Menjaga Kesatuan di Rumah Allah: Ta’awun sebagai Pilar Pengelolaan Masjid

Oleh Nur Adi Septanto, Pengurus DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Bangil – Masjid bukan sekadar bangunan. Ia adalah jantung peradaban Islam. Dari sanalah iman ditumbuhkan, ilmu disebarkan, dan ukhuwah dipererat. Namun di balik bangunan yang kokoh, ada satu hal yang lebih menentukan: kesatuan hati para pengelolanya.

Dalam konteks masjid yang berada di bawah naungan yayasan, sering kali muncul potensi gesekan yang tidak perlu. Pembina, pengurus, pengawas, dan takmir memiliki peran masing-masing. Tetapi jika relasi itu dipahami dengan logika hirarki ala perusahaan—atasan dan bawahan, instruksi dan kepatuhan semata—maka ruh masjid perlahan akan memudar. Yang tersisa hanyalah struktur, bukan keberkahan.

Padahal masjid bukan korporasi. Ia adalah rumah Allah. Dan rumah Allah tidak dibangun dengan logika kekuasaan, tetapi dengan semangat ta’awun—saling menolong dalam kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini bukan hanya seruan moral, tetapi prinsip organisasi dalam Islam. Ta’awun bukan sekadar kerja sama teknis, melainkan kesadaran bahwa setiap peran adalah bagian dari ibadah. Pembina bukan untuk mengendalikan, pengurus bukan untuk mendominasi, pengawas bukan untuk mencari kesalahan, dan takmir bukan untuk berjalan sendiri. Semua berada dalam satu tujuan: memakmurkan masjid dengan amal shalih.

Sejarah memberikan teladan yang sangat jernih. Ketika Rasulullah ﷺ membangun masjid pertama di Madinah—Masjid Nabawi—tidak ada sekat struktural yang kaku. Beliau sendiri mengangkat batu, bekerja bersama para sahabat. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali—semuanya terlibat. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, tidak ada yang menuntut dihormati karena jabatan.

Masjid itu dibangun dengan tangan, tetapi ditegakkan dengan hati.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa memakmurkan masjid bukan hanya membangun fisiknya, tetapi juga menghidupkan nilai iman, ilmu, dan kebersamaan. Dan itu hanya mungkin terjadi jika orang-orang yang terlibat memiliki keikhlasan dan persatuan.

Di sinilah letak tantangan kita hari ini.

Dalam realitas modern, pengelolaan masjid sering bersentuhan dengan aspek legal formal: yayasan, administrasi, regulasi, dan tata kelola. Itu penting, tetapi tidak boleh menghilangkan ruh. Ketika struktur lebih dominan daripada ukhuwah, maka komunikasi menjadi kaku. Ketika ego lebih kuat daripada keikhlasan, maka keputusan menjadi berat. Ketika masing-masing berjalan sendiri, maka masjid kehilangan daya hidupnya.

Karena itu, diperlukan kesadaran bersama:

Bahwa pembina, pengurus, pengawas, dan takmir bukanlah posisi yang saling mengawasi secara kaku, tetapi saling melengkapi secara ihsan.


Bahwa perbedaan pandangan bukan untuk dipertajam, tetapi untuk disinergikan.
Bahwa keputusan bukan untuk memenangkan pihak tertentu, tetapi untuk menghadirkan maslahat yang lebih luas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menggambarkan bahwa kekuatan umat terletak pada keterikatan, bukan pada dominasi. Jika satu bagian melemah, bagian lain menguatkan. Jika satu bagian memiliki keterbatasan, bagian lain menyempurnakan.

Dalam konteks yayasan dan takmir masjid, ini berarti: Pembina memberi arah dengan kebijaksanaan, bukan tekanan; Pengurus menjalankan amanah dengan tanggung jawab, bukan kepentingan pribadi; Pengawas mengingatkan dengan hikmah, bukan sekadar mencari kekurangan; Takmir menghidupkan masjid dengan dedikasi, bukan berjalan sendiri tanpa koordinasi.

Ketika semua ini berjalan dalam semangat ta’awun, maka masjid akan menjadi pusat peradaban. Bukan hanya ramai kegiatan, tetapi hidup dengan keberkahan.

Sebaliknya, jika masing-masing berjalan dengan ego sektoral, maka yang terjadi adalah kelelahan kolektif. Program ada, tetapi tidak mengikat hati. Jamaah datang, tetapi tidak merasa memiliki. Bahkan bisa jadi kepercayaan umat perlahan menurun karena melihat ketidakharmonisan di dalamnya.

Padahal kepercayaan umat adalah amanah besar. Ia tidak dibangun dalam sehari, tetapi bisa runtuh karena sikap yang tidak bijak.

Maka esai ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Sebab setiap kita memiliki potensi salah. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bersama untuk kembali kepada ruh awal: bahwa kita semua sedang berkhidmat di rumah Allah.

Barangkali kita perlu bertanya pada diri sendiri:

Apakah kita hadir untuk melayani, atau ingin dilayani?
Apakah kita menjaga ukhuwah, atau justru memperlebar jarak?
Apakah kita mempermudah urusan, atau justru menambah beban?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan arah masjid ke depan.

Masjid yang besar bukan diukur dari luas bangunannya, tetapi dari luasnya hati orang-orang yang mengelolanya. Masjid yang hidup bukan karena banyaknya program, tetapi karena kuatnya kebersamaan.

Dan kebersamaan itu hanya akan tumbuh jika kita kembali kepada satu prinsip sederhana namun mendalam: ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan. Di situlah kekuatan kita. Di situlah keberkahan akan turun. #nas

Admin: Kominfo DDIIVJatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *