Dari Emansipasi Pengetahuan menuju Fragmentasi, dan Kembali ke Integrasi Tauhid
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam lintasan sejarah pemikiran manusia, epistemologi tidak pernah lahir dalam ruang hampa; ia selalu menjadi bagian dari pergulatan panjang manusia untuk membebaskan diri dari kebodohan, mitos, dan dominasi otoritas yang membelenggu akal. Dalam perspektif Islam, momentum paling fundamental dari emansipasi epistemologis itu justru dimulai dari wahyu pertama kepada Nabi Muhammad, yakni perintah “Iqra’” (bacalah). Perintah ini bukan sekadar aktivitas membaca teks, melainkan fondasi kesadaran epistemologis yang mengharuskan manusia membaca realitas (ayat kauniyah), wahyu (ayat qauliyah), dan dirinya sendiri (ayat insaniyah) secara simultan. Dalam buku Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, hal ini ditegaskan sebagai titik nol kesadaran ilmu: bahwa pengetahuan sejati bersifat emansipatoris, membebaskan manusia dari kegelapan menuju kesadaran transendental yang berakar pada tauhid.
Fragmentasi Epistemologi: Ketika Ilmu Kehilangan Arah
Namun, sejarah modern menunjukkan arah yang berbeda. Dalam perkembangan pemikiran Barat, epistemologi mengalami fragmentasi yang tajam. Rasionalisme yang dipelopori oleh René Descartes mengangkat akal sebagai sumber utama kebenaran, bahkan cenderung melepaskannya dari bimbingan wahyu. Di sisi lain, empirisme yang dikembangkan oleh John Locke dan diperkuat oleh David Hume memandang pengalaman inderawi sebagai satu-satunya dasar pengetahuan. Puncaknya, positivisme ala Auguste Comte menyempitkan kebenaran hanya pada hal-hal yang terukur secara ilmiah, sehingga dimensi metafisik dan spiritual tersingkir dari ruang ilmu. Akibatnya, ilmu kehilangan ruhnya: ia menjadi sangat maju secara teknis, tetapi kehilangan orientasi moral dan makna eksistensial.
Iqra’ sebagai Epistemologi Integral
Di tengah krisis tersebut, konsep “Iqra’” menemukan relevansinya kembali. Berbeda dengan pendekatan Barat yang parsial, Islam menghadirkan sintesis epistemologis yang utuh antara wahyu, akal, dan realitas empiris. Akal tidak ditolak, tetapi diposisikan sebagai instrumen yang bekerja dalam bimbingan wahyu; indera tidak diabaikan, tetapi diarahkan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan. Dengan demikian, epistemologi Islam bukan sekadar sistem pengetahuan, melainkan sistem kesadaran yang mengintegrasikan dimensi rasional, empiris, dan spiritual dalam satu kesatuan tauhid. Inilah yang dalam Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia dipahami sebagai epistemologi esensial: cara mengetahui yang tidak hanya menghasilkan informasi, tetapi juga membentuk orientasi hidup dan tanggung jawab moral.
Krisis Modern dan Urgensi Rekonstruksi Epistemologi
Dalam konteks kekinian, krisis epistemologi semakin nyata. Manusia modern hidup dalam banjir informasi, tetapi mengalami kekeringan makna; memiliki kecerdasan teknologi yang tinggi, tetapi rapuh secara spiritual dan eksistensial. Fenomena ini menunjukkan bahwa problem utama bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada cara manusia memahami dan memaknai pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu, menghidupkan kembali spirit “Iqra’” bukan sekadar kebutuhan religius, tetapi kebutuhan peradaban. Ia menjadi jalan untuk mengembalikan ilmu pada fungsi aslinya: sebagai cahaya yang tidak hanya menerangi akal, tetapi juga menuntun hati dan mengarahkan manusia menuju kebenaran yang utuh.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
