Oleh Sudono Syueb, Bidang Kominfo DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Orang baik itu hakikatnya orang-orang yang faham agama (tafaqquh fi al din) secara kaffah meliputi faham secara bayani (tekstual), secara burhani (rasional) dan secara lrfani (intuisi). Mereka itu adalah para Ulama, Masyayih, Asatidz, Asatidzah, Kiyai, Buya, Ajengan, Tuan Guru dll
Perhatikan Sabda Rasulullah SAW ini:
قال رسول الله ﷺ
مَن يُرِدِ اللَّهُ به خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ، وإنَّما أنا قاسِمٌ واللَّهُ يُعْطِي، ولَنْ تَزالَ هذِه الأُمَّةُ قائِمَةً علَى أمْرِ اللَّهِ، لا يَضُرُّهُمْ مَن خالَفَهُمْ، حتَّى يَأْتِيَ أمْرُ اللَّهِ. .صحيخ البخاري : ٧١
Artinya;
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi, dan Allah yang memberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka, sampai datang ketetapan Allah.” (Shahih Bukhari no 71)
Penjelasan Hadits
Allah SWT Maha Penyantun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, Dia menginginkan kebaikan untuk mereka. Dalam hadits ini Nabi ﷺ mengabarkan bahwa barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama. Allah akan menganugerahkan ilmu syar’i kepadanya, yang tidak ada kebaikan di dunia ini yang menandinginya dalam keutamaan, kemuliaan, dan tingginya derajatnya. Karena ilmu syar’i adalah warisan para Nabi yang tidak mereka wariskan selain itu. Sabda beliau “kebaikan” disebutkan dalam bentuk nakirah agar mencakup yang sedikit dan yang banyak, dan penakirahan itu juga untuk pengagungan, karena konteksnya memang menuntut itu.
Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan:
أنَّ المعطيَ حَقيقةً هو اللهُ تعالَى، ولستُ أنا مُعطيًا، وإنَّما أنا أَقْسِمُ ما أُمِرتُ بقِسمَتِه على حسَبِ ما أُمِرْتُ به؛ فالأمورُ كلُّها بمَشيئةِ اللهِ تعالَى وتَقديرِه، والإنسانُ مُصَرَّفٌ مَربوبٌ، فالمالُ للهِ تعالَى، والعِبادُ له سُبحانَه، والنبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قاسمٌ بإذنِه مالَه بيْنكم، فمَن قسَم له صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كثيرًا، فبقدَرِ اللهِ تعالى وما سبَقَ له في الكتابِ، وكذا مَن قسَمَ له قَليلًا؛ فلا يَزدادُ لأحدٍ في رِزقِه، كما لا يَزدادُ في أجَلِه، وسَببُ قولِه لذلك تَطييبُ قُلوبِ النَّاسِ؛ لمُفاضَلتِه بَعضَ الناسِ بالعَطاءِ.
Bahwa Pemberi yang hakiki adalah Allah Ta’ala, dan aku bukanlah pemberi. Aku hanyalah membagi apa yang diperintahkan untuk aku bagikan sesuai yang diperintahkan kepadaku. Maka semua urusan ada di bawah kehendak dan takdir Allah Ta’ala, dan manusia diatur dan dimiliki. Harta adalah milik Allah, hamba adalah milik-Nya, dan Nabi ﷺ membagi harta-Nya dengan izin-Nya di antara kalian. Maka siapa yang diberi banyak oleh Nabi ﷺ, itu dengan takdir Allah dan apa yang telah ditetapkan baginya di Lauh Mahfuzh. Begitu pula yang diberi sedikit. Maka tidak ada yang bisa menambah rezeki seseorang, sebagaimana tidak ada yang bisa menambah ajalnya. Sebab beliau mengatakan itu adalah untuk menenangkan hati manusia, karena beliau melebihkan sebagian orang dalam pemberian.
Lalu Nabi ﷺ mengabarkan
أنَّه لا تَزالُ طائفةٌ مِن المسلمين ثابتةً على دِينِه، مُستمسِكةً به، وقائِمةً به إلى قِيامِ السَّاعةِ، قيل: إنَّ ثَباتَهم على الدِّينِ يَأتي بتَمسُّكِهم بالجِهادِ والقِتالِ في سَبيلِ نُصرةِ الحقِّ وإعلاءِ كَلمةِ اللهِ عزَّ وجلَّ، حتى يَأتِيَهم أمرُ اللهِ، وهي الرِّيحُ الطَّيِّبَةُ تَكونُ قبْلَ قيامِ السَّاعةِ تَقبِضُ أرواحَ المؤمنينَ، كما فُسِّر في بَعضِ الرِّواياتِ. وهذا ممَّا يدُلُّ على أنَّ الحقَّ لا يَنقطِعُ في أُمَّةِ الإسلامِ؛ فهناك مَن يَتوارَثُه جِيلًا بعدَ جِيلٍ
“Bahwa senantiasa akan ada sekelompok dari kaum muslimin yang teguh di atas agamanya, berpegang dengannya, dan menegakkannya hingga hari kiamat. Dikatakan: keteguhan mereka pada agama datang dengan berpegang pada jihad dan berperang di jalan Allah untuk menolong kebenaran dan meninggikan kalimat Allah, sampai datang ketetapan Allah pada mereka, yaitu angin yang baik sebelum kiamat yang mencabut ruh orang-orang beriman, sebagaimana ditafsirkan dalam sebagian riwayat. Ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak akan terputus pada umat Islam, akan selalu ada yang mewarisinya dari generasi ke generasi”.
Dalam hadits ini terdapat faidah:
- Keutamaan ilmu dan keutamaan mempelajarinya, dan bahwa ilmu syar’i adalah ilmu paling mulia secara mutlak karena kaitannya dengan Allah Azza wa Jalla.
- Bahwa pemahaman dalam agama termasuk tanda kebaikan seorang muslim.
- Bahwa Islam tidak akan hina meskipun banyak musuhnya.
- Tanda kenabian beliau ﷺ.
Demikian, semoga bermanfaat
Sumber: dari berbagai sumber
Admin: Kominfo DDII Jatim
