Oleh Dr. Adian Husaini, Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Tahun 1984, saya berangkat kuliah ke IPB Bogor. Lulus SMA dengan nilai tinggi, saya dapat jatah kuliah tanpa tes di dua kampus: IPB Bogor dan Pendidikan FISIKA IKIP Malang. Hasil istikharah, saya pilih IPB.
Dua bulan kuliah, saya bosen. Mau pindah ke PTIQ. Ortu saya tidak setuju. Terpaksa lanjut ke IPB. Alhamdulillah, sampai selesai S1, jadi Sarjana Kedokteran Hewan. Tapi, selama kuliah saya aktif di sejumlah organisasi Islam dan banyak silaturahim dengan para ulama dan tokoh.
Alhamdulillah, semasa jadi mahasiswa, saya sempat bertemu dengan Pak Natsir beberapa kali. Tahun 1987, saya masuk pesantren Mahasiswa Ulil Albab UIKA Bogor, yang diresmikan oleh Pak Natsir.
Tahun 1993, saat menjadi wartawan Republika, saya menulis berita tentang wafatnya Pak Natsir.
Sekarang, saya mendapat amanah yang berat, melanjutkan kepemimpinan Pak Natsir di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).
Tahun 2001, saya lulus kuliah S2 Hubungan Internasional di Universitas Jayabaya Jakarta. Tesis saya berjudul: Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel. Sudah dua kali diterbitkan.
Saya ingin lanjut studi S3 tentang Studi Yahudi. Disarankan agar saya lanjut ke Inggris atau AS.
Saya sudah kirim proposal studi S3 di SOAS (School of Oriental and African Studies) di London. Proposal saya itu tentang pengaruh fundamentalisme Yahudi terhadap Perdamaian di Timur Tengah. Proposal saya diterima, dan ditunjuk supervisornya. Saya sudah sempat komunikasi dengan dia. Tapi, saya tidak jadi kuliah di SOAS, karena beberapa hal.
Lalu, ada seorang ilmuwan terkenal nawarin saya kuliah di AS. Ia lulusan kampus itu. Katanya profesor di sana sudah setuju. Ia sudah membaca buku-buku saya. Tawaran itu, saya setujui. Lalu, di proses.
Ketika sedang proses itulah, tiba-tiba datang KH Hamid Fahmy Zarkasyi, ke rumah saya. Beliau diantar oleh DW Pramudya, Pimred Majalah Hidayatullah.
Saya tidak kenal Kyai Hamid. Kami kemudian makan ke RM Pondok Laras di Kelapa Dua Depok. Di situlah Mas Hamid – saya memanggil beliau begitu – menasehati saya agar saya jangan kuliah S3 ke AS. Saya diajak untuk kuliah ke ISTAC di Kuala Lumpur, mengikuti jejak beliau.
Ketika itu, saya tidak pernah mendengar ISTAC. Sama sekali. Saya memang sedang aktif menulis dan berdiskusi dengan banyak tokoh liberal di Indonesia. Saya sudah menulis buku berjudul: “Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya.” Ternyata, Mas Hamid dan kawan-kawan di ISTAC juga sedang aktif berdiskusi tentang Islam Liberal itu.
Singkat cerita, tahun 2002 itulah, saya pergi ke Kuala Lumpur. Mas Hamid langsung menjemput saya di KLIA. Dari sana, saya diantar ke kampus ISTAC yang sangat indah di Bukit Damansara.
Setelah diajak melihat-lihat perpustakaannya yang menakjubkan, saya diajak berjumpa dengan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Saya pun tidak kenal dan tidak pernah mendengar tentang beliau. Padahal, beliau adalah salah satu pendekar “Trio Chicago” bersama Pak Amien Rais dan Pak Syafii Maarif.
Sepertinya, Prof. Wan sudah membaca beberapa buku saya. Mungkin itu diberikan oleh para mahasiswa ISTAC asal Indonesia, seperti Mas Hamid, Syamsuddin Arif, Nirwan Syafrin, dan sebagainya. Saya masih ingat nasehat beliau kepada saya ketika itu: “Saudara kurangi aktivisme, tingkatkan intelektualisme.”
Malam harinya, saya mendengar dari Mas Hamid, bahwa saya diterima kuliah S3 di ISTAC. Bahkan, dijanjikan beasiswa. Tentu saja saya senang.
Balik ke Indonesia, saya lalu menghubungi ilmuwan yang menawari saya kuliah di AS itu. Saya bilang ke beliau, bahwa saya memilih kuliah S3 di ISTAC. Beliau tidak berkenan. Saya dipanggilnya. Lalu, saya jelaskan alasan saya. Beliau bilang: “Kamu kuliah di situ dapat apa, dan seterusnya…”
Saya tahu, beliau orang baik. Saya jelaskan, InsyaAllah, saya akan lajut Post Doctoral di AS. Akhirnya, beliau menerima alasan saya. Beliau sekarang sudah wafat dan semoga beliau mendapatkan pahala terus dari Allah SWT.
Begitulah, takdir kehidupan. Saya tidak menduga akan berjumpa dengan begitu banyak tokoh dan orang-orang baik. Pelajaran berharga: selalu berusaha ikhlas dalam berjuang di jalan Allah. Terus berdoa agar kita selamat dan istiqamah di jalan-Nya yang lurus.
Begitulah, saya akhirnya kuliah di ISTAC, mulai Januari 2003. Dan saya lulus tepat waktu, tahun 2009 dengan disertasi berjudul: Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council. Disertasi ini sudah diterbitkan oleh IIUM Press Kuala Lumpur, tahun 2011.
Nah, selama kuliah S3 di ISTAC dan setelah kembali ke Indonesia tahun 2005, saya beberapa kali diajak oleh Prof. Wan Mohd Nor untuk berjumpa dengan Prof. Al-Attas, baik di forum kuliah umum atau di rumah beliau.
Saya sudah membaca buku beliau “Islam dan Sekularisme” (Terjemah bahasa Indonesia), sejak kuliah di Bogor tahun 1984. Tapi, jujur, ketika itu, saya susah memahami buku tersebut.
Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk mempelajari pemikiran-pemikiran beliau dan mendapat banyak penjelasan langsung dari murid terkemuka beliau, yaitu Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud.
Bahkan, sejak awal pendirian Pesantren At-Taqwa Depok, Prof. Wan Mohd Nor selalu memberikan arahan dan dukungan. Mungkin sudah sekitar 10 kali, Prof. Wan Mohd Nor datang ke Pesantren At-Taqwa Depok.
Alhamdulillah, dari 9 santri di tahun 2015, kini ada sekitar 200 santri yang belajar di Pesantren At-Taqwa Depok, mulai tingkat SMP sampai S1. (attaqwa.id).
Kami berusaha menerapkan konsep adab dan ta’dib Prof. Al-Attas yang dijelaskan oleh Prof. Wan Mohd Nor. Banyak sekali tantangan dan hambatan. Tapi, alhamdulillah, hasilnya sudah mulai terlihat, sehingga kami bertambah optimis untuk menerapka konsep pendidikan Prof. Al-Attas.
Kini, Prof. Al-Attas sudah menghadap Allah SWT. Semoga Allah berikan tempat yang terbaik untuk beliau.
InsyaAllah, nanti kita lanjutkan cerita ini…. Banyak yang lebih seru dan menarik.
Semoga ibadah Ramadhan kita diterima Allah SWT. Mohon doanya. (Depok, 12 Maret 2026).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
