Mukmin, Janganlah Merasa Berjasa

Oleh: Ust. Muhammad Hidayatullah
Pengurus Dewan Da’wah, Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡۚ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ وَلِيُبۡلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ١٧

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al Anfal: 17)

Janganlah Merasa Berjasa

Janganlah merasa berjasa sekalipun kita telah melakukan kebaikan bagi orang lain. Ayat di atas memberikan sebuah pemahaman bahwa setiap kebaikan yang dilakukan adalah karena peran serta Allah yang dititipkan lewat perbuatan kita. Hendaknya kita tetap bersyukur dengan anugrah itu dan tidak kemudian berusaha merebut dari Allah sehingga hal itu kita kui sebagai kebaikan diri kita.

Sikap tawadlu’ dan menjauhkan dari sikap sombong dan merasa lebih dari orang merupajan ciri prinadi mukmin yang paham akan nilai keimanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Justru sikap merasa lebih hebat dan selalu terbersit minta dihargai dan dihormati adalah jebakan Iblis, turunan dari sikap ini adalah bersikap jaim dan orang lain dianggap tidak selevel, jadinya dirinya merasa lebih menjadi orang penting daripada orang lain disekitarnya.

Dalam ayat yang lain Allah mengingatkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١


Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (al Hujurat: 11)

Seruan dalam ayat di atas dikhususkan bagi orang-orang yang beriman terhadap 3 hal yaitu:

Pertama, Jangan suka merendahkan dan menertawakan orang lain, tapi bangunkan semangat untuk terus dapat mengubah dirinya menjadi lebih baik jika didapati ada kekurangan, bisa jadi malah sebaliknya, mereka lebih baik dari yang mengejek dan menertawakan. Hal Ini berlaku baik bagi kaum laki-laki maupun kaum Wanita.

Kedua, jangan suka mencela diri-sendiri karena dengan mencela diri sendiri tanda mudah berputus asa, sikap putus asa hanyalah dimiliki oleh orang yang ingkar terhadap kasih sayang Allah kepadanya, padahal kasih sayang Allah tidak bertepi. Jadi setiap diri harus terus membangun sikap positif pada dirinya sembari terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah dengan sikap mental bertawakkal kepada Allah dengan sebena-benarnya bertawakkal.

Ketiga, jangan suka atau mebiasakan diri untuk memberikan julukan atau memanggil orang lain dengan menjelekkannya atau mengandung ejekan, bisa jadi ia tetap terima panggilan itu akan tetapi di hatinya sebenarnya ia tidak rela dengan panggilan itu. Dalam hal ini Allah mengingatkan kita agar tidak ada kesombongan dalam setiap diri ini dengan memanggil orang lain dengan panggilan yang menunjukkan kita jmerasa lebih mulia darinya.


Sehingga persoalannya bukan pada yang dipanggil, akan tetapi subyeknya adalah diri kita jangan merasa lebih mulia dari orang lain sekalipun orang itu adalah orang yang di bawah kita dalam bebagai sudut pandang. Merasa mulia adalah jebakan Iblis untuk kita mengikuti jejaknya. Sungguh diri ini janganlan merasa berjasa walalupun kita telah melakukan kebaikan bagi orang lain, karena hakekat kebaikan yang kita lakukan adalah atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidak ada yang patut kita sombongkan atau banggakan. Allah memberikan ancaman bagi mereka yang tidak mau bertobat.

Larangan Melakukan Perbuatan Tercela

عن عائشة رضي الله عنها قالت, قال لي رسول الله صلى الله عليه و سلم: يا عائشةُ إياكِ ومحقَّراتِ الأعمالِ فإنَّ لها من اللهِ طالبًا. رواه ابن ماجه

Dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadaku: “Hai Aisyah, jauhilah olehmu perbuatan-perbuatan tercela, karena perbuatan-perbuatan itu akan dituntut oleh Allah” (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadits di atas Rasulullah memberikan nasehat kepada istri beliua agar menghindari perbuatan tercela. Di antara perbuatan tercela adalah melakukan tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan bagi orang lain, atau malah dengan sengaja meremehkan dan menjatuhkan orang lain. Sungguh tidaklah menjadi mulai orang yang berusaha menjatuhkan orang lain karena ambisinya yang terpendam, justru ia telah menunjukkan kepada orang lain akan buruknya sifat pribadi dirinya sendiri.

Di antara perbuatan yang tercela adalah nge-prank. Nge-prank dalam istilah sekarang adalah melakukan suatu perbuatan kepada orang lain dengan maksud bercanda, akan tetapi hal itu dilakukan seolah-olah serius di awalnya, baik dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang. Tindakan ini adalah tindakan spekulatif, jika yang di-prank ikhlas mendapatkannya maka hal itu berarti masih dimaafkan, akan tetapi jika hal itu membuat perasaan yang terkena prank menjadi tersinggung karena merasa dilecehkan maka hal itu jelas dosa dan hukumnya haram.

Dalam hal bercanda hendaknya tetap tidak boleh menjadikan orang lain merasa terlecehkan, karena tindakan itu adalah tindakan yang dapat merusak hubungan persaudaraan atau persahabatan, hubungan seharusnya bisa harmonis dengan dilandasi saling mengasihi dan menyayangi menjadi retak hanya gara-gara persoalan yang sebenarnya remeh-temeh tetapi bisa menjadi hal yang seirus. Di situlah peran untuk dapat menjaga perasaan antara satu dengan lainnya menjadi keniscayaan.

Allah Maha Adil


Tidak ada perbuatan yang terlewatkan dari hisabnya Allah kelak di yaumil hisab, semua akan mendapatkan balasan secara adil, semua bentuk kedhaliman sekecil apapun akan diperlihatkan dan diberikan balasan secara adil. Demikian pula bagi kita pelaku kebaikan, tidak perlu risau dengan reaksi orang lain kepada kita, karena orientasi kita bukan pujian dan sanjungan dari orang lain, akan tetapi harapan kita adalah ridla Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitulah Allah Tuhan Yang Maha Adil, tidak ada satu perbuatanpun yang tidak akan dibalas dengan seadil-adilnya. Maka sudah sepatutnya sebagai hamba-Nya kita merasa berbahagia dengan hukum-hukum Allah, tiada terbersitpun motif keburukan dan kejahatan yang kemudian direalisasikan akan dibalas oleh Allah. CCTV Allah tembus sampai pada gerakan yang ada di dalam hati kita. Wallahu a’lam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *