Ketika Kesombongan Ilmu Dipatahkan oleh “Alaq”
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Setelah perintah “Iqra’”, wahyu tidak langsung berbicara tentang teori, logika, atau metode ilmiah. Justru ia menghantam kesadaran manusia dari titik paling mendasar:
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
“Dia menciptakan manusia dari segumpal ‘alaq.”
Ayat ini bukan sekadar informasi biologis. Ia adalah tamparan epistemologis.
Manusia yang baru saja diperintahkan untuk membaca—langsung diingatkan:
jangan sombong dengan akalmu.
jangan angkuh dengan ilmumu.
asalmu hanya dari sesuatu yang hina, kecil, dan bergantung.
Di sinilah letak kedalaman epistemologi Qur’ani sebagaimana ditegaskan dalam buku Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia: bahwa proses mengetahui tidak boleh melahirkan kesombongan, tetapi justru kesadaran diri. Semakin manusia membaca, seharusnya semakin ia sadar siapa dirinya—makhluk lemah yang diberi anugerah akal, bukan pemilik kebenaran mutlak.
“Alaq” adalah simbol keterikatan dan ketergantungan. Artinya, sejak awal manusia tidak pernah benar-benar mandiri. Maka ketika hari ini manusia merasa cukup dengan akalnya, merasa bisa menentukan kebenaran tanpa wahyu, di situlah ia jatuh kembali ke dalam jahiliyah—bahkan dalam bentuk yang lebih berbahaya: jahiliyah yang merasa dirinya tercerahkan.
Inilah kritik paling tajam terhadap manusia modern. Kita membaca alam dan berhasil menciptakan teknologi. Kita mengembangkan ilmu dan membangun peradaban. Tapi kita lupa membaca asal-usul diri. Kita lupa bahwa kecerdasan kita bukan milik kita, tapi titipan. Akibatnya, ilmu berubah menjadi alat kesombongan, bukan jalan menuju kebenaran.
Padahal urutannya jelas:
Iqra’, lalu sadar “khalaqal insaan min ‘alaq”.
Artinya, membaca harus melahirkan kesadaran, bukan keangkuhan. Ilmu harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual.
Jika tidak, maka yang terjadi hari ini sangat jelas: manusia merasa seperti pencipta, padahal ia hanya ciptaan.
Dan di titik itu, seluruh kecerdasan berubah menjadi ilusi.
Maka epistemologi Qur’ani bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia mengetahui, tetapi juga mengajari manusia agar tidak tersesat oleh apa yang ia ketahui.
Karena bisa jadi, yang paling berbahaya bukan orang yang tidak tahu—
tetapi orang yang tahu banyak, namun lupa dari mana ia berasal.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
