Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Sudah berapa lama Anda beragama? Lantas apa hasilnya?
Pertanyaan ini seolah tidak penting bahkan terkesan mengada-ada.
Padahal sebenarnya di situlah letak inti dari beragama itu. Agama merupakan kebutuhan jiwa. Dan beragama merupakan keniscayaan.
Beragama, terutama dalam konteks kehidupan bermasyarakat yang majemuk seperti Indonesia, bukan hanya kesalehan ritual secara individu, melainkan terwujudnya kesalehan sosial yang mengakar. Allah memberikan perumpamaan dalam surat Ibrahim 24 akarnya menghujam kedalam tanah sedangkan dahannya rindang. Beragama yang benar menghasilkan perilaku yang seimbang antara ucapan dan perbuatan, toleran, tasamuh, tasabuh, tawaduk dan menjaga martabat kemanusiaan.
Sekali lagi, apa hasilnya? Jangan-jangan masih ada yang tidak tahu. Prof. Dr. Hamka dalam bukunya “Tasawuf Modern” menyatakan, beragama itu kalau dilakukan dengan tekun melahirkan tiga sifat.
Pertama, menjadi orang lurus hidupnya alias Sidiq. Lurus secara akidah, bersih, tidak tercampur kesyirikan. Aqidah yang lurus melahirkan masyarakat yang kuat berpegang pada keyakinannya dan mampu menjaga dari berbagai pengaruh negatif.
Rasulullah SAW selama 13 tahun berdakwah dari durasi dakwah 23 tahun membenahi akidah umat. Kalau akidahnya bagus, maka pondasi beragamanya kokoh dan amaliah agamanya juga bagus.
Rasulullah berhasil memantapkan akidah umat sehingga jumlah pengikut beliau dari waktu ke waktu terus bertambah.
Pada masa awal perjuangan Rasulullah, jumlah pengikut bisa dihitung dengan jari. Setelah 10 tahun hijrah ke Madinah dan kembali menaklukkan Mekah, sudah diikuti 13.000 jiwa umat Islam.
Sekarang, tahun 2024, jumlah umat Islam sudah mencapai 1,9 miliar. Diprediksi tahun 2050 jumlah umat Islam 2,8 miliar.
Penyebabnya karena akidah yang ditanamkan Rasulullah bisa diterima akal sehat. Itulah sikap Sidiq yang muncul dari pondasi agama yang benar.
Kedua, buah dari beragama, menurut Hamka, adalah sikap amanah (bisa dipercaya).
Bisa dipercaya karena terbiasa setiap ucapan diyakini mengandung pertanggungjawaban, sehingga orang beragama sangat hati-hati dalam berucap.
Seperti diterangkan dalam surat Ash Shof 2-3. Mengapa Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan
Kalau bicara pasti benar. Jika berjanji ditepati, dan kalau mendapat amanah dijaga sebaik-baiknya.
Saking kuatnya sikap amanah umat Islam, ada yang menarik dari orang kafir.
Kalau akan ada perang antara umat Islam dengan orang kafir Quraish, sebelum hari H, orang-orang kafir banyak titip barang di rumah Rasulullah dan sahabat beliau. Setelah perang selesai, mereka ramai-ramai mengambil barang yang dititipkan di rumah musuh itu.
Hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa sikap amanah yang merupakan buah dari beragama sangat kuat. Sampai-sampai musuh pun tidak ragu kepada umat Islam.
Ketiga, buah agama berupa lahirnya sifat malu. Mereka merasakan malu dalam tiga hal yaitu malu kepada Allah, kepada sesama, dan malu kepada diri sendiri.
Malu kepada Allah karena merasa dipantau sehingga untuk berbuat yang tidak baik malu kepada Allah yang Maha Melihat, Allah yang Maha mencatat perbuatan. Kita malu kalau tidak memenuhi perjanjian primordial dengan Allah.
Kita pernah ditanya, “Apakah aku ini Tuhanmu?” Roh kita menjawab, “Ya, Engkau adalah Tuhan kami dan kami menjadi saksi.”
Jadi, kalau dalam kenyataan sehari-hari kita tidak mencerminkan nilai keagamaan, kita malu kepada Allah yang telah melakukan perjanjian primordial.
, اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ
Artinya: “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna.” (HR. Al Hakim).
Begitu juga malu kepada masyarakat kalau akhlak kita tidak baik. Tentu menyangkut pikiran, ucapan, dan tindakan harus baik.
Kalau pikiran, ucapan, dan perbuatan kita “melenceng”, kita malu kepada masyarakat. Dan kesungguhan dalam beragama patut dipertanyakan.
Begitu juga malu kepada diri sendiri kalau tidak bisa berperilaku yang baik sebagai umat beragama. Kita harus malu. Kesemuanya itu membuktikan lurusnya keyakinan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim, ia berkata:
Sebuah hadits pun mengatakan hal serupa, dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. رواه البخاري
Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya diantara yang didapat manusia dari kalimat kenabian yang pertama ialah: ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.'” (HR. Bukhari No. 3483).
Oleh karena itu, seseorang dengan memiliki sifat malu ini, kebaikan akan senantiasa datang menghampirinya dan akan membantunya dalam menghalangi untuk melakukan perbuatan maksiat dan dosa.
والله اعلم بالصواب
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
