Seorang Pemuda di Malam 27 Ramadhan

Oleh M. Anwar Djaelani, peminat kisah dan penulis 14 buku

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kisah-kisah sanggup memberi pelajaran tanpa kesan menggurui. Kisah-kisah potensial menyodorkan hikmah penggugah jiwa. Bahkan, kisah-kisah sanggup memberi kekuatan yang memungkinkan kita bergerak cepat melakukan berbagai amal-shalih.

Bacalah, kisah dua teladan ini. Tentang sikap Nabi Sulaiman As dan Ali bin Abi Thalib Ra yang sama dalam hal mendahulukan ilmu daripada harta. Lalu, bandingkanlah dengan kisah Qarun yang sangat memuja harta.

Cermatilah kisah Mubarak, seseorang yang telah bertahun-tahun bekerja sebagai penjaga kebun delima. Aneh, dia tak bisa memilih mana buah yang manis atau kecut. Hal ini, karena “Amanah kepada saya hanya menjaga dan bukan untuk mencicipi,” kata lelaki yang di kemudian hari menjadi ayah dari Ibnu Mubarak – seorang Ulama Ahli Hadits terkemuka.

Perhatikanlah saat Khalifah Harun Al-Rasyid berdialog dengan seorang ulama. Keduanya berbicara tentang nilai penting dari segelas air. Kala itu Harun Al-Rasyid sampai akan menyerahkan seluruh kerajaannya hanya untuk mendapatkan segelas air sekaligus nanti bisa “melepas” lewat air seni.

Bacalah secara lengkap kisah Nabi Sulaiman As dan Ali bin Abi Thalib Ra perihal pandangan mereka tentang keutamaan ilmu. Ikutilah secara penuh kisah Mubarak, ayah dari Ibnu Mubarak, terkait sikap amanahnya dalam menjalankan pekerjaan. Renungkanlah akhlak Harun Al-Rasyid dalam memandang relasi kesehatan dan jabatan, mana yang harus didahulukan?

Pesan Mulia

Al-Qur’an, pedoman hidup bagi manusia. Di antara isinya, ada panduan agar kita suka membaca kisah. Tujuannya, supaya kita bisa mendapat banyak pelajaran. Simak ayat ini: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal ……” (QS Yusuf [12]: 111).

Lewat ayat di atas, kita diminta untuk rajin membaca kisah. Kita diberi petunjuk agar tekun belajar sejarah. Tentu, kita akan terbimbing dengan menaati ayat itu.

Surat ke-28 Al-Qur’an bernama Al-Qashash (kisah, cerita). Bahkan, sekitar dua pertiga isi Al-Qur’an berupa aneka kisah. Semua itu menunjukkan, bahwa di hadapan Allah kisah itu sangat utama.

Penggunaan kisah merupakan salah satu metode pendidikan Islam yang terbaik. Terkait, di sekitar kita, sangat banyak kisah nyata yang dapat memberi ibrah / pelajaran. Kita harus bersemangat membacanya.

Penyampaian kisah sangat disukai semua lapis usia dan segenap strata sosial. Anak-anak di usianya yang belia, senang dengan kisah. Pemuda dan orang dewasa juga sama, terpikat kepada kisah. Pendek kata, kisah diminati oleh banyak orang dan kalangan.

Penggunaan kisah di dunia pendidikan sangat penting. Hal ini karena kisah yang disampaikan secara tertulis bisa memberikan dampak positif bagi pembacanya. Begitu juga, jika kisah disampaikan dengan memakai media audio maka berakibat positif bagi pendengarnya. Demikian pula, kisah yang penyampaiannya menggunakan media video akan berakibat positif bagi pemirsanya.

Kisah yang dimaksud, apakah harus selalu kisah nyata (nonfiksi)? Semua kisah, termasuk yang rekaan (fiksi) juga bisa kita baca. Simaklah, sekadar contoh, dua karya fiksi Hamka yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Keduanya, sampai kini masih terus beredar. Fiksi yang ditulis sebelum tahun 1940 itu terus dibaca dan diambil banyak pelajaran di dalamnya. Keduanya, juga telah difilmkan.

Di Sepuluh Terakhir

Sekarang, untuk melengkapi bahwa kisah itu banyak dan ada di mana-mana, berikut ini sebuah kisah nyata. Itu, disampaikan oleh Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin.
Siapa beliau?

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin lahir pada 17 April 1963. Dia Doktor di bidang akidah. Sampai saat tulisan ini dibuat, dia yang profesor, mengajar di Islamic University of Madinah di program Pascasarjana. Juga, mengajar di Masjid Nabawi.
Dakwah lewat lisan dan tulisan dari Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin cukup istimewa. Misalnya, selain yang telah disebut di atas, dia juga mengajar di banyak tempat lainnya. Pun, berdakwah ke berbagai negara termasuk ke Indonesia. Karya bukunya, setidaknya ada 50 judul. Karya bukunya yang dia sebagai editor, cukup banyak (www.abiubaidah.com 26 Desember 2013). 

Sekarang, ikuti kisahnya di Madinah terkait pengalamannya pada suatu malam ke-27 Ramadhan (tahun tak disebut). Bagi umat Islam yang paham, malam itu termasuk yang sangat diharapkan terjadinya Lailatul Qadar. Kala itu, Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin bersama dua sahabatnya akan pergi ke Masjid Nabawi untuk shalat malam.
Ketika keluar rumah menuju mobil, Syaikh Abdurrozzaq mendengar suara musik yang begitu keras. Suara itu berasal dari sebuah mobil yang di dalamnya ada sejumlah anak muda. Beliau mendekati mobil tersebut dan mengatakan kepada mereka: “Wahai para pemuda, jika kalian tidak sanggup untuk mengisi malam ini dengan ibadah maka mohon dimatikan suara musik yang begitu keras ini.”

Anak-anak muda itu mematikan suara musik itu. Kemudian sang syaikh mengatakan, “Hendaknya malam ini kalian memperbanyak mengucapkan Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Yaa Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan. Maka ampunilah aku).

Lalu, salah seorang dari pemuda itu mengatakan, “Saya belum hafal”. Sang syaikh lalu mengulanginya. Alhamdulillah, si pemuda akhirnya dapat melafalkannya.

Setelah berlalu sekitar 5 tahun, Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin berceramah di sebuah kota. Selesai ceramah, ada seorang pemuda berjenggot yang mendekat. Dari wajahnya terlihat bahwa dia Muslim yang taat menjalankan syariat Allah.
“Syaikh, ingatkah kepada sejumlah pemuda yang engkau nasihati untuk mematikan musik di malam ke-27 Ramadhan? Lalu engkau mengajari mereka doa Lailatul Qadar. Sejak malam itu, saya selalu membacanya dan akhirnya Allah Taala membencikan maksiat-maksiat di dalam hatiku. Alhamdulillah, akhirnya aku kembali ke Jalan-Nya,” demikian pemuda itu menjelaskan siapa dirinya (https://www.panjimas.com 5 Mei 2021).

Ibrah dan Kiprah

Demikianlah, Islam meminta kita untuk tekun membaca kisah. Dari kisah atau sejarah kita bisa belajar tentang banyak hal, mulai dari hal iman sampai ke akhlak. Adapun kisah yang bisa kita baca, bisa yang faktual atau pun fiksi.

Dari cerita berjudul ”Kisah Nyata Pemuda yang Dinasihati untuk Membaca Doa Lailatul Qadar, Apa yang Terjadi Kemudian” di atas, adalah salah contoh kisah yang faktual. Darinya, setidaknya ada sejumlah pelajaran sebagai berikut:

1).Kita harus tekun mengerjakan ibadah terutama di sepuluh malam yang terakhir Ramadhan, seperti Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin.

2). Kita harus peduli kepada keadaan apapun yang ada di sekitar kita, seperti yang dilakukan Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin.

3).Kita harus sigap dalam berdakwah amar makruf nahi munkar, seperti yang dilakukan Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin.

4).Kita harus rela dinasihati oleh orang lain meskipun tidak kenal sebelumnya, seperti yang terjadi pada si pemuda di kisah itu.

5).Hal yang perlu menjadi pedoman bagi siapapun, tugas kita hanya berdakwah dan hasilnya ada di Kekuasaan Allah. Pada kisah di atas, alhamdulillah, dakwah Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin terbilang berhasil lewat fakta performa salah satu pemuda lima tahun kemudian.

6).Jangan pernah lupa berterima kasih kepada orang yang telah menolong kita. Selain itu, dan ini yang utama, jangan pernah lupa bersyukur kepada Allah atas semua Nikmat-Nya. Teladan tentang ini, ada pada sikap si pemuda di kisah itu.

Alhasil, terus bacalah kisah. Insya Allah banyak aneka kisah di berbagai sumber. Bacalah kisah untk diri sendiri. Lalu, aktiflah untuk turut menyebarkan kisah-kisah yang berguna dibaca orang lain. Lebih bagus lagi, jika kita bisa ikut menulis kisah sekaligus menyebarkannya. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *