SEMOGA KH AHMAD DAHLAN TERSENYUMMELIHAT GURU-GURU KITA

Artikel ke-1.814
Oleh: Dr Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Dewandakwahjatim.com, Depok - Pada 13 Februari 2024, Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor meluluskan seorang Doktor Pendidikan yang mumpuni. Ia lulus dengan predikat cum laude dan disertasi yang sangat baik. Disertasi ini juga memberi kontribusi penting dalam pendidikan guru di Indonesia. Judulnya: Konsep Pendidikan Guru Menurut KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara. 
Dr. Syahrul adalah doktor lulusan Program Kader Ulama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Sebelum lulus doktor, ia telah cukup kenyang makan asam garam pendidikan. Selain menjadi guru selama beberapa tahun, lulusan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) ini juga pernah memimpin satu pesantren di Jawa Tengah.

Dalam disertasinya, Dr. Syahrul menekankan  pentingnya eksistensi seorang guru yang memiliki integritas dan kematangan personal. Imam al-Ghazali menyebutkan tugas utama guru adalah menyempurnakan, membersihkan, dan menyucikan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T.

Tugas yang diembannya hampir sama dengan tugas seorang rasul. “Berdasarkan pandangan ini, kita dapat memahami bahwa tugas seorang guru merupakan pewaris para nabi (warasat al-anbiyȃ’), yang sejatinya membawa misi rahmatan lil-‘ȃlamîn, untuk memberikan rahmat kepada seluruh alam semesta,” ujarnya.


Dalam pepatah jawa, guru adalah sosok yang digugu omongane, lan ditiru kelakuane, artinya sosok yang dipercaya ucapannya dan ditiru tingkah lakunya. Sehingga menyandang status sebagai guru tidaklah mudah dan harus menjaga citra, wibawa, keteladanan, integritas, dan kredibilitasnya. Guru tidak hanya identik dengan mengajar di ruang-ruang kelas, tetapi juga harus melaksanakan peran mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, dan membentuk moral serta karakter yang baik bagi murid-muridnya.


K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) dan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959) adalah teladan sebagai guru dan teladan pula dalam pendidikan guru. Mereka hidup pada zaman yang ditandai dengan kondisi sosial masyarakat yang terjajah dan terpuruk, di mana pendidikan yang ada cenderung diskriminatif dan sekuler. Namun, mereka berdua melakukan gerakan perlawanan melalui pendidikan. Mereka sadar akan pentingnya pendidikan dalam membebaskan bangsa dari penjajahan dan mencapai kemajuan peradaban sangatlah tinggi.
Kedua tokoh pendidikan ini menunjukkan kematangan kepribadian sebagai pendidik/guru. Mereka menyampaikan pesan-pesan pendidikan yang memiliki visi jauh ke depan. Pesan pendidikan ini berlaku bagi para guru dan pendidik saat ini maupun calon pendidik di masa mendatang. Bukan hanya sebagai guru, baik K.H. Ahmad Dahlan maupun Ki Hadjar Dewantara memiliki pandangan-pandangan tentang sosok guru yang ideal; pentingnya peran guru serta perlunya mempersiapkan guru dengan pendidikan guru yang baik.
Kedua tokoh ini memberikan contoh langsung, bagaimana melahirkan guru yang baik, melalui lembaga pendidikan. KH. Ahmad Dahlan mempersiapkan calon guru di Qismul Arqa sementara Ki Hadjar Dewantara di Taman Guru. Calon guru dididik dengan keteladanan dan keikhlasan serta memiliki jiwa mujahid yang tangguh. Guru yang kompeten yang memiliki ruh atau jiwa mendidik akan melahirkan banyak siswa yang cerdas dan berakhlak mulia bahkan melebihi kemampuan gurunya.
Hasil penelitian Dr. Syahrul menunjukkan bahwa GURU menurut KH. Ahmad Dahlan adalah sosok yang memiliki peran sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, dan pendorong yang bertindak dengan ikhlas, berakhlak mulia, berpikiran progresif, serta menjadi teladan dalam mendidik siswa agar mereka memiliki akhlak yang baik, bertakwa, kemampuan berpikir kritis, percaya diri, ahli dalam ilmu agama serta berwawasan yang luas, dan semangat untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia.
Kedua, metode pendidikan K.H. Ahmad Dahlan dapat disimpulkan dalam beberapa metode, yaitu; (1) keteladanan; (2) berbasis amal nyata (project based learning); (3) pengalaman; (4) pendidikan tekstual-kontekstual; (5) pendidikan yang menyenangkan (cerita dan bermain); (6) pendidikan hiwar (dialog kritis-reflektif); (7) pendidikan pengenalan dan kunjungan belajar.
Dr. Syahrul mengajukan gagasan, bahwa model pendidikan guru ideal di era disrupsi dimulai dari input yang terbaik dan kemudian menjalani proses pendidikan dalam sistem asrama/boarding dengan model pendidikan concurrent model dalam masa tertentu. Semua proses pendidikan yang berjalan dijiwai oleh tauhid yang diwujudkan dengan keteladanan dari semua sivitas akademika. Akhirnya, insyaAllah, proses ini akan melahirkan output sosok guru kompeten secara pribadi, pedagogik, sosial dan profesional yang siap terjun ke dalam dunia pendidikan yang terus berubah dengan sangat cepat.


Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari Disertasi Pendidikan yang ditulis Dr. Syahrul ini. Yang terpenting adalah meyakini bahwa guru adalah sosok yang mulia. Karena itu, pendidikan guru juga pendidikan yang mulia dan bernilai tinggi. Menjadi guru jangan dianggap sebagai aktivitas rendahan. Jangan sampai anak-anak pintar di sekolah-sekolah kita sendiri memandang rendah pendidikan guru, sehingga mereka enggan memasuki pendidikan guru di Fakultas Pendidikan Universitas kita.
Kita berharap, orang tua dan anak-anak muslim terbaik, memiliki cita-cita menjadi guru dan mengikuti jejak KH Ahmad Dahlan, menjadi guru pejuang sampai akhir hayat. Dan semoga KH Ahmad Dahlan tersenyum melihat guru-guru kita dan beliau bangga melihat anak-anak pintar di sekolah-sekolah kita berbondong-bondong mendaftar ke Fakultas Pendidikan kita, untuk menjadi guru-guru pejuang; sebelum mereka memilih jurusan lainnya. Amin. (Depok, 24 Februari 2024).

Admin: Kominfo DDII Jatim/ss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *