Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya —
يَقُولُ أَحَدُ الْحُكَمَاءِ:
عُقُولُ الْبَشَرِ ثَلَاثَةٌ:
عُقُولُ الْعَظِيمَةِ تَتَكَلَّمُ عَنِ الْأَفْكَارِ
عُقُولُ الْمُتَوَسِّطَةِ تَتَكَلَّمُ عَنِ الْأَحْدَاثِ
عُقُولُ الصَّغِيرَةِ تَتَكَلَّمُ عَنِ النَّاسِ
Salah seorang bijak berkata:
Akal manusia itu tiga:
Akal besar berbicara tentang gagasan. Akal menengah berbicara tentang peristiwa. Akal kecil berbicara tentang orang-orang.
Analisis Epistemologis
Ungkapan ini bukan sekadar klasifikasi sosial, melainkan tipologi kesadaran intelektual.
- Akal Besar: Diskursus Gagasan
Akal yang agung tidak berhenti pada fenomena. Ia menembus struktur ide di balik fenomena. Ia berbicara tentang konsep, prinsip, paradigma.
Dalam tradisi Qur’ani, orientasi ini dekat dengan tadabbur dan ta‘aqqul—membaca realitas sebagai ayat (tanda).
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Akal besar bertanya:
Apa ide di balik kebijakan? Apa paradigma di balik konflik? Apa nilai di balik peristiwa?
Ia membangun peradaban melalui gagasan.
- Akal Menengah: Narasi Peristiwa
Akal tingkat ini fokus pada apa yang terjadi. Ia informatif, tetapi belum tentu reflektif. Ia menceritakan kronologi, tetapi belum menyentuh fondasi.
Ia penting untuk dokumentasi sejarah, tetapi belum cukup untuk transformasi.
Dalam konteks sosial modern, ini adalah budaya headline—cepat, aktual, tetapi sering dangkal.
- Akal Kecil: Personalisasi dan Reduksi
Pada level ini, diskursus menyempit menjadi pembicaraan tentang individu. Bukan gagasan yang dibedah, tetapi pribadi yang disorot. Bukan argumen yang diuji, tetapi karakter yang diserang.
Inilah akar budaya ghibah dan polarisasi.
Rasulullah ﷺ memperingatkan:
“Tahukah kalian apa itu ghibah? … Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak suka.” (HR. Sahih Muslim)
Ketika diskursus turun ke level ini, kualitas intelektual merosot dan etika publik tergerus.
Refleksi
Hierarki ini mengajak kita mengevaluasi kualitas percakapan kita:
Apakah kita membahas ide atau hanya membicarakan orang?
Apakah kita mencari prinsip atau sekadar sensasi?
Apakah diskursus kita membangun atau meruntuhkan?
Dalam kerangka epistemologi Qur’ani, pengetahuan harus mengarah pada hikmah dan perbaikan, bukan sekadar konsumsi wacana.
Akal besar melahirkan gagasan. Gagasan melahirkan perubahan. Perubahan melahirkan peradaban.
Sebaliknya, ketika ruang publik didominasi oleh pembicaraan tentang orang, bukan ide, maka yang lahir bukan pencerahan—melainkan fragmentasi.
Maka pertanyaannya bukan: kita termasuk kategori mana?
Tetapi: ke mana kita ingin menaikkan kualitas akal kita?
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
