Pak Zeyd Berpulang, Berbagai Kesaksian Datang!

Oleh M. Anwar Djaelani, peminat kisah tokoh dan penulis 16 buku

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Zeyd Baktir wafat pada Senin 20 Juli 2026. Saya yang mengenalnya, lalu menulis obituari Zeyd Baktir (1945-2026); Aktivis dan Tokoh Perbukuan dengan Berbagai Kebaikan. Itu, terbit di www.dewandakwahjatim.com pada 23 Juli 2026.
Intinya, Pak Zeyd (demikian saya menyapanya), adalah pribadi yang suka membantu bermacam-macam kegiatan dakwah. Bantuan itu, banyak yang terkait dengan buku karena dia pemilik Toko Buku Media Idaman – Surabaya. Di luar itu, banyak pula berbagai jenis bantuan lainnya.

Atas tulisan saya itu, lalu banyak muncul kesaksian baik terhadap Allahuyarham Pak Zeyd yang muncul. Mereka yang berkesaksian itu, terutama yang kenal langsung dan pernah berinteraksi dengan Pak Zeyd. Di samping itu, ada juga kesaksian dari pihak yang pernah atau sering berbelanja buku di toko yang dimiliki Pak Zeyd.

Pejuang Literasi

Pak Zeyd dikenal sebagai figur yang tekun di bidang perbukuan. Tentang ini, Dhimam Abror seorang jurnalis senior, adalah salah seorang yang mencatatnya. Dia sangat menghargai kegigihan Almarhum. Pak Zeyd itu, ”Sangat inspiratif, pejuang literasi sepanjang hayat,” kata lelaki yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi Jawa Pos itu.

Bagi Abror, Pak Zeyd dan Media Idaman (sebagai Toko Buku dan penerbit), tidak akan terlupakan. ”Dulu di awal 1990-an, waktu saya masih mahasiswa dan awal-awal menjadi wartawan, ada dua penerbit yang menjadi langganan saya. Mereka adalah Pak Zeyd (pemilik penerbit Media Idaman Press) dan Pak Ady Amar (pemilik penerbit Risalah Gusti). Dua-duanya menghasilkan buku-buku yang sangat berpengaruh terhadap karir saya sebagai jurnalis,” tutur kolumnis produktif ini.

Abror lalu mengenang hal penting lainnya. Ketika itu, kata dia, rubrik resensi buku di Jawa Pos sangat bergengsi. Banyak buku-buku berkualitas yang diresensi dan dijadikan bahan diskusi buku. ”Pada kesempatan seperti itulah, saya sering berinteraksi dengan Almarhum Pak Zeyd,” kata Abror.

Figur Terbuka

Pak Zeyd sosok menyenangkan. ”Almarhum sosok yang sangat baik, ramah. Asyik saat diajak ngobrol di tokonya, Media Idaman. Saya pernah memborong buku-buku menarik dari toko tersebut. Penataan tokonya sangat bagus,” kata Rosdiansyah yang seorang peneliti dan penulis.
Almarhum Pak Zeyd, ”Lugas, bicara apa adanya,” kenang Abdul Hakim yang pernah berposisi sebagai Manajer Legal Gema Insani. Pak Zeyd, ”Sangat menghargai pendapat atau sikap pihak lain yang berbeda,” tambah pria yang sekarang berkhidmat di Pondok Pesantren At-Taqwa Depok ini.

Penyokong Dakwah

Pak Zeyd dikenal sangat mudah dalam membantu kegiatan dakwah. Di titik ini, Choirul Hidayat memberikan kesaksian. Dia yang aktivis di ITS pada 1990-an punya kenangan.
”Almarhum orang baik. Dulu, kami kalau bikin acara dibolehkan oleh Pak Zeyd untuk membawa buku-buku dagangannya untuk kami jual,” kata Choirul.
Di luar itu, ”Almarhum adalah donatur tetap untuk setiap acara yang kami adakan di Masjid Manarul Ilmi – ITS,” tutur Choirul. ”Almarhum Pak Zeyd dan Almarhum Pak Tamat Anshori (pernah menjadi Ketua Dewan Da’wah Jawa Timur) adalah orang-orang di luar ITS yang sering membantu dana kegiatan dakwah kami,” kata Choirul.
Jika ke Toko Buku Media Idaman, ada nilai plus-nya. Banyak yang mengalami, pelanggan atau pengunjung yang mendapat rezeki lain. Meski sebentar, banyak di antara mereka yang berkesempatan berbincang dengan Pak Zeyd. Benar, dengan Pak Zeyd bisa ”Mengobrol sebentar di toko bukunya,” tambah Choirul.

Suka Memudahkan

Bagi rata-rata pengusaha, perputaran uang yang cepat adalah salah satu rumus yang ketat dipegang. Tapi, Pak Zeyd seperti tak peduli pada kiat itu. Banyak cerita, pelanggan dan terutama aktivis dakwah yang bisa membeli buku dengan harga yang tetap (tak dinaikkan) kemudian membayar dengan cara mencicil. Ini, terutama untuk buku atau kitab yang berharga cukup besar seperti satu set Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Misalnya, kitab itu bisa diangsur empat kali dengan harga tetap seperti jika membeli dengan tunai.

Pak Zeyd suka memberi diskon besar. Supoyo, yang tinggal di Sidoarjo, punya catatan manis. “Kami kalau membeli Al-Qur’an atau buku, dalam jumlah yang banyak. Saya dan istri termasuk pelanggan yang sering membeli Al-Qur’an dan buku di Toko Buku Media Idaman. Itu, untuk jamaah taklim di rumah dan komunitas yang lainnya. Kami ke sana karena lengkap dan terkenal murah (lewat diskon). Semoga jasa Pak Zeyd Baktir menjadi amal jariyah,” demikian Supoyo mengingat dan mendoakan tokoh yang senang memudahkan urusan orang itu.
Pak Zeyd suka membantu. Berikut ini kisah lain, dari Ainur Rofiq yang kini aktif sebagai pendidik di Pesantren eLKISI Mojokerto. Bahwa, pada sekitar 2003/2004 saat sedang aktif kuliah, dia ke Toko Buku Media Idaman mencari buku. Kala itu, dia diberi sekantong besar berisi mushaf Al-Qur’an ukuran saku, untuk dibagi-bagikan.

Pinta Indah

Demikianlah, sekadar sejumlah kesaksian atas kebaikan Pak Zeyd. Di luar itu, insya Allah sangat banyak kenangan manis yang lain. Semoga Allah limpahkan ampunan kepada Pak Zeyd. Mudah-mudahan Allah sayangi Pak Zeyd, aamiin. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Admin: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *