Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim,com, Surabaya – Natsir dan Hamka sesama asal Sumatera Barat. Keduanya bersahabat dan lahir di tahun yang sama, yaitu 1908. Mereka, sebagai pendakwah, ideal menurut KH Isa Anshary. Hal ini, karena kemampuan berdakwah dengan lisan dan tulisan dari keduanya sama-sama kuat.
Dari Natsir (yang wafat pada 1993), terbit banyak karya buku. Salah satunya, berjudul Fiqhud Da’wah. Begitu juga dari Hamka (yang wafat pada 1981), terbit tak sedikit karya tulis. Karyanya yang paling menonjol adalah Tafsir Al-Azhar. Tentu saja, sangat relevan jika pendapat atau langkah-langkah dakwah dari keduanya kita teladani.
Syarat Sukses
”Kata yang kosong dari rasa, hanya bisa mencapai telinga dan paling tinggi otak. Rasa hanya dapat dipanggil dengan rasa,” kata Natsir. Nasihat ini bisa kita temukan di buku Fiqhud Da’wah (1983: 227).
Senada, kala membahas QS Ali ’Imran [3]: 159, Hamka menulis di Tafsir Al-Azhar. Bahwa di ayat tersebut, bertemulah pujian yang tinggi dari Allah terhadap Rasulullah Saw. Dipuji, karena sikap Nabi Saw yang lemah-lembut dan tidak lekas marah. Dipuji, karena Nabi Saw terus berusaha mendidik umatnya agar iman mereka lebih sempurna.
Memang, siapapun yang berdakwah, pasti ingin berhasil. Untuk itu, prinsip dasar dalam berdakwah perlu kita pahami dengan baik. Ungkapan Natsir dan Hamka di atas penting kita cermati. Bahwa, pendakwah harus bicara dari hati. Saat berkata-kata, mesti dimuati rasa yang terbit dari jiwa. Jangan sekadar bicara tanpa menyertakan rasa. Berbicaralah dengan lembut.
Lebih Kenal
Mari buka buku Fiqhud Da’wah karya Natsir, Bapak NKRI itu. Di dalamnya, ada kisah yang mengesankan berikut ini. Pada suatu hari seorang Arab Badwi datang kepada Rasululllah Saw. Dia hendak bertanya tentang ajaran Islam. Saat itu Nabi Saw sedang bersama banyak Sahabat.
Arab Badwi lalu bertanya, yang dalam penyampaiannya tak sopan dalam pandangan para Sahabat yang ada di dekat Nabi Saw kala itu. Bagi mereka, kata-kata dan sikap orang itu amat kasar. Sedemikian kasarnya, ada di antara para Sahabat yang tak tahan menahan marah hingga mau membunuhnya.
Rasulullah Saw tetap tenang dan meneruskan melayani orang itu dengan baik. Lambat-laun orang itu bersikap sopan. Setelah itu, Rasul Saw memberikan pelajaran kepada para Sahabat yang sebagian sempat naik darah itu. Nabi Saw menyampaikan nasihat lewat perumpamaan, sebagai berikut.
Kata Nabi Saw, perumpamaan dirinya dengan orang Badwi itu seperti seorang yang mempunyai seekor unta. Suatu ketika unta itu lari. Lalu orang-orang bermaksud menolong pemilik unta itu dengan cara beramai-ramai mengejarnya. Apa yang terjadi?
Makin dikejar, unta itu semakin jauh larinya. Si pemilik unta berseru kepada orang banyak yang sedang mengejar-ngejar onta itu. ”Biarkanlah, ini urusanku dengan unta itu. Aku lebih kenal sifat-sifatnya dan lebih sayang kepadanya dibandingkan kamu semua,” kata dia.
Lalu si pemilik mendekati unta yang lari itu. Dia ambil rumput kering dan diumpankan ke hewan itu. Apa yang terjadi? Si unta datang sendiri kepada si pemilik, terus duduk ”bertekuk lutut” seperti pada umumnya hewan yang jinak jika sedang di dekat si pemilik.
Rasulullah Saw kemudian menutup kisah sekaligus penjelasannya. ”Maka sekiranya aku biarkan kamu, yang hanya berdasarkan kata-kata kasar yang diucapkan orang Badwi itu saja, lalu kamu akan membunuhnya dan dia masuk neraka (karena kesesatannya) (Fiqhud Da’wah, 1983: 227-228).
Demikianlah, orang banyak yang mengejar unta itu maksudnya baik, yaitu hendak menolong mengembalikannya kepada yang punya. Hanya saja, lebih berhasil cara yang dipakai pemilik unta karena dia lebih mengenal sifat dan perilaku sang unta. Lebih dari itu, si pemilik lebih sayang kepada untanya sehingga dia memperlakukannya dengan cara yang lebih tepat.
Tetap Lembut
Selanjutnya, simak QS Ali Imran [3]: 159. Kita perhatikan terjemah ayatnya, ini: ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka …”.
Hamka menulis di Tafsir Al-Azhar. Bahwa di ayat tersebut, bertemulah pujian yang tinggi dari Allah terhadap Rasulullah Saw karena sikapnya yang lemah-lembut, tidak lekas marah. Pujian Allah kepada Nabi Saw, atas sikap kepada umatnya yang tengah dituntun dan dididiknya agar iman mereka lebih sempurna.
Meski ada kesalahan dari beberapa orang yang meninggalkan tugasnya karena tamak akan harta (seperti saat di Perang Uhud), namun Rasulullah Saw tidak terus marah-marah kepada mereka. Nabi Saw dengan jiwa besar terus memimpin. Dalam ayat ini Allah menegaskan tentang pujian kepada Rasul Saw bahwa sikap yang lemah-lembut itu karena ke dalam diri Rasul Saw telah dimasukkan oleh Allah rahmat-Nya.
Rasa rahmat, belas-kasihan atau cinta-kasih itu, telah ditanamkan Allah ke dalam diri Muhammad Saw. Implikasinya, rahmat itu pula yang mempengaruhi sikapnya dalam memimpin. Ingatlah doa Rasulullah Saw saat beliau dilempari batu oleh masyarakat sehingga kakinya berdarah. Pihak yang melempari tetap didoakan agar diberi petunjuk Allah lantaran mereka sesungguhnya tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Suara jiwa yang demikian itu hanya bisa keluar dari rasa cinta kepada umat yang sedang dipanggilnya kepada kebenaran. Rasa sedih mengenangkan nasib mereka, terbit karena khawatir mereka akan terus berada dalam kesesatan. Kesemua itu, bersumber kepada rasa cinta kepada Allah.
Ketahuilah, kata Hamka, di dalam masyarakat itu tidaklah sama tingkat kematangannya. Tidak semua setingkat dengan Abu Bakar Ra dan Umar bin Khaththab Ra. Ada juga yang lemah dan perlu dorongan dengan pendekatan tertentu (Tafsir Al-Azhar, 2003: 964).
Dengan sanjungan kepada Nabi Saw yang bersikap lemah-lembut di QS Ali-’Imran [3]: 159, menunjukkan bahwa Allah senang sekali jika sikap itu diteruskan. Lewat ayat itu, Allah memberikan sebagian Ilmu Memimpin. Pemimpin yang kasar atau kaku, yang keras hati, akan membuat segan orang untuk menghampiri. Justru, orang-orang akan menjauh darinya (Tafsir Al-Azhar, 2003: 966).
Dengan Hati
Pendekatan dakwah, dengan sentuhan hati, lalu dilanjutkan oleh para Sahabat. Mereka meneruskan perjuangan Rasul Saw sampai berhasil. Perhatikan, pengalaman Abu Bakar Ra. Hari itu, beliau baru saja disahkan sebagai khalifah.
Setelah pada pagi harinya dilantik menjadi khalifah, Abu Bakar Ra berjalan-jalan ke luar rumah. Di tengah jalan, dia disapa oleh seorang anak perempuan.
”Sekarang tidak ada lagi yang akan menolong memerah susu ternak kami,” kata si anak. Dia berkata begitu, karena Abu Bakar Ra sebelum menjadi khalifah, setiap hari menolong keluarganya memerah susu ternak mereka.
”Jangan khawatir. Wallahi, aku akan menolongmu memerah susu,” begitulah respons Abu Bakar Ra (Fiqhud Da’wah, 1983: 229).
Bersama Rasa
Nabi Muhammad Saw telah menyampaikan Risalah Islam. Rasulullah Saw sudah memberikan teladan dalam berdakwah. Sahabat, seperti Abu Bakar Ra, berhasil melanjutkan dakwah seperti yang dicontohkan Nabi Saw. Begitu juga para ulama hanif, seperti Natsir dan Hamka, sukses pula mengikuti jejak dakwah yang baik itu.
Kapanpun, dengan sekuat usaha, laksanakanlah dakwah dengan sebaik-baiknya. Di titik ini, antara lain, nasihat Natsir dan Hamka sangat perlu kita perhatikan. Bahwa, kata Natsir, pendakwah harus bicara dari hati dan jangan sekadar bicara tanpa menyertakan rasa. Kata Hamka, pendakwah harus selalu meneruskan sikap Nabi Saw yang lembut. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
