Dari Kegelisahan Menuju Kepastian
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam bahasa Arab, Al-Qur’an tidak pernah memilih kata secara sembarangan. Ketika ia mengatakan:
لَا رَيْبَ فِيهِ
ia tidak menggunakan kata syak, tetapi raib. Padahal keduanya sama-sama sering diterjemahkan sebagai “ragu”. Namun secara epistemologis, keduanya memiliki kedalaman makna yang berbeda.
- “شَكّ” (Syak): Keraguan Netral
Syak adalah keraguan dalam bentuk paling dasar—
ketika dua kemungkinan sama kuat, dan manusia belum memiliki kepastian.
Ia bersifat:
Netral
Wajar dalam proses berpikir
Bahkan diperlukan dalam tahap awal pencarian
Dalam kerangka Iqra’, syak justru penting.
Ia adalah pintu awal berpikir kritis.
Tanpa syak, manusia mudah jatuh pada taklid.
- “رَيْب” (Raib): Keraguan yang Mengganggu dan Menyesatkan
Berbeda dengan syak, raib bukan sekadar ragu. Ia adalah:
Keraguan yang disertai kegelisahan batin
Keraguan yang mengandung prasangka negatif
Bahkan sering mengarah pada penolakan terhadap kebenaran
Raib bukan lagi tahap mencari,
tetapi tahap menolak meski tanda sudah jelas.
- Mengapa “لَا رَيْبَ فِيهِ”, Bukan “لَا شَكّ فِيهِ”?
Ketika Al-Qur’an menyatakan:لَا رَيْبَ فِيهِ
artinya bukan sekadar “tidak ada keraguan”,
tetapi:
tidak ada kegelisahan
tidak ada kontradiksi
tidak ada celah yang menggoyahkan
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya benar,
tetapi juga menenangkan dan meneguhkan.
Jika menggunakan “syak”, maknanya hanya: “tidak diragukan secara logika.”
Namun dengan “raib”, maknanya jauh lebih dalam:
tidak mengguncang akal, tidak meresahkan hati, dan tidak menyisakan keganjilan.
DARI “SYAK” MENUJU “TANPA RAIB”
Perjalanan Epistemologi Manusia
Dalam perspektif Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, perjalanan ilmu manusia bergerak seperti ini:
Syak (ragu awal) → mendorong manusia untuk membaca (Iqra’)
Proses membaca & berpikir → menguji, memverifikasi
Kebenaran wahyu → menyingkirkan raib
Hasil akhir: “laa raiba fih” → keyakinan yang tenang dan kokoh
Artinya:
Islam tidak melarang syak
Tapi Islam menolak raib
KESIMPULAN
Syak adalah awal berpikir
Raib adalah kegagalan memahami
Wahyu membimbing manusia dari syak menuju kepastian tanpa raib
Dan di sinilah keindahan epistemologi Qur’ani:
Manusia tidak dipaksa langsung yakin—
tetapi diajak berpikir, diuji, dan dibimbing…
hingga sampai pada satu titik di mana ia berkata:
“Aku tidak lagi ragu—bukan karena aku berhenti berpikir,
tetapi karena aku telah menemukan kebenaran.”
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
