Ust. Sutrisno: Kedudukan Puasa Ramadjan di Sisi Allah

Oleh: Al lkhsan, Mahasantri ADI Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com, Kediri – Kultum ba’da sholat tarawih di musholla Baotil Mukmin desa Parang, Kediri, hari Rabu, 4 Maret 2026, pukul 19.45 WIB., kali ini diisi oleh ust. Sutrisno. Berikut ini rangkuman materi yang beliau sampaikan:

Puasa merupakan salah satu ibadah pokok dalam Islam yang diwajibkan kepada setiap muslim yang telah memenuhi syarat.

Puasa tidak hanya bermakna menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menahan diri dari segala perbuatan yang dapat mengurangi atau merusak nilai ibadah, seperti berkata kotor, berbohong, marah berlebihan, dan melakukan maksiat.

Oleh karena itu, puasa memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT dan mengandung banyak keberkahan, baik bagi individu maupun masyarakat.
Keberkahan puasa pertama adalah menumbuhkan ketakwaan.

Dengan berpuasa, seseorang dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu dan lebih sadar akan pengawasan Allah dalam setiap perbuatannya. Puasa mengajarkan keikhlasan, karena hanya Allah yang mengetahui apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)
Keberkahan puasa yang kedua adalah pengampunan dosa. Puasa yang dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu. Dengan demikian, puasa menjadi sarana penyucian diri dan pembersihan jiwa dari kesalahan masa lalu.

Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)
Keberkahan puasa yang ketiga adalah pahala yang besar dan istimewa. Ibadah puasa memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah lainnya, karena pahalanya langsung ditentukan oleh Allah SWT. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan:

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa nilai pahala puasa tidak dapat diukur oleh manusia, karena Allah sendiri yang menilai dan memberinya ganjaran.

Keberkahan puasa yang keempat adalah melatih kesabaran dan pengendalian diri. Selama berpuasa, seseorang menahan lapar, haus, dan keinginan lainnya. Keadaan ini melatih mental dan emosi agar lebih stabil serta tidak mudah terpancing amarah. Puasa juga menjadi perisai dari perbuatan maksiat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Puasa itu adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Keberkahan puasa yang kelima adalah menumbuhkan kepedulian sosial.

Dengan merasakan lapar dan haus, orang yang berpuasa dapat memahami penderitaan orang-orang yang kurang mampu. Hal ini mendorong tumbuhnya rasa empati dan semangat berbagi melalui sedekah, zakat, dan infak. Dengan demikian, puasa tidak hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga pada hubungan manusia dengan sesama.

Keberkahan puasa yang keenam adalah dikabulkannya doa. Orang yang berpuasa memiliki waktu-waktu mustajab untuk berdoa, terutama menjelang berbuka puasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.”
(HR. Tirmidzi)
Keberkahan puasa yang ketujuh adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Orang yang berpuasa merasakan kebahagiaan saat berbuka puasa sebagai nikmat dari Allah, dan kelak di akhirat akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar ketika bertemu dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.”

(HR. Muslim)
Selain itu, Allah SWT menyediakan pintu khusus di surga bagi orang-orang yang gemar berpuasa, yaitu pintu Ar-Rayyan.

Hal ini menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi bagi orang yang berpuasa di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan, yang akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa merupakan ibadah yang penuh dengan keberkahan. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mendidik jiwa agar lebih bertakwa, membersihkan diri dari dosa, melatih kesabaran, menumbuhkan kepedulian sosial, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan menjalankan puasa secara sungguh-sungguh, seorang muslim akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
No, Da, i Al-Ikhsan (081330979023)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *