Oleh Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, hasan)
Hidup Bukan Sekadar Eksistensi
Banyak orang hidup, tapi tidak benar-benar menghidupi hidupnya. Ia bernapas, makan, bekerja, dan berjalan di muka bumi—tapi tidak meninggalkan jejak manfaat. Padahal, ukuran kebaikan seorang manusia di mata Allah, bukan pada banyaknya followers, gelar, jabatan, atau kekayaan, tapi seberapa besar manfaat yang ia tebarkan kepada orang lain.
Rasulullah ﷺ tidak berkata: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling rajin ibadahnya,” atau “yang paling banyak hartanya,”—meski itu semua baik. Tapi yang paling tinggi nilainya adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Inilah hakikat eksistensi seorang mukmin: menjadi sumber kebaikan, bukan hanya pengumpul kebaikan untuk diri sendiri.
Menjadi “Anfa’uhum linnas” dalam Kehidupan Sehari-hari
Hadits ini sederhana, tapi luas maknanya dan mendalam filosofi hidupnya. Ia mendorong kita untuk tidak egois dalam amal, tidak individualis dalam ibadah, dan tidak eksklusif dalam kebaikan.
Menjadi “anfa’uhum linnas” (paling bermanfaat bagi manusia) bisa dalam banyak bentuk:
Seorang guru yang tulus mencerdaskan muridnya.
Seorang pedagang yang jujur, tidak curang, dan memberi harga adil.
Seorang tetangga yang ramah dan ringan tangan membantu.
Seorang pekerja yang disiplin dan tidak menyusahkan tim.
Seorang pelajar yang menyebarkan ilmu dengan rendah hati.
Bahkan senyuman yang menenangkan hati orang lain pun termasuk manfaat.
Kata anfauhum (yang paling bermanfaat) bersifat umum—artinya bisa dilakukan oleh siapa saja, dari profesi apa saja, di tempat mana saja.
Hidup yang Berdampak = Hidup yang Berarti
Ada perbedaan antara orang besar dan orang hebat.
Orang hebat dikenal karena prestasinya. Orang besar dikenang karena manfaatnya.
Banyak tokoh hebat hilang dalam sejarah karena hanya membangun diri sendiri. Tapi tokoh yang bermanfaat—meski tanpa panggung—namanya tetap hidup di hati manusia. Karena manfaat itu abadi, sedangkan popularitas itu sementara.
“Jadilah seperti mata air di padang gersang, yang hadirnya menghidupkan sekitarnya.”
Maka, jangan terlalu sibuk memoles diri agar dianggap baik, sibukkan diri agar bermanfaat.
Manfaat yang Diniatkan Karena Allah: Amal Jariyah yang Abadi
Manfaat paling berharga adalah manfaat yang diniatkan karena Allah. Karena di situlah letak keberkahan dan keabadiannya. Bahkan jika kita sudah tiada, manfaat itu akan terus mengalir sebagai pahala jariyah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Lihatlah, semua itu tentang manfaat yang ditinggalkan.
Akhlak Sosial Seorang Mukmin: Menjadi Penyejuk, Bukan Penyulut
Seorang mukmin sejati tidak hanya baik secara ritual, tapi juga baik secara sosial. Ia tidak hanya shalat tepat waktu, tapi juga hadir sebagai solusi dalam kehidupan orang lain.
Ia tidak menyebar gosip, tapi menutup aib orang lain. Ia tidak menyulut konflik, tapi mendamaikan. Ia tidak egois, tapi selalu memikirkan dampak tindakannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
المُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ
“Seorang mukmin adalah yang membuat orang lain merasa aman terhadap harta dan jiwanya.” (HR. Ahmad)
Akhir Zaman: Banyak Amal Tapi Tak Bermanfaat
Di zaman ini, banyak yang sibuk mengejar validasi, tapi lupa memberi manfaat. Padahal, ukuran Allah bukan seberapa viral, tapi seberapa berdampak amalmu terhadap umat.
Sebaik-baik amal bukan hanya yang besar dan megah, tapi yang ikhlas dan tulus, yang membawa kebaikan bagi sekitar.
Mulailah dari yang Kecil, Asal Bermanfaat
Jangan tunggu kaya untuk berbagi. Jangan tunggu terkenal untuk memberi. Jangan tunggu sempurna untuk membantu.
Mulailah dari hal kecil:
Bantu tetangga yang kesusahan.
Bagikan ilmu kepada yang butuh.
Sapa teman yang sedang lemah.
Doakan diam-diam orang yang sedang diuji.
Karena bisa jadi, satu kebaikan kecilmu hari ini, menjadi penentu besok kamu diselamatkan di akhirat.
“Jangan tanya hidup ini untuk apa, tapi tanyakan: Aku ini untuk siapa?” Karena jawaban dari pertanyaan itu menentukan makna sejati dari keberadaanmu.
Jika kamu siap menjadi manusia paling baik versi Rasulullah, jangan kejar pujian manusia, tapi jadilah manfaat bagi mereka.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
