Oleh M. Anwar Djaelani
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Perjalanan hidup manusia tak akan pernah serba lurus dan mudah. Mestilah ada kelokan, rintangan, naik-turun, dan yang serupa itu. Misal, di zaman Nabi Muhammad Saw. Saat di Perang Badar umat Islam menang. Sementara, di Perang Uhud kalah.
Di Tafsir Al-Azhar Hamka menulis, bahwa kekalahan adalah hal yang wajar dalam perjuangan jangka panjang. Dalam perjuangan, kemenangan sejati ialah yang di babak terakhir.
Masih kata Hamka, bagi kaum Quraisy, kemenangan di Uhud adalah permulaan keruntuhan. Meskipun tampak menang, tidak juga persis seperti itu. Peristiwa Uhud tidak akan dapat menebus kekalahan mereka di Badar (peristiwa Badar yang mana, bisa kita ikuti kisahnya di bawah ini). Intinya, tulis Hamka, kemenangan butuh kesabaran, keteguhan hati, dan tidak merasa pernah kalah (2003: 946).
Tak Gentar
Sejumlah ayat menjelaskan tentang peristiwa penting setelah Perang Uhud. Tiga ayat berikut, yaitu QS Ali-’Imraan [3]: 172-174 memberikan gambaran bahwa Allah ”Tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”. Siapa mereka?
”(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar” (ayat 172).
”(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ’Sesungguhnya manusia (orang Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ’Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (ayat 173).
”Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (ayat 174).
Mari ikuti uraian Hamka di Tafsir Al-Azhar. Saat Abu Sufyan akan meninggalkan medan Perang Uhud, dia berkata kepada Rasulullah Saw, bahwa dia akan datang lagi ke Padang Badar pada tahun depan. Ancaman angkuhnya ini disambut baik oleh Rasulullah Saw, “Kita akan bertemu di sana tahun depan insya Allah”.
Setelah itu, sesuai tantangannya sendiri, keluarlah Abu Sufyan dengan Angkatan Perang musyrikin pada tahun yang dijanjikan. Sampai di suatu tempat bernama Mujinnah dekat Murruzh-Zharan timbul rasa gentar Abu Sufyan yang akan berhadapan dengan Nabi Saw.
Abu Sufyan berhenti. Dia ragu-ragu. Pada waktu itu bertemulah dia dengan Nu’aim bin Mas’ud yang akan ke Madinah.
Abu Sufyan berkata kepada Nu’aim bin Mas’ud, bahwa dia berjanji kepada Muhammad dan sahabat-sahabatnya akan bertemu tahun ini di Badar. Hanya saja, dia sekarang akan kembali ke Mekkah tetapi merasa tidak enak kalau Muhammad keluar menepati janjinya sedang dirinya tidak datang. Tentu, hal yang demikian menambah keberanian mereka.
”Oleh sebab itu aku minta engkau pergi ke Madinah dan engkau takut-takuti mereka sampai mereka tidak jadi pergi ke Badar. Katakan bahwa Quraisy akan datang dengan tentara besar. Atas jasamu itu aku beri engkau hadiah 10 ekor unta,” kata Abu Sufyan.
Sesampai di Madinah, Nu’aim bin Mas’ud menyampaikan hal seperti yang diminta Abu Sufyan. Dia takut-takuti orang beriman di Madinah bahwa tidak seorangpun dari mereka yang akan selamat dari tangan Quraisy yang kekuatannya besar. Nyaris intimidasi yang dibawa Nu’aim bin Mas’ud berpengaruh kepada beberapa orang Sahabat Nabi Saw.
Melihat hal itu, dikumpulkanlah mereka dan Rasulullah Saw bersabda, ”Demi Allah aku akan pergi ke Badar walaupun sendirian”. Mendengar perkataan Nabi Saw yang seperti itu, hilanglah segala keraguan dan kecemasan para Sahabat. Lalu, bersama 70 orang, Nabi Saw berangkat sambil bersama-sama mengucapkan Hasbunallah wa Ni’mal Wakil / Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung (2003: 993-994). Kejadian inilah yang menjadi sebab turunnya ayat.
Para Sahabat bersemangat setelah mendengar ucapan pemimpinnya, bahwa Nabi Saw akan pergi ke Badar memenuhi tantangan musuh itu walaupun sendirian. Artinya, ancaman dan gertakan musuh tidak melemahkan para Sahabat, malah menambah iman mereka. Apa yang harus kita takutkan? ”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung,” demikian ujung ayat 173.
Pihak yang patah semangat bukan Nabi Saw dan para Sahabat, melainkan Abu Sufyan. Nabi Saw dengan 70 orang Sahabat terus pergi ke Badar dengan tidak memperdulikan gertakan musuh. Mereka berserah diri kepada Allah, karena cukuplah kepada Allah kita berlindung dan bertawakkal.
Tiada Lawan
Sesampai di Badar tak seorangpun orang Quraisy yang hadir. Abu Sufyan, setelah ”menugasi” Nu’aim bin Mas’ud untuk menakuti-nakuti kaum beriman di Madinah, malah dialah yang terlebih dahulu meninggalkan Badar dan pulang ke Mekkah. Padahal, angkatan perang yang disiapkannya 1000 orang tentara (2003: 995).
Fakta tentang sikap Abu Sufyan itu, yang mengundurkan diri dari Badar sebelum Nabi Saw datang bersama 70 orang pahlawan yang berani mati, segera tersebar di seluruh tanah Arab. Bertambah jatuhlah mutu mereka dalam pandangan sesama bangsa Arab.
Tinggallah Rasulullah Saw dengan ke-70 orang pasukannya di Badar beberapa hari. Bukan untuk berperang, melainkan untuk berniaga. Mereka berjual-beli dengan penduduk pedalaman tanah Arab.
Kemudian mereka pulang ke Madinah dengan gembira karena laba perniagaan yang tidak disangka-sangka. Semula akan berperang, malah yang dijalankan adalah perniagaan yang menguntungkan. Hal ini, diungkap QS Ali-’Imran [3]: 174 yang artinya, ”Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.
Ibrahim As, Juga!
Mari lengkapi dengan Tafsir Ibnu Katsir. Buka, misalnya, di aplikasi Quran Indonesia. Buka tafsir QS Ali ’Imran [3]: 173. Berikut ini sebagian petikannya.
Setelah Perang Uhud, kaum Muslimin ditakut-takuti bahwa akan ada pasukan yang sangat besar. Terkait, kaum Muslimin tak menghiraukannya. Mereka tawakkal dengan tetap berada di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Mereka berucap, Hasbunallah wa Ni’mal Wakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung). Sementara, jauh sebelumnya, Hasbunallah wa Ni’mal Wakil juga dibaca oleh Nabi Ibrahim As ketika dilemparkan ke dalam api.
Jadi, mari teladani Nabi Muhammad Saw. Ikuti Nabi Ibrahim As. Amalkan bacaan Hasbunallah wa Ni’mal Wakil. Alhamdulillah, Allahu Akbar. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
