SITI HAJAR: EMPAT LANGKAH PENDIDIKAN UNTUK ISMAIL

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Do’a Nabi Ibrahim ketika meninggal Ismail dan Ibunya Siti Hajar dibalik bukit yang tidak pernah di dengar oleh Siti Hajar menjadi pedoman dasar pendidikan Ismail dari ibunya Hajar. Siti Hajar memberikan pendidikan pada Ismail yang terabadikan dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 37.

Banyak sekali orang berprasangka bahwa yang memberikan atau proses Pendidikan Ismail itu Nabiyullah Ibrahim sendiri. Banyak cerita bahwa Nabiyullah Ibrahim setelah meletakan Ismail dan ibunya Hajar kisaran 13 (tiga belas) tahun baru di jenguk, ketika Nabiyullah Ibrahim menerima Wahyu lewat mimpinya untuk menyembelih Ismail . Dan Ismail sudah mendapatkan pendidikan dari ibunya.

Proses kunjungan Ibrahim setelah menempatkan Ismail dan Hajar di Wilayah Hijaz, pertama setelah Ibrahim bermimpi untuk menyembelih Ismail, kedua ketika Siti Hajar wafat dan proses membangun Ka’bah, ketiga setelah Ismail menikah yang pertama dan itu tidak ketemu Ismail, Ibrahim cuma titip salam pada istri Ismail supaya palang pintunya diganti, ke empat ketika Ismail setelah menikah ke dua inipun juga tidak ketemu Ismail Ibrahim cuma titip salam dan minta supaya palang pintunya dijaga pada istri Ismail inipun juga tidak ketemu Ismail.

Melihat, hudari proses kedatangan Nabiyullah Ibrahim seperti itu, berarti pendidikan Ismail berada di Siti Hajar, dengan ketekunan keuletan dalam mendidik Ismail menunjuk hasil yang luar biasa. Pendidikan seperti apa yang diberikan Hajar pada Ismail, ini, diabadikan dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 37 berikut ini.

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Sejarawan Muslim Ath Thabari menerangkan bahwa pendidikan yang dilakukan Siti Hajar kepada Ismail dengan 4 cara seperti yang termaktub dalam surat Ibrahim ayat 37.

  1. ‘Inda baitikal muharram Ibrahim menempatkan istri dan anaknya di lingkungan (bi’ah) yang baik. Lingkungan yang kuat akan nilai-nilai spiritual. Prinsip, keyakinan, dan panduan moral bersumber dari dimensi transendental (ilahi/iman) yang memberi makna, tujuan hidup, serta keseimbangan jiwa. Nilai ini mendefinisikan hubungan manusia dengan Tuhan atau alam semesta, mendorong pertumbuhan kepribadian ke arah lebih baik, dan sering kali bertentangan dengan materialisme. Keteladanan, menunjukkan betapa tinggi iman dan tawakalnya kepada Allah. Lingkungan yang membuat seorang dekat dengan Penciptanya. Sebab, tanah Hijaz yang tandus itu, disampaikan sebagai dekat dari rumah Allah (Baitullah).
  2. Liyuqiimush-sholah Pendidikan berikutnya adalah mengenalkan Allah dengan ibadah dan membangun ketaatan seorang anak kepada-Nya. Hal ini tidak bisa dilakukan, jika Hajar (Ibu) tidak memiliki kedalaman wawasan spiritual. Bahkan sampai membuahkan nilai ketaatan dalam diri Ismail kepada Allah secara luar biasa. Salah satu ketaatannya, Ismail tunjukkan ketika dengan gagah berani menyambut perintah penyembelihan dirinya oleh Ibrahim. Kemampuan seperti ini disebut Danah Zohar atau sebagai Spiritual Intelligence.
  3. Faj’al af’idatan minan-naasi tahwii ilaihim. Selanjutnya adalah membentuk pribadi yang disukai dan disayangi oleh sesama. Pribadi yang disukai oleh sesama adalah pribadi yang berakhlak mulia. Ismail sangat menghormati dan memuliakan orang tuanya, memegang teguh norma-norma yang baik yang berlaku di masyarakat, dan peduli kepada nasib masyarakat di sekitarnya. Oleh Daniel Goleman, kompetensi seperti ini disebut Emotional Intelligence.
  4. La’allahum yasykurun Berikutnya, membentuk Nabi menjadi pribadi yang pandai mensyukuri nikmat. Syukur maknanya mengoptimalkan semua nikmat dan menjadikan sesuatu agar dapat berdayaguna tinggi. Menjadi orang bersyukur juga bermakna menjadi pribadi-pribadi berpikir positif, produktif, dan kontributif. Ketiga sifat ini dicontohkan langsung oleh Hajar, saat dirinya harus mencari air untuk menyambung hidup. Hajar berbaik sangka kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan ketaatan seorang hamba. Ini menjadi pelajaran penting bahwa tawakal kepada Allah harus disertai dengan usaha maksimal.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *