Oleh M. Anwar Djaelani, Pengurus Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Orang termulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa. Perhatikan (terjemah) ayat ini: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu” (QS Al-Hujuraat [49]: 13).
Inti dari takwa adalah berhati-hati. Hal yang utama, berhati-hati agar hidup kita selalu berpedoman kepada syariat Allah. Di antaranya, pertama, berhati-hati dalam memilih orang yang kita cinta. Kedua, berhati-hati dalam memilih kebiasaan atau kesenangan.
Yang Kita Cinta
Akhirat itu hunian yang abadi. Kelak, pada waktunya, semua akan tinggal di sana. Sementara, di akhirat hanya ada dua tempat tinggal yaitu surga dan neraka. Oleh karena itu, persiapkan diri untuk bisa di surga. Berikut ini, antara lain, dua jalan yang bisa kita pilih.
Pertama, selalu ingatlah, bahwa kelak di akhirat kita akan bersama dengan yang kita cinta. Perhatikan hadits ini: ”Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi Saw, ’Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?’ Beliau Saw berkata, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?’ Orang tersebut menjawab, ’Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya’. Beliau Saw berkata, ’Kalau begitu engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai’.” (HR Bukhari – Muslim).
Oleh sebab itu, cintailah para Nabi dan Rasul. Cintailah para penerusnya yaitu Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabiin. Cintailah para penerusnya yaitu para ulama yang hanif. Cintailah semua kaum yang beriman.
Agar cinta dan semakin cinta, di antara caranya, banyak membacalah. Sejarah dan kisah para Nabi / Rasul dan segenap penerus perjuangan dakwahnya patut kita dahulukan membacanya. Simaklah (terjemah) ayat ini: ”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS Yusuf [12]: 111).
Bersama Kebiasaan
Kedua, milikilah kebiasaan atau kesenangan yang baik. Di antara caranya, rajinlah membaca kisah-kisah para teladan. Dari sini, akan makin terasa bahwa kita harus punya keseharian yang baik seperti para teladan itu. Intinya, kita mesti memiliki kebiasaan yang Allah ridha.
Mari cermati hari-hari akhir kehidupan Hamka. Sang Ulama Besar itu wafat pada Jum’at 22 Ramadhan, 1981. Beberapa hari sebelumnya, Hamka menulis di majalah Panji Masyarakat artikel berjudul 17 Ramadhan. Isinya, mendorong kita untuk terus suka membaca dan rajin menulis (Hamka, Iman dan Amal Shaleh, 1982: 139-144).
Selanjutnya, simak pula sekadar tiga kisah menggugah berikut ini. Pertama, pada 2020 Ustadz Insan Mokoginta wafat ketika melaksanakan shalat sunnah ba’diyah maghrib di salah sebuah masjid di Tangerang – Banten. Di Hari Jum’at itu, pakar kristologi tersebut sedang dalam rangkaian berdakwah.
Kedua, pada 2021 seorang jamaah pengajian bernama Hamdan Abdat mendadak wafat usai bertanya kepada penceramah: Apakah kelak bisa bertemu Rasulullah Saw? Peristiwa itu terjadi di Masjid An-Nur Cilendek Bogor.
Ketiga, pada 2022 Ustadzah Taslimah meninggal dunia saat memimpin sebuah mata acara di pengajian di Masjid Al-Barkah As-Syafiiyah, Tebet, Jakarta Selatan. Sang Ustadzah wafat setelah membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan terhenti saat di QS Al-Baqarah [2]: 163, yang terjemahnya: ”Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa”.
Tiga kisah yang disebut terakhir di atas, mudah kita baca / tonton di internet. Sekarang, kita fokus pada kisah tentang Hamka di atas. Bahwa, sampai di dekat hari wafatnya, Hamka masih aktif mengarang / menulis. Aktivitas ini, sudah puluhan tahun menjadi kebiasaannya.
Hamka hingga menjelang meninggal dunia masih bisa menghasilkan tulisan. Menulis, bagi Hamka, telah menjadi keseharian. Sementara, hasil tulisannya, sangat bermanfaat untuk dakwah.
Dengan demikian, kita perlu memiliki kebiasaan yang baik. Kita harus punya keseharian yang Allah suka. Semoga dengan cara itu, kelak Allah wafatkan kita di saat sedang dalam posisi yang Allah ridha.
Di dalam hal ini, kita lalu ingat ungkapan masyhur ini: “Siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, dia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut”. Asal ungkapan ini ada di Tafsir Ibnu Katsir saat menelaah QS Ali ’Imraan [3]: 102 yang terjemahnya: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
Saat menjelaskan QS Ali ’Imraan [3]: 102 itu, Ibnu Katsir menulis: ”Barang siapa yang hidup menjalani suatu hal, maka dia pasti mati dalam keadaan berpegang kepada hal itu. Barang siapa yang mati dalam keadaan berpegang kepada suatu hal, maka kelak dia dibangkitkan dalam keadaan tersebut. Kami berlindung kepada Allah dari kebalikan hal tersebut” (www.ibnukatsironline.com/2015/04/tafsir-surat-ali-imran-ayat-102-103.html).
Untuk menguatkan pemahaman, berikut ini kata Ustadz Adi Hidayat di salah satu ceramahnya. Bahwa, setiap orang akan wafat sesuai kebiasaannya. Terkait, beliau lalu menyampaikan kisah mengharukan dan baru saja terjadi kala itu. Berikut ini petikannya.
Ketika itu, pada 2018, Ustadz Adi Hidayat baru tiba di sebuah masjid (tempat dia akan berceramah) untuk menunaikan shalat subuh. Di pintu masjid, ada yang menyampaikan, bahwa seorang yang berusia 65 tahun dan istiqomah menunaikan shalat lima waktu di masjid itu, terkena serangan jantung.
Orang yang dimaksud tergeletak di masjid. Lalu, diusahakan pertolongan yang pertama. Namun Allah lebih sayang kepadanya, dia wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Ustadz Adi Hidayat melanjutkan, bahwa wafat seperti itu sangat tidak mudah untuk mendapatkannya. Wafat di masjid dalam keadaan yang terbaik yaitu saat akan menunaikan shalat subuh. Sementara, shalat subuh langsung disaksikan oleh Allah dan seluruh malaikat (https://www.youtube.com/watch?v=Cm_VyCLI0Co).
Dari Pembiasaan
Kepada segenap kaum beriman yang sangat berharap nanti tinggal di surga, pertama, berhati-hatilah terutama dalam memilih orang-orang yang kita cinta. Kita harus mencintai orang-orang yang sekiranya kelak bisa tetap bersama di akhirat, yaitu di surga.
Kedua, berhati-hatilah dalam memilih kebiasaan atau kesenangan. Pastikan kita memiliki kebiasaan yang baik, sedemikian rupa di hari-hari akhir kehidupan kita kebiasaan baik itu pula yang akan kita lakukan. Terkait, resapkanlah nasihat Ustadz Adi Hidayat ini: ”Biasakan yang baik-baik karena dengan itu kita akan diwafatkan”. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syurb
