NIAT HARUS ADA SETIAP GIATAN IBADAH

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Dalam Islam, niat menjadi faktor utama dalam menentukan sah atau tidaknya suatu amal. Setiap perbuatan yang dilakukan seorang, baik berupa perkataan, tindakan, maupun keyakinan hati, akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. Oleh karena itu, memahami peran niat dalam ibadah sangat penting agar amal yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah.

Lantas apakah niat itu? niat berasal dari bahasa Arab نيّة yang artinya keinginan.

Secara bahasa, niat adalah al-qashd, yang artinya keinginan. Sementara secara istilah syar’i, niat didefinisikan sebagai azam atau tekad untuk mengerjakan suatu ibadah dengan ikhlas karena Allah, yang letaknya berada di dalam batin atau hati. Pertanyaan yang kerap muncul ketika membahas tentang niat adalah haruskah niat dilafalkan atau diucapkan?. Ulama bersepakat bahwa niat adanya di dalam hati (sesuai dengan pengertiannya), jadi tidak wajib diucapkan. Ketika seseorang sudah berniat dalam hati, maka sudah dianggap sah.

Sedangkan, niat bertekad mengerjakan suatu ibadah maupun amal perbuatan karena Allah, niat terletak didalam hati. Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Hadits Arbain, meletakkan hadits ini pada posisi pertama. Dalam kitabnya.

“Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh Umar bin Al-Khattab ra, ia berkata bahwa mendengar rasulullah SAW. bersabda sesungguhnya segala amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya untuk Alloh dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no.1907].

Baik, kita lihat dulu akar kata “niat” (نِيَّة).
Ashluhu atau Akar kata ن-و-ي (n-w-y)
Makna dasarnya: menyengaja, bertekad, bermaksud, menuju ke sesuatu.

Dari akar ini muncul:

  • Nawa (نَوَى) = dia berniat, dia bertekad
  • Niyyah (نِيَّة) = niat, maksud hati, tekad yang tersimpan di dalam hati
  • Manwa (مَنْوَى) = tujuan yang dituju

Jadi inti “niat” itu arah hati dan tujuan batin* sebelum suatu perbuatan dilakukan.

Makna dalam istilah Islam*
Niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan. Makanya ada kaidah:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” – HR. Bukhari & Muslim.

Mengembangkan niat di dalam hati adalah fondasi utama dalam ajaran Islam, karena niat menentukan kualitas dan balasan dari setiap amal perbuatan. Niat yang benar adalah keinginan kuat dalam batin untuk melakukan ibadah atau kebaikan semata-mata karena Allah SWT.

Niat itu yang membedakan antara:
Walaupun itu gerakan biasa tapi kalau diniatkan karena Allah, jadi ibadah
Satu perbuatan bisa jadi bernilai pahala atau cuma adat tergantung niatnya

Hubungannya dengan “Dalil liLLAH”*
Kalau kita sambungkan dengan pembahasan tadi:

Dalil adalah keterangan, bukti, alasan, atau petunjuk yang digunakan untuk menetapkan suatu kebenaran, hukum, atau pendapat, terutama dalam konteks agama Islam (Al-Qur’an dan Hadis) maupun argumen rasional. Secara bahasa, dalil berasal dari kata Arab dalla-yadullu yang berarti menunjukkan, mengarahkan, atau memberi petunjuk.

Lillah (لله) adalah frasa bahasa Arab yang secara harfiah berarti “untuk Allah” atau “karena Allah”. Konsep ini bermakna melakukan segala perbuatan, ibadah, maupun pekerjaan dengan keikhlasan mutlak demi mengharap ridha Allah SWT semata, bukan karena pujian manusia atau paksaan

Lillah bermakna mendapatkan nikmat, kebaikan, dan pahala dari Allah SWT atas segala usaha atau pekerjaan yang diniatkan semata-mata karena Allah (Lillah). Ini mencakup konsep mengubah rasa lelah menjadi ibadah, sehingga penatnya aktivitas bernilai pahala, ikhlas, dan mendatangkan keberkahan hidup.

Tanpa dalil, niat bisa melenceng jadi ikut hawa nafsu. Tanpa niat, dalil cuma jadi ilmu kering tanpa nilai.

Makanya Rasulullah Saw. bilang: “Amal itu tergantung niatnya” karena niat itu yang menentukan nilai amal di sisi Allah, meski bentuk luarnya sama.

Menjaga Niat

Kita sebagai umat muslim dianjurkan untuk senantiasa menjaga niat, agar senantiasa berorientasi lurus kepada Allah.

KH. Abdullah Gymnastiar (aa Gym) menyampaikan bagaimana seorang muslim agar senantiasa terjaga niatnya, beliau memaparkan tiga hal, yakni :

1) Ketika hendak melakukan sesuatu, niatkanlah karena Allah Taala.

2) ketika ditengah-tengah kegiatan, luruskan kembali niat agar tetap berorientasi untuk beribadah kepada Allah,

3) Ketika di akhir kegiatan, evaluasi niat tersebut, apakah dari awal sampai akhir sudah berorientasi kepada Allah? Jika sudah, pertahankan bila dalam kenyataannya ditemukan niat yang salah, maka perbaiki apa yang harus diperbaiki.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *