Nafas Lega dan Harapan dari Bumi Loro Sae

Secarik Kisah Ust. Bahrun – Masjid Al Amal, Baucau, Timor Leste

Oleh: Royhan Mufid Akbar, Dai Kafilah Ramadhan (DKR) eLKISI Insitute, Mojokerto

Dewandakwahjatim.com, Timor Leste – Di Bumi Loro Sae — sebutan bagi Timor Leste — dakwah berjalan dalam senyap. Tidak banyak yang tahu. Tidak banyak yang melihat. Tetapi ada jiwa-jiwa yang terus bertahan.

Di teras Masjid Al Amal, Baucau, Ust. Bahrun menyampaikan kalimat yang terdengar sederhana, namun menyimpan beban panjang perjuangan.

“Alhamdulillah… kehadiran antum berdua di sini membuat kami sangat bersyukur, ustadz…”

Kalimat itu bukan basa-basi. Ia adalah nafas lega setelah penantian panjang.

Dua Tahun Kekurangan Da’i

Sudah sekitar dua tahun, wilayah itu mengalami kekurangan da’i. Setiap Ramadhan, pengisian tarawih dilakukan bergantian oleh segelintir ustadz yang ada.

Tidak semua mushola kebagian.

“Kadang mushola di lokasi lain tidak kedapatan. Akhirnya mereka tidak sholat… ya bagaimana lagi, mereka juga belum terlalu faham Islam.”

Kalimat itu terasa berat. Bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak tahu. Bukan karena menolak, tetapi karena minim bimbingan.

Di daerah minoritas, keberadaan seorang da’i bukan pelengkap. Ia adalah penopang.

Rindu Nasihat yang Menghidupkan

Dalam sebuah acara sebelumnya, mudir rombongan memberikan tausiyah. Ust. Bahrun mengaku tergetar.

“Sudah lama saya tidak mendengar nasihat seperti itu…”

Ada kerinduan pada suara yang menguatkan. Pada pengingat yang menyegarkan ruh. Pada dakwah yang bukan sekadar formalitas, tetapi menyentuh.

Harapan untuk Generasi Berikutnya

Harapan terbesar beliau bukan untuk dirinya.

“Kami ingin ustadz, anak-anak kami besok dimasukkan ke pondok.”

Pernyataan itu lahir dari pengamatan panjang. Ust. Bahrun telah berkeliling hampir seluruh wilayah Timor Leste. Ia melihat langsung dinamika dakwah di lapangan.

Kesimpulannya tegas:

“Da’i-da’i yang awet itu rata-rata lulusan pondok atau didikan Dewan Dakwah. Kalau mahasiswa atau dari panti, kayaknya tidak mampu mereka.”

Bagi beliau, ketahanan dakwah tidak hanya butuh ilmu, tetapi pembinaan ruhiyah dan mental yang panjang. Pondok melahirkan kader yang siap hidup sederhana, siap jauh dari fasilitas, siap bertahan.

Dakwah Keliling: Mendengar yang Terpinggirkan

Ust. Bahrun memiliki satu keinginan lagi.

“Saya berharap selama Ramadhan ini nanti antum bisa saya bawa keliling Timor Leste. Ke tempat-tempat yang benar-benar membutuhkan pengajaran Islam… mendengarkan keluhan orang-orang yang ingin belajar agama…”

Bukan untuk sekadar safari ceramah. Tetapi agar para santri melihat langsung realitas.

Agar ketika kembali ke pondok, mereka tidak hanya membawa cerita. Tetapi membawa pelajaran besar tentang arti perjuangan.

Dakwah yang Menguji Ketahanan

Timor Leste bukan medan mudah. Minoritas, keterbatasan fasilitas, minim pendanaan, dan distribusi da’i yang tidak merata menjadi tantangan harian.

Namun justru di tempat seperti inilah makna dakwah menjadi jernih.

Bukan tentang popularitas.
Bukan tentang panggung besar.
Tetapi tentang bertahan.

Di Baucau, di teras Masjid Al Amal, ada seorang ustadz yang tetap menjaga bara itu. Dengan sabar. Dengan harap.

Dan di Ramadhan ini, beliau menghela nafas lega — karena ada yang datang untuk melanjutkan perjuangan.

Foto: Ust. Bahrun

Admin::Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *