Artikel Terbaru ke-2.251
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Dewandakwahjatim.com, Depok - Ulama terkemuka Indonesia, Buya Hamka, dalam artikelnya berjudul “Urat Tunggang Pancasila”, pernah mengingatkan: “Pancasila sebagai Filsafat Negara Indonesia, akan hidup dengan suburnya dan dapat terjamin, sekiranya kaum Muslimin sungguh-sungguh memahamkan agamanya, sehingga agama menjadi pandangan dan mempengaruhi seluruh langkah hidupnya … Maka untuk menjamin Pancasila marilah kita bangsa Indonesia yang mengakui Allah sebagai Tuhannya, dan Muhammad sebagai Rasul, bersama-sama menghidupkan agama Islam dalam masyarakat kita.” (Lihat: Hamka, Urat Tunggang Pancasila, Jakarta: Media Dakwah, 1985).
Itulah saran Buya Hamka yang sangat tegas! Bahwa, Pancasila akan hidup subur dan terjamin jika umat Islam Indonesia bersungguh-sungguh memahami ajaran agamanya dan menjadikannya sebagai pandangan hidup yang mempengaruhi seluruh langkah hidupnya.
Buya Hamka adalah ulama besar Muhammadiyah. Kita bersyukur, beberapa kali jabatan Menteri Pendidikan diamanahkan kepada tokoh-tokoh Muhammadiyah, seperti Prof. Malik Fajar, Prof. Yahya Muhaimin, Prof. Bambang Sudibyo, Prof. Muhadjir Effendy, dan Prof. Abdul Mu’ty. Para Menteri Pendidikan tersebut mendapat kesempatan dan peluang besar untuk menerapkan konsep pendidikan yang sejalan dengan UUD 1945 dan juga sejalan dengan pandangan Buya Hamka tersebut.
Pancasila sebagai dasar negara telah diterima oleh seluruh rakyat Indonesia. Bahwa, makna sila ketuhanan Yang Maha Esa adalah tauhid menurut ajaran Islam. Sila pertama itu juga menjiwai sila-sila lainnya. Kemanusiaan yang harus diwujudkan di Indonesia adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Rakyat Indonesia harus dipimpin oleh hikmah dan tujuan bernegara adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mewujudkan tujuan bernegara itu, tentulah umat Islam meyakini, bahwa hanya dengan mengikuti tuntunan Tuhan Yang Maha Esa, maka bangsa Indonesia akan meraih kejayaannya. Yakni, menjadi negeri yang adil dan makmur dalam naungan ridho Ilahi. Presiden Prabowo pernah menyebut secara literal istilah baldatun thayibatun wa-rabbun ghafur.
Nah, untuk mewujudkan kejayaan Indonesia itu, yang pertama kali harus dibangun adalah manusianya. Inilah poin terpenting yang harusnya dilakukan oleh pemerintah. Yakni, bangunlah manusia Indonesia menjadi manusia yang unggul. Caranya sudah disebutkan dalam lagu Indonesia Raya: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!
Sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945, bahkan bertahun-tahun sebelumnya, sudah banyak tokoh bangsa yang mengingatkan, kalau Indonesia mau hebat, bangunlah manusianya agar menjadi manusia yang baik. Dan itu harus dilakukan melalui pendidikan!
Itulah yang dinasehatkan oleh Buya Hamka, Mohammad Natsir, dan sebagainya. Ikutilah tuntunan Ilahi. Apalagi, dalam program pendidikan nasional yang sudah ditegaskan, bahwa pendidikan itu harus melahirkan manusia yang beriman bertaqwa dan berakhlak mulia! Kurang apa lagi jelasnya perintah konstitusi itu?
Kita berharap, kementerian pendidikan dasar, menengah, sampai tinggi, berkenan menjalankan amanah konstitusi tersebut. Dan lebih dari itu semua, amanah pendidikan itu juga amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Panduan dan contohnya jelas. Nabi Muhammad saw sudah memberi contoh terbaik dalam mendidik masyarakatnya, sehingga menjadi manusia-manusia terbaik. “Khairun naas, qarniy,” begitu kata Nabi saw.
Rasulullah saw juga mengingatkan kita semua, bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam! (fal-yaqul khairan auw li-yasmut). Jika perintah Nabi itu diterapkan untuk pemerintah, maka pemerintah wajib membuat kebijakan yang baik atau tidak menghalang-halangi umat Islam untuk menjalankan agamanya dalam berbagai bidang kehidupan.
Konstitusi kita sudah
mengamanahkan agar pemerintah menjalankan pendidikan yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia. Itu kewajiban pemerintah. Jangan sampai ada pemikiran bahwa Indonesia bukan negara agama, sehingga ajaran-ajaran agama tidak boleh diterapkan oleh negara dalam bidang apa saja.
Ini pemikiran yang keliru! Sebab, Indonesia sudah menegaskan negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa adalah Allah – sebagaimana ditegaskan dalam paragraf ketiga Pembukaan UUD 1945. Jangan sampai ada manusia Indonesia yang berani menyatakan, bahwa ajaran-ajaran Tuhan Yang Maha Esa itu tidak cocok diterapkan di Indonesia.
Jadi, sebagai muslim — baik rakyat atau pemerintah – kita patut merenungkan nasehat Buya Hamka. Bahwa, Pancasila akan hidup subur dan terjamin jika umat Islam Indonesia bersungguh-sungguh memahami ajaran agamanya dan menjadikannya sebagai pandangan hidup yang mempengaruhi seluruh langkah hidupnya. Semoga Allah melindungi dan membimbing para pemipin kita. Amin. (Depok, 19 Juni 2025).
Admin: Kominfo DFII Jatim
Editor: Sudono Syueb
