahwa respons terhadap kebencian tidak boleh dibangun di atas kebencian baru. Sebab Al-Qur’an tidak membentuk umat dengan paradigma dendam, tetapi dengan paradigma keadilan, kesabaran, ilmu, dan akhlak.

Maka perjuangan terbesar umat hari ini bukan sekadar memenangkan debat politik global, tetapi menghadirkan kembali Islam sebagai rahmat bagi semesta melalui:

ilmu,

adab,

keadilan,

dan kematangan membaca realitas.

Karena dalam perspektif Qurani, krisis terbesar dunia modern bukan kurangnya teknologi, tetapi hilangnya hikmah dalam memandang manusia.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *