MENGENALKAN WORLDVIEW ISLAM DALAM KHUTBAH IDUL FITHRI

Artikel ke-1.859
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok – Pada 1 Syawal 1445 Hijriah, saya mendapat jadwal khutbah Idul Fithri di Grand Depok City (GDC), Kota Depok. Pelaksananya adalah Forum Silaturrahim Masjid se-GDC yang jumlahnya mencapai 14 masjid. Seperti biasa, shalat Id dilakukan di Jalan Boulevard Raya, yaitu jalan utama Komplek GDC. Ribuan jamaah memenuhi arena shalat.

Alhamdulillah, pagi itu cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang. Panitia tidak membatasi durasi Khutbah Idul Fithri. ”Tolong dilihat saja Ustadz, kalau jamaah sudah gelisah dan banyak yang mulai beranjak pergi, itulah saatnya dihentikan,” begitu pesan ketua panitia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, teks khutbah sudah saya serahkan ke panitia sehari sebelumnya. Tapi, saya biasa khutbah tidak membaca teks. Saya hanya menulis beberapa poin yang perlu disampaikan kepada jamaah yang sekilas tampak sangat beragam kondisinya.

Tema umumnya adalah bagaimana mempertahankan worldview Islam pasca Ramadhan, agar buah pendidikan Ramadhan tidak tergerus kembali. Kita sudah meraih kemenangan. InsyaAllah, derajat taqwa kita meningkat. Visi keakhiratan kita semakin menguat. Kita memandang dunia ini bukan akhir perjalanan hidup kita. Tapi, dunia ini hanya jembatan menuju kampung kehidupan abadi, yaitu kampung akhirat.
Worldview Islam memiliki perbedaan mendasar dengan worldview sekuler yang mengabaikan visi akhirat. Dunia dipandang sebagai tujuan akhir. Semboyan orang sekuler adalah ”carpe diem”! Nikmatilah hari ini! Hidup adalah untuk mengejar syahwat satu ke syahwat lainnya.

Karena itulah kenikmatan tertinggi yang mereka kejar adalah kenikmatan (syahwat) inderawi. Hiburan kehidupan mereka adalah seputar syahwat kekuasaan, harta, seksual, makanan, musik, dan pemandangan indah. Semua itu dieksploitasi dengan segala daya upaya sehingga tampak indah dan menggiurkan.
Nah, selama Ramadhan, kita dididik untuk memiliki cara pandang yang berbeda dengan kaum sekuler. Cara pandang dan perbuatan kita telah berubah, karena worldview kita memasukkan dimensi ukhrawi dan meta-fisika dalam melihat realitas.

Jika puasa kita berhasil, maka kita memiliki worldview yang menempatkan taqwa sebagai aspek terpenting dalam menilai kemuliaan seseorang. ”Yang paling mulia diantara kamu adalah yang bertaqwa!” Begitu yang Allah tegaskan dalam al-Quran.
Kepada ribuan jamaah shalat Idul Fithri yang sedang menikmati nyamannya terik matahari pagi, saya ingatkan lagi, bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang bertaqwa kepada Allah. Orang dikatakan sukses jika menjadi orang taqwa. Sekaya apa pun dia, setinggi apa pun jabatannya, jika ia tidak beriman dan durhaka kepada Tuhannya, maka ia sejatinya manusia hina.
Begitu juga dalam memahami lembaga pendidikan. Jangan sampai memuji-muji dan berbangga ria dengan sekolah atau universitas yang tidak mendidik mahasiswanya menjadi manusia yang bertaqwa. Sebab, al-Quran sudah menggariskan, bahwa manusia yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Negara yang paling maju dan paling sukses adalah negara yang penduduknya beriman dan bertaqwa (QS al-A’raf: 96).
Karena itulah, untuk menilai kemajuan suatu daerah atau suatu negara, sepatutnya indikator ketaqwaan dijadikan sebagai acuan utama. Kota Depok, misalnya, kita katakan maju jika jumlah orang yang shalat lima waktu terus meningkat dari tahun ke tahun; jika angka buta huruf al-Quran semakin menurun; jumlah yang melaksanakan shalat tahajud semakin bertambah; jumlah yang membayar zakat makin banyak, dan sebagainya.

Jadi, kemajuan yang utama adalah kemajuan manusianya. Yakni, penduduk Kota Depok semakin meningkat derajat taqwanya. Pemimpin terbaik adalah pemimpin yang memiliki program pembangunan ketaqwaan bagi rakyatnya. Jika pemimpin dan rakyatnya bertaqwa, pastilah daerah atau negara itu akan menjadi makmur. Itulah janji Allah SWT kepada kita semua.

Hal ini sebenarnya sangat logis. Buah dari ketaqwaan adalah akhlak mulia. Jika pemimpin dan rakyat memiliki sifat-sifat jujur, pekerja keras, tidak malas, tidak lemah, pemberani, tidak sombong, tidak bakhil, tidak pendengki, adil, cinta ilmu, dan sifat-sifat mulia lainnya, maka mereka akan menjadi manusia-manusia terbaik.
Itulah sifat-sifat yang dimiliki oleh generasi terbaik yang pernah dilahirkan oleh Rasulullah saw, yang beliau sebut: ”khairun naas, qarniy…”. Manusia-manusia terbaik adalah zamanku ini. Begitu kata Rasulullah saw.

Agar jamaah shalat Id lebih paham pentingnya kesuksesan dengan taqwa dan akhlak mulia, saya sampaikan contoh satu negara, yakni Finlandia, yang sukses menerapkan pendidikan kejujuran. Dengan tertanamnya sifat jujur di tengah masyarakat, maka muncullah trust!
Masyarakat saling percaya satu sama lain. Pemerintah dan rakyat saling percaya. Begitu pula guru dan murid, dosen dan mahasiswa, suami dan istri, anak dan orang tua. Hidup mereka menjadi nyaman dan tidak saling curiga, apalagi saling menghujat satu dengan lainnya. Umat Islam harusnya menjadi umat yang paling jujur. Sebab, umat Islam memiliki suri teladan yang terbaik dan sempurna dalam soal kejujuran.

Demikianlah petikan khutbah Idul Fithri di GDC Depok, pada 1 Syawal 1445 Hijriah. Sekitar pkl 07.30, sengatan cahaya matahari mulai terasa. Meskipun jamaah masih tampak duduk tenang, saya mengakhiri khutbah dengan doa. Semoga kita semua meraih sukses dalam ibadah Ramadhan dan naiklah derajat taqwa kita, sehingga kita semakin mulia dan bahagia. Amin. (Depok, 10 April 2024).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Ainur Rofik Sophiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *